
Tiba di rumah sakit, Daddy Lolan, Mommy Ziva, Simone dan Arra langsung menuju ke ruangan VVIP di mana Usan dirawat. Pintu ruangan yang tak dikunci, membuat sekeluarga itu langsung masuk sambil memanggil nama Usan. Kedatangan mereka yang tiba-tiba, tentu membuat kaget Usan dan juga Asha yang semula tengah bercerita serius.
"Keluargamu sudah datang, kalau begitu aku pergi dulu," Asha pamit dan akan langsung pergi, Usan tak sempat menahannya.
"Asha, tunggu!" cegat Mommy Ziva membuat Asha berhenti melangkah. Asha membalikkan badannya, menatap Mommy Ziva dengan tatapan arogannya sambil memangku kedua tangan.
"Ada apa?" tanya Asha ketus. Mommy Ziva tak menjawab. Namun, dia melangkah maju hingga tiba di hadapan Asha. "Maafkan Mommy, Asha. Maafkan Mommy karena sudah salah paham terhadap kamu, Mommy benar-benar bodoh hingga mengira kalau kamu adalah gadis yang tidak benar. Usan telah menceritakan segalanya tentangmu. Tentangmu di masa lalu hingga bisa menjadi gadis mandiri dan berani seperti saat ini. Maafkan Mommy yang salah mengartikan sikap tangguhmu," tutur Mommy Ziva meminta maaf dengan tulus, membuat raut wajah Asha berubah seketika.
"Kak Asha, Arra juga mau minta maaf. Maaf karena Arra-lah yang memfitnah Kakak hingga Mommy sangat membenci Kakak. Sebenarnya, Arra hanya takut Kakak mengambil Kak Simone dari Arra. Karena Mommy sempat ingin menjodohkan kakak dengan Kak Simone. Karena sebuah rasa cemburu dan takut kehilangan, Arra telah salah melangkah dan membuat nama baik kakak terlihat buruk di hadapan Mommy," kini Arra yang meminta maaf, hal itu tentu membuat Asha semakin dilema.
"Kakak juga minta maaf, Asha. Seharusnya Kakak tidak mencampuri mau seperti apa pun urusan masalahmu. Mulai sekarang, Kakak akan berusaha mengerti bagaiamana posisimu. Kakak mohon maafkan Kakak," sambung Simone yang juga meminta maaf. Asha masih terdiam membeku, masih tidak percaya sekaligus masih berusaha mencerna situasi saat ini.
"Usan, apa Daddy Juga harus minta maaf?" bisik Daddy Lolan bertanya kepada Usan yang masih terbaring lemah di atas ranjangnya.
"Tentu saja, Daddy juga bersalah padanya." jawab Usan memaksa Sang Daddy untuk meminta maaf kepada Asha.
__ADS_1
Daddy Lolan pun maju beberapa langkah untuk mendekati Asha. "Daddy juga minta maaf, Asha." Imbuhnya singkat dan padat.
"Kalian semua tidak memiliki kesalahan apa pun kepadaku. Jadi, tidak perlu meminta maaf," ujar Asha kembali membalikan badannya. Asha bukanlah tipe wanita yang dapat memaafkan dengan mudah. Situasi seperti saat ini malah membuatnya merasa tidak nyaman.
"Asha, tunggu!" seru Mommy Ziva menahan lengan Asha.
"Apa kamu sudah memaafkan Mommy, Nak?"
"Iya, aku tidak mengerti di mana kesalahan kalian, tapi karena kalian terus memaksa, aku akan memaafkan kesalahan kalian semua," jawab Asha menyerah dan pada akhirnya memilih berdamai. Lagi pula itu hanya sebuah kesalahpahaman. Sayangnya hal itu tidak menguntungkan baginya, bila seperti ini, mereka pasti akan mendekatkan dirinya dengan Usan.
Mendapatkan kehangatan akan pelukan seorang Ibu yang begitu Asha rindukan, mendadak Asha merasa begitu sedih. Air mata terus menerobos ingin keluar, namun dengan sekuat tenaga Asha berusaha menahannya. Asha merasa sangat ingin membalas pelukan Mommy Ziva yang terasa begitu hangat. Namun, gengsinya terlalu tinggi.
"Kamu ingin pulang sekarang, Sayang?"
"Iya," jawab Asha singkat.
__ADS_1
"Kamu bawa mobil sendiri?" kembali Mommy Ziva bertanya.
"Iya," dan Asha kembali menjawab singkat.
"Simone, antarkan Adikmu pulang," titah Mommy Ziva.
"Baik, Mommy. Ayo Asha." Asha pun pergi pulang dengan diantar oleh Simone. Asha tak menolak lantaran memang ada hal yang ingin dia tanyakan kepada Simone.
Setelah kepergian Asha dan Simone, Mommy Ziva, Daddy Lolan dan Arra berulah menanyakan keadaan Usan dan Usan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.
"Mommy, Daddy," panggil Usan pelan.
"Ada apa, Sayang?" balas Mommy Ziva lembut.
"Aku ingin menikah!"
__ADS_1
"Apa! ....