
"Aku memang membunuh Disha. Tapi, semua itu aku lakukan atas perintah Edrik, Suami pertama Ibumu. Heh, Edrik akan membunuhku kalau sampai aku tidak melakukannya," tutur Nyonya Kiya jujur.
"Apa kamu berkata jujur?" tanya Asha ragu untuk percaya atas apa yang dikatakan oleh wanita kejam di hadapannya kini.
"Aku berkata jujur padamu karena aku masih ingin hidup walau kau kurung sekali pun," imbuhnya berani.
"Lalu, kenapa Edrik meminta kamu untuk membunuh Ibuku? Apa kesalahan Ibuku hingga dia tega melakukan itu?" tanya Asha kembali mengintrogasi.
Mendengar pertanyaan Asha, Nyonya Kiya tersenyum kecil. "Aku hanyalah seorang ja lang yang Edrik gunakan sebagai bidak catur yang dapat dia atur dan mainkan sesuka hati. Pertanyaanmu yang satu ini, aku tidak tahu jawabannya," tutur Nyonya Kiya sejujur-jujurnya, karena dia memang tidak tahu semua itu. Dia hanyalah seorang ja lang yang akan melakukan apa pun demi uang, termasuk melenyapkan nyawa seseorang.
"Aku sudah mengatakan apa yang aku ketahui, sekarang bisakah kamu tidak membunuhku. Aku mengalami pendarahan di otak, bila tidak ditangani maka aku benar-benar akan mati," lanjut Nyonya Kiya berharap Asha mengasihani dirinya.
__ADS_1
"Apa keuntungannya bila aku tidak melenyapkanmu? Karena bagaimana pun, kamu adalah pembunuh Ibu dan Nenekku, sulit bagiku untuk mengasihanimu," balas Asha.
"Edrik adalah pria yang sulit dikalahkan, walau kamu membawa seseorang paling kuat di dunia sekali pun," kata Nyonya Kiya sambil menatap Lorix.
"Tapi, aku percaya hanya kamu yang dapat melumpuhkannya, kalau kamu melepaskanku, aku akan membantumu untuk melumpuhkan Edrik," tawar Nyonya Kiya.
Sebelum menjawab, Asha menatap Lorix lebih dulu untuk meminta pendapat. Mendapatkan anggukan kepala dari Lorix, barulah Asha menyetujui kerja sama dengan Nyonya Kiya. Hari itu, Nyonya Kiya langsung ditangani dan diobati oleh Dokter khusus yang juga seorang anggota Gangster Lorehot.
"Oh iya, Kak. Ayahku memasang alat pelacak di tubuh Edrik, apa pengawal sudah menemukan jejaknya?" tanya Asha yang kini telah duduk di samping Lorix, tepatnya di samping kursi kemudi.
"Sepertinya sudah ditemukan, apa ingin menyerang sekarang?" tanya balik Lorix pada Asha.
__ADS_1
"Sepertinya jangan dulu, Kak. Lebih baik kita buat rencana lebih dahulu. Aku akan memanfaatkan Nyonya Kiya," ujar Asha tersenyum manis.
"Pemikiran yang cerdas," puji Lorix sambil mengelus lembut rambut Asha.
Lorix mengantar Asha hingga tiba di Dash Boutique. Setelah itu, Lorix pun pergi karena ada urusan mendadak. Sedangkan Asha langsung masuk ke dalam gedung butiknya, Asha berjalan penuh semangat menuju ruangannya dan langsung berkutat dengan alat desain digitalnya.
***
"Mana wanita yang kuminta kau carikan?" tanya Usan begitu duduk di singgasananya. Sepertinya Usah sudah tak sabar ingin menggemparkan dunia per-trandingan, dengan berita panas tentangnya yang akan memiliki kekasih lain, selain Dasha Drace pemilik Dash Boutique.
"Nanti dia akan datang, Tuan. Tapi, setelah Tuan membaca dan menandatangani semua berkas-berkas itu," tunjuk Sekretaris Evan pada tumpukkan dokumen yang menggunung di atas meja, tepat di samping Usan.
__ADS_1
Sialan! Sekretaris terkutuk ini selalu mengaturku, sudah seperti aku adalah bawahnya. Lihat saja nanti, lihat saja kalua Daddy sudah meresmikan aku sebagai CEO, maka aku pastikan dialah orang pertama yang akan aku tandang. Batin Usan menatap tajam Sekretaris Evan yang terlihat masih tetap tenang.