
Asha meneguk saliva cepat, beruntung masih sempat diteguk, terlambat sedetik saja, maka air liurnya sudah terjun bebas dari mulutnya ketika terpesona melihat tubuh kekar Usan yang dipenuhi otot-otot keras dan perkasa.
"Pria ini benar-benar sangat kuat dan buas. Sanggupkah aku bertahan? Atau kejadian pingsan seperti tiga tahun lalu akan kembali terulang lagi?" batin Asha ragu kalau dirinya akan mampu mengimbangi seorang laki-laki Hyper s*x seperti Usan. Ditambah lagi saat melihat betapa tangguhnya senjata pusaka milik Usan. Meski sebelumnya telah merasakan, tapi tetap saja Asha bergidik ngeri melihat benda besar, keras, dan panjang itu.
"Astaga, hampir sama besar dan panjangnya dengan tanganku. Makan apa pria ini? Tunggu ... Apa aku masih bisa kabur? Oh Tuhan, aku tahu kalau akan tetap akan merasakan sakit, tapi aku mohon jangan sesakit seperti sebelumnya," batin Asha berperang dengan hatinya.
Tubuh Asha bergetar kaget, ketika Usan sekejab mata sudah kembali ada di atas tubuhnya, mengukungnya hingga tak bisa kabur ke mana pun. Dengan gemasnya, Usan mere mas, dan memainkan dua gundukan kenyal milik Asha. Dua benda empuk itu adalah bagian favorit bagi Usan untuk di sentuh sekaligus dimainkan.
"Ahh ... Usan ..." Asha melenguh hebat ketika Usan tak hanya mere mas, tetapi juga memberikan tanda kepemilikan di tempat empuk itu. Usan melu mat, meng ulum, meme lintir, dan meng gigit chocochip milik Asha hingga mengeras sempurna. Sementara tangan kanannya, mulai turun ke bawah, kemudian mengusap lembut lembah indah di bawah sana.
"Akh, U-Usan!" jerit Asha kaget ketika jari tengah Usan mulai menembus intinya di bawah sana. Usan tersenyum tanpa dosa, kemudian mulai memainkan jarinya di bawah sana. Mendengar suara erotis Asha yang merdu, membuatnya merasa begitu bahagia sekaligus bangga. Beberapa menit kemudian, Asha menaikkan pinggangnya kala mendapatkan pelepasan pertamanya.
Tak menunggu tubuh Asha berhenti bergetar, Usan kembali bermain, dan kali ini dengan kehebatan lidahnya. Untuk kedua kalinya, Asha kembali meneriaki namanya dengan tubuh bergetar hebat.
"Tidak sakit lagi, kan, Sayang?" bisik Usan lembut dijawab gelengan kepala oleh Asha yang masih memejamkan matanya, mengatur napas yang terus memburu akibat ulah Usan.
"Baiklah, aku mulai, ya?" Seperti biasa Usan meminta izin, begitu Asha mengizinkan. Barulah Usan mulai memposisikan diri juga memposisikan senjatanya yang perkasa.
"Apa mereka menjahit semuanya?" kesal Usan karena geram kala inti Asha tetap saja masih sempit seperti pertama kali dulu.
"Le-lebih pe-lan la-gi," pinta Asha memeluk tubuh Usan erat.
"Tentu, Sayang," jawab Usan mengerti. Butuh waktu cukup lama, hingga pada akhirnya Usan berhasil melakukan penyatuan dengan sempurna, tanpa jeritan apalagi pekikan Asha. Yang ada hanyalah suara erostis Asha yang membuat hasratnya kian membuncah.
"Kamu baik-baik saja kan, Sayang?" tanya Usan sebelum melakukan permainan inti.
"A-aku baik-baik sa-ja ahh ..."
__ADS_1
"Baiklah aku akan mulai sekarang," ucap Usan mulai menarik kemudian menekan kembali dengan penuh kelembutan, membuat Asha kian terbuai akan kehangatan serta kenikmatan yang tiada duanya.
Malam itu, suara-suara erotis keduanya saling bersahutan. Entah sudah berapa kali keduanya mendapatkan pelapasan, tetapi tak kunjung merasa puas. Bukan hanya Usan yang ketagihan, tapi Asha juga ketagihan. Semakin lama, sakit itu semakin menghilang hingga tak lagi dia rasakan. Yang Asha inginkan hanyalah kenikmatan dan kenikmatan yang terus Usan berikan.
"Mau lagi?" entah sudah yang keberapa kalinya Usan tumbang di samping tubuh Asha.
"Lelah, sang-at le-lah," untuk kali ini, Asha benar-benar menyerah. Pinggangnya sudah mati rasa, suaranya hampir habis. Sesungguhnya Asha ingin lagi, tapi rasa ngantuk dan lelah membuatnya tak berdaya.
Usan melirik jam di dinding yang rupanya sudah menunjukkan angka tepat jam 04:12. Itu artinya sudah hampir pagi. Usan merasa sangat bersalah karena menyadari bermain terlalu lama. Melihat Asha yang tak berdaya, membuatnya merasa benar-benar tak tega. Kehangatan Asha, membuatnya lupa akan segalanya.
Tok, tok, tok ....
Suara pintu yang diketuk seseorang, membuat Asha kembali membuka matanya cepat.
"Itu pasti Lewis, tolong carikan baju untukku!" desak Asha mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang ada.
"Iya, itu kebiasaannya. Dia terbiasa bangun jam segini. Astaga, bagaimana aku bisa lupa," Asha seketika panik.
"Sebentar," balas Usan langsung turun dari ranjang. Membuka lemari, lalu mengambil sembarang piyama untuk Asha. Asha menerima dan langsung mengenakannya. Begitu pun Usan, dia juga langsung mengenakan pakaiannya.
Setelah semua beres, barulah Usan membuka pintu kamarnya. Di depan pintu sudah ada Lewis yang berdiri arogan sambil melirik jam di tangan mungilnya. "Terlalu buas," ujarnya dingin dan singkat.
"Ada apa, Sayang?" tanya Usan lembut.
"Gendong dan bawa Mommyku ke kamar tamu di bawah, aku ingin tidur bersama Mommy." titah Lewis lalu pergi begitu saja. Usan mengerjabkan matanya seakan tak percaya melihat Lewis yang berkali-kali lipat lebih arogan darinya.
"Usan!" panggil Asha dan Usan langsung datang.
__ADS_1
"Lewis ingin tidur denganku?" tanya Asha dan Usan mengangguk.
"Bantu aku berdiri," Asha membentang kedua tangannya, bukannya membantu berdiri, tapi Usan malah menggendong Asha hinga tiba di lantai dasar dan langsung menuju kamar tamu di mana Lewis berada.
"Mommy terpeleset, Sayang. Makanya Daddy yang menggendong, lihatalah kening Mommy bengkak," jelas Asha berharap Sang Putra percaya, walau Asha sangat tahu bahwa Putranya tidak akan bisa dirinya bohongi.
"Aku mengerti, Mommy kemarilah," Usan pun membaringkan Asha tepat di samping Lewis. Lewis langsung memeluk Asha erat, saat bersama Asha, dia akan langsung berubah menjadi layaknya seekor kucing yang selalu ingin disayang. Namun, tatapan lembutnya seketika sirna kala melihat Usan.
"Daddy tidur di sofa," titah Lewis membuat Usan tercengang. Usan kaget bukan karena Lewis yang memintanya untuk tidur di sofa. Malainkan terharu lantaran untuk pertama kalinya Usan Mendengar Lewis memanggilnya Daddy. Bukan lagi kau atau kamu seperti sebelumnya.
Dengan senyuman bahagianya, Usan pun langsung menuju sofa dan berbaring di sana. Beberapa menit terlelap, Usan mendengar suara Asha yang memanggil namanya pelan. Khawatir, Usan seketika bangkit dan menghampiri Asha, yang rupanya meminta dirinya untuk tidur di seranjang bersama. Usan pun berbaring di ranjang dengan senang hati.
"Kamu merindukanku, Sayang?"
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Pinggangku sangat pegal karenamu, aku tidak bisa memejamkan mata," adu Asha dengan suara berbisik.
"Aku akan memijatnya, kamu tidurlah," jawab Usan dengan tulus memijat pinggang ramping Istrinya tercinta.
Bertiga dalam satu ranjang, Asha merasa benar-benar bahagia karena pada akhirnya telah memiliki keluarga yang utuh. Walau sudah berkumpul dengan pria yang dicinta dan Putra belahan jiwanya. Entah kenapa Asha merasa masih ada yang kurang dari kebahagiaannya. Apa itu? Entahlah Asha tak ingin terlalu memikirkannya. Yang terpenting saat ini adalah, dia harus bahagia. Karena seluruh kesedihan dalam hidupnya sudah berhasil Asha lewati. Kini, hanya tinggal kebahagiaan yang akan menemani hari-hari berikutnya.
TAMAT!
Alhamdulillah, akhrinya TAMAT juga. Terima kasih untuk semua yang telah mendukung Author dari awal sampai akhir. Ditunggu Novel terbaru Author, akan publish sebentar lagi. tapi, bukan kisah Lewis ya, kisah Lewis kemungkinan akan Publish setelah leberan haji. Sekali lagi terima kasih untuk reader tercinta semuanya. Calangeo πππππ
__ADS_1