
"Keluar!" bentak Asha membuat Simone langsung pergi tanpa dapat menjelaskan apa pun kepada Asha. Simone tak ingin membuat Asha semakin emosi, untuk itulah dia lebih memilih pergi.
Setelah kepergian Simone, Asha pun langsung menjatuhkan tubuhnya kasar ke atas sofa. Begitu pun Lorix yang ikut duduk di samping Asha, mengulurkan tangan kemudian mengelus rambut Asha perlahan agar Asha kembali tenang. "Kamu menstruasi?" tanya Lorix yang terbiasa dengan Asha yang paling lemah menahan emosi ketika sedang dalam masa menstruasi.
"Apa aku terlalu berlebihan, Kak? Aku hanya tidak suka bila ada yang mengatakan kalau jalan yang aku pilih salah, mendengar itu membuatku seakan merasa hidup sia-sia selama tiga tahun belakangan ini," terang Asha masih dalam emosi yang memuncak.
"Wajar, Kakak mengerti apa yang kamu rasakan saat ini," tak ingin juga menjadi sasaran amukan Asha selanjutnya, seperti biasa Lorix lebih memilih mendukung jalan pikiran Asha.
"Kalau merasa tidak baik, mending istirahat saja," ujar Lorix pelan.
"Aku baik-baik saja, Kakak!" Asha langsung ngegas, membuat Lorix mengangguk cepat dan memilih mengalah.
"Perempuan selalu benar," batin Lorix.
Derrrttt ....
Ponsel Asha bergetar, Asha langsung meraih ponselnya yang terletak di atas meja. "Nenek," ucap Asha ketika melihat nama Sang Nenek di layar ponselnya.
"Angkat," titah Lorix dan Asha langsung mengangkatnya.
__ADS_1
"Hallo Nenek," sapa Asha dalam bahasa Italia.
"Nenek tahu semua yang kamu lakukan di sana," imbuh Sang Nenek to the point.
Tubuh Asha mendadak bergetar, gugup melandanya. "Maaf, Nek." jawab Asha pelan.
"Ingat, kamu adalah tunangan Lorix, jangan bermain-main dengan laki-laki lain. Nenek akan terus memantaumu, Asha," tegasnya membuat Asha terdiam seribu bahasa.
"Iya, Nek. Semua itu hanya setingan, Asha tetap akan menjadi milik Kak Lorix, Nenek tidak perlu khawatir," jawab Asha berusaha menjawab setenang mungkin.
"Baguslah, Nenek pegang kata-katamu. Selesaikan segala urusanmu, Nenek yang meminta Lorix untuk membantumu. Setelah semua dendammu selesai, segeralah pulang."
Setelah Sang Nenek mengakhiri panggilan, berulah Asha dapat kembali bernapas dengan lega. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Lorix khawatir.
"Aku hanya tidak ingin terlalu bergantung pada Nenek. Aku takut, Kak." tutur Asha membuat Lorix menatapnya sedih. Sama seperti Asha, Lorix juga tak bisa membantah apa yang Neneknya inginkan.
"Kamu mencintai Dusan?" tanya Lorix membuat Asha menatapnya dengan raut wajah yang tampak berusaha keras menahan tangis.
"Aku dan dia tidak akan bisa bersama, walau saling cinta."
__ADS_1
"Saling menjerat, kemudian saling terjerat. Kalian berdua sama-sama terlalu egois. Lebih baik kamu dengan Kakak saja," lanjut Lorix membuat reader berpikir keras dalam memaknai ucapannya.🤭💃
Spill : Lorix memang sempurna. Tapi, ada satu kekurangan yang membuatnya tak akan bisa bersama dengan Asha. Apakah itu?. Coba reader tebak ....🤭💃
***
"Sialan, kenapa Kak Simone mendatanginya?" bentak Usan cemburu buta.
"Kakak Adik yang lama berpisah ingin bertemu kembali untuk melepas rindu, salahnya di mana, Tuan?" lanjut Sekretaris Evan.
"Melepas rindu?" balas Usan semakin merasa cemburu tanpa dia sadari.
"Rindu antara saudara kandung, Tuan." sahut Sekretaris Evan, Usan abaikan.
"Carikan aku wanita yang seksi, pastikan dia juga seorang desainer!" titah Usan membuat Sekretaris Evan menghela napas kasar.
"Apa kau dengar?"
"Nona Lulu Nirwa pemilik LN Beatique, dia adalah desainer cantik, muda dan berbakat sama seperti Nona Asha. Bagaiamana, Tuan?" tawar Sekretaris Evan.
__ADS_1
"Aku ....