Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi

Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi
SEASON 2 ~ Bab 19


__ADS_3

Bak aktor laga di film-film action, Lorix melesat membelah jalan raya yang cukup ramai di malam itu, melewati mobil-mobil yang menghalangi jalannya. Hanya butuh waktu beberapa menit saja, Lorix telah sampai di rumah sakit jiwa, Oesteria.


Lorix memarkirkan mobilnya dengan begitu cepat, keluar dari mobil, kemudian berlari menuju ruangan di mana Gyana kini dirawat. Lorix tiba di kamar rawat Gyana dengan napas yang memburu akibat berlari terlalu kencang.


"Bagaiamana Dokter? Gyana baik-baik saja, bukan?" tanya Lorix tak sabaran. Setelah dikabarkan kalau Gyana kembali melakukan aksi bunuh diri, Lorix langsung pergi ke rumah sakit jiwa, guna mastikan keadaan Gyana baik-baik saja seperti yang Dokter katakan.


"Kondisi Nona sudah stabil kembali, tadi Nona sempat bangun dan kembali mengamuk. Tapi, barusan sudah saya berikan obat penenang," terang Sang Dokter pada Lorix.


"Lukanya bagaiamana?" tanya Lorix cepat sambil menatap pilu Gyana yang menatapnya sambil menggelengkan kepala, dan mulut yang terus berucap tak jelas.


"Nona menusuk perutnya dengan garpu yang dia simpan, beruntung perawat cepat menyadari aksinya, hingga luka yang Nona alami tidak terlalu parah. Saya sarankan agar Nona diborgol saja, karena setelah saya periksa, Nona juga mendapat banyak bekas cubitan dan cakaran di sekujur tubuhnya," saran Sang Dokter terasa begitu sulit untuk Lorix terima.


Pria yang kini berusia tiga puluh empat tahun itu, terlihat begitu kusut. Sebelum merespon, Lorix menyeka kasar rambut dan juga wajahnya. "Apa tidak ada cara lain?" tanya Lorix berharap ada alternatif lain, selain memborgol wanita yang sangat dirinya cintai.

__ADS_1


"Sepertinya tidak ada, Tuan." jawab Sang Dokter membuat Lorix pasrah.


"Baiklah, borgol saja," cukup berat bagi Lorix untuk memutuskannya. Namun, dia harus melakukan itu agar Gyana tak lagi menyakiti dirinya sendiri. Sebelumnya, Gyana hanya diikat hanya diikat dikedua tangannya. Tapi, sepertinya itu tidaklah cukup karena jelas Gyana masih melukai dirinya.


"Baiklah, kalau begitu akan saya sampaikan kepada perawat untuk menyiapkannya, kalau begitu saya permisi dulu, Tuan." pamit Dokter langsung pergi setelah mendapatkan izin dari Lorix.


Setelah kepergian Dokter, kini tinggallah Lorix dan Gyana di kamar rawat khusus itu. Melihat wajah pucat Gyana, hati Lorix terasa begitu perih. Ini entah yang keberapa puluh kalinya Gyana melakukan aksi bunuh diri, membuatnya merasa begitu frustasi.


Lorix menjatuhkan bo kongnya kasar ke atas kursi yang ada di samping Gyana, kemudian mengelus lembut kening Gyana, dilanjutkan dengan menyeka air mata yang terus menetes dari sudut mata wanita yang kini sudah tak lagi mengenalinya. Sementara Gyana terus mengucapakan kalimat yang terdengar begitu pilu di telinga Lorix.


"Jangan Gyana, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku mohon jangan lakukan itu, aku menerima semua yang terjadi kepadamu, jadi aku mohon jangan lakukan itu lagi," tutur Lorix namun Gyana malah tersenyum sambil terus mengucapakan keinginannya untuk mati.


Di kamar Usan.

__ADS_1


"Tolong ceritakan sedikit kejadian tentang bagaimana Nona Asha bisa pingsan?" tanya Dokter Yuna yang langsung mengambil stetoskop. Dokter Yuna yang menyadari kalau Asha sedang tak mengenakan sehelai pun benang, memilih mengambil tindakan dengan menyelinapkan sebelah tangannya masuk ke dalam selimut, guna memeriksa detak jantung Asha.


Sebelum menjawab, Usan menatap raut wajah Ayah Riol lebih dulu. Mendapat tatapan tajam dari Sang Ayah Mertua, nyalinya sebagai seorang mantan ketua mafia pun seketika menciut. Jatuh cinta mampu membuat mengalami begitu banyak perubahan.


"Jelaskan, Usan? Asha kau apakan?" tanya Ayah Riol mengintrogasi. Demi kesembuhan Asha, Usan pun terpaksa bercerita walau yakin kalau dirinya akan mendapatkan amukan dari Ayah Riol.


"Aku melakukannya dengan perlahan dan penuh kelembutan. Tapi, Asha mengatakan kalau dia sangat kesakitan. Salahku, aku pikir itu sakit biasa sama seperti pertama kalinya. Walau Asha kesakitan dan minta berhenti, tapi aku tetap melakukannya," terang Usan menyadari kesalahannya, seharusnya dia tidak melakukan hal itu.


Mendengar apa yang Usan katakan, saat itu juga Dokter Yuna langsung beralih pada bagian inti Asha di bawah sana. Dia menaikkan selimut, meminta bantuan pada Usan untuk membuat lebar kedua paha Asha. Sementara Ayah Riol langsung membalikkan badannya.


"Apa yang terjadi, Yuna?" tanya Usan pada Dokter Yuna yang kini memeriksa dengan senter khususnya.


"Sepertinya saya sudah menemukan penyebab Nona kesakitan," jawab Dokter Yuna menutup kembali tubuh Asha dengan selimut.

__ADS_1


"Apa Dokter?" tanya Usan penasaran dengan jantung yang berdetak lebih kencang seakan takut menghadapi kenyataan yang sudah ada di depan matanya.


"Nona mengalami ....


__ADS_2