
"Aku ingin kamu jelaskan tentang ini," ketus Asha melempar sebuah dokumen ke atas meja tepat di hadapan Usan yang tengah duduk melipat kalau di sofa. Auranya penuh kekuasaan yang menyeramkan, namun tak lagi dapat membuat Asha bergetar ketakutan seperti tiga tahun lalu.
"Kenapa? Kamu tidak mau menikah denganku?" Usan bertanya dengan wajah biasa seakan tanpa dosa.
"Apa aku pernah mengatakan kalau aku ingin menikah denganmu?" tanya balik Asha terlihat semakin kesal, setelah dikagetkan dengan kedatangan seorang pegawai dari kantor urusan agama yang memberikan surat bukti nikah. Asha hanya perlu membubuhkan tanda tangannya di surat itu, setelah ditandatangani maka dirinya pun akan sah menjadi istri dari seorang Dusan Atlemose. Dengan kekuasaan yang Usan miliki, hal seperti itu dapat dia lakukan hanya dengan jentikan jari.
"Tidak," jawab Usan masih santai.
"Lalu, apa ini?"
"Tinggal tanda tangani saja apa susahnya," jawab Usan mengabaikan dokumen yang Asha tunjukkan.
"Aku tidak mau menikah denganmu, sudah aku katakan aku tidak akan mau dijerat maupun terikat denganmu!" tegas Asha sedangkan Usan hanya tersenyum kecil.
"Kamu harus mendatanginya," kata Usan.
"Aku tidak akan mau!" keukeuh Asha.
__ADS_1
"Aku tidak akan menjeratmu atau mengikatmu dengan pernikahan itu. Aku hanya tidak ingin Putraku dihina sebagai anak haram sama seperti kamu," sindir Usan, wajah Asha pun memerah kala sindiran Usan sukses membuat emosi mulai melandanya.
Tak ingin membuat keributan, Asha pun menghiruf napas dalam lalu menghembuskannya perlahan guna menenangkan diri. Setelah itu, barulah Asha menatap Usan mantap. "Baiklah, aku akan menandatanganinya. Tapi, ubah dulu dokumen ini menjadi pernikahan yang hanya berlangsung tiga bulan. Setelah diubah, baru aku akan menandatanganinya," tutur Asha memberikan syarat.
"Apa kamu tidak membacanya, Sayang. Di sana jelas tertulis pernikahan kita hanya pernikahan kontrak yang akan berlangsung selama tiga bulan saja," sahut Usan.
"Kamu kira dapat membohongiku semudah itu, kamu sudah mengakalinya dengan tempelan kalimat tiga bulan ini!" tekan Asha sambil mencabut tempelan satu angka dan satu huruf sana.
Usan cukup kaget dengan apa yang kini Asha lakukan, tidak disangka Asha mengetahui bahwa dirinya telah merekayasa isi surut penting di dalam dokumen itu. Usan tercengang karena Asha benar-benar telah berubah, berubah manjadi wanita yang tidak hanya tangguh, tapi juga tidak dapat dibohongi.
Tak punya pilihan lain, Usan pun mengiyakan karena belangnya pun sudah terlihat. "Baiklah, aku akan ubah lebih dulu," jawab Usan.
"Sekarang pergilah dan bawa dokumen ini bersamamu, setelah diubah baru berikan lagi kepadaku," lanjut Asha mengusir Usan. Usan pun bangkit. Sebelum pergi, Usan mengucapkan kalimat yang cukup membuat Asha terdiam dengan tubuh yang membeku secara mendadak.
"Aku harap kamu juga tidak membodohiku." Usan pun keluar dari kamar Asha dan pergi begitu saja.
Setelah kepergian Usan, Asha terduduk lemas ke atas ranjang. Asha terlihat takut, takut kalau Usan tahu bahwa dirinya hanya berbohong tentang kehamilan, karena jelas Asha tak pernah hamil sebelumnya. Bekas jahitan di perutnya, hanyalah tempelan yang Asha gunakan untuk membohongi Usan.
__ADS_1
Entah apa yang akan Usan lakuakan kalau tahu dirinya berbohong. Tidak mungkin Usan akan membunuhnya, bukan? Tidak, itu tidak mungkin terjadi karena Asha tahu bahwa Usan sangat mencintai dirinya.
"Aku yakin dia tidak akan berani menyakitiku, walaupun nantinya dia tahu kalau aku membohonginya tentang kehamilan itu."
"Jadi benar kamu membohongiku ....
*
*
*
Asha
Usan
__ADS_1