
Karena Asha adalah tamu penting, maka Asha diantar langsung oleh pelayan menuju toilet yang berada di dapur Mansion Jonason. Sementara Usan berjalan cepat melewati ruangan demi ruangan dengan tiang-tiang tinggi dan besar di sekitarnya, hingga pada akhirnya Usan tiba di dapur.
Usan memeriksa satu persatu beberapa toilet luas yang ada di sana. Tetapi, Usan tak berhasil menemukan keberadaan Asha. Yang ada hanyalah beberapa tamu wanita yang terlihat keluar dari dalam toilet.
Begitu toilet sepi, Usan kembali masuk dan mencari-cari keberadaan Asha. Namun, lagi-lagi Usan tak berhasil menemukan Asha. "Ke mana dia? Apa sudah kembali? Tidak mungkin secepat itu," pikir Usan segera keluar dari toilet begitu tak berhasil menemukan keberadaan Asha.
Usan berdiri di depan sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. "Aku harus kembali, sepertinya Asha benar-benar telah pergi," imbuh Usan akan melangkah pergi. Namun, tubuhnya mundur beberapa langkah ke belakang setelah di tarik oleh seseorang, hingga masuk ke dalam kamar tak berpenghuni yang ada di sana.
"Kamu mencariku, Sayang," ucap seseorang yang kini mengunci tubuh Usan di dinding beton kamar itu. Kamar yang tampak bersih walau tidak berpenghuni. Biasanya kamar itu adalah salah satu kamar tamu yang tidak berpenghuni.
Sedangkan Usan masih terbelalak kaget ketika memandang Asha yang kini ada tepat di hadapan wajahnya. Hanya dengan sekali gerakan, Usan yakin mampu membalikkan tubuh Asha. Namun, hal itu tidak semuda yang Usan kira, tenaga Asha cukup kuat. Tidak ingin menyakiti Asha, Usan pun membiarkan Asha mengunci tubuhnya di dinding tembok.
"Tentu saja aku sedang mencari keberadaan kekasihku yang ternyata sedang sibuk dengan pria lain," jawab Usan tetap berdiri dengan tenang.
__ADS_1
"Bukan pria lain, tapi tunangan," ralat Asha sambil menyeringai.
"Mau tunangan, mau menikah sekalipun, aku tidak peduli. Bagiku kamu tetap kekasihku," tegas Usan mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Asha. Namun, dengan cepat Asha meraih tangan kekar itu dan menguncinya dengan sekuat tenaga.
"Kamu cemburu," tebak Asha.
"Sudah pasti, kamu tidak lihat wajahku yang ingin sekali menerkammu saat ini juga," jawab Usan menatap Asha dengan tatapan tajamnya.
"Haha ... Aku tidak suka diterkam laki-laki. Tapi, aku suka menerkam laki-laki!" tegas Asha langsung mendaratkan bibirnya di bibir sensual Usan. Kemudian melu mat bibir itu dengan ganas. Sedangkan Usan malah terdiam kala tercengang dengan apa yang kini Asha lakukan kepadanya.
Usan terus melu mat bibir Asha dengan tangan yang merayap ke mana-mana. Asha pun tak mau kalah, Asha tak henti meraba-raba dada bidang Usan yang lebar dan berotot. Sentuhan-sentuhan Asha bak magnet yang sukses membuat hasrat Usan semakin membuncah.
Sedangkan tangan nakal Usan mulai menyelinap masuk di bawah sana. Merasakan ada sesuatu yang tidak beres, Usan langsung menghentikan semua gerakannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Asha tersenyum smirk.
"Kamu sedang ..." Usan menunjukkan jari tengahnya yang terdapat noda merah di sana.
"Oh iya, Sayang. Maaf, ya, aku lupa kalau lagi haid. Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu, kamu tetap lanjut sendiri ya. Muach ..." Asha langsung melesat pergi setelah memberikan kecupan singkat di bibir Usan.
Setelah kepergian Asha, barulah Usan menggelengkan kepalanya sambil melihat pada sesuatu yang menegang di bawah sana. "Sial! Beraninya dia mengerjaiku!"
*
*
*
__ADS_1
Usan