
"Apa!" bentak Daddy Lolan membuat Mommy Ziva, Simone dan Arra yang semula berbincang, kini kompak diam dengan ekspresi wajah yang terlihat penasaran.
"Baik, saya ke sana sekarang," jawab Daddy Lolan.
Melihat raut wajah Sang Suami yang terlihat panik, Mommy Ziva pun seketika khawatir. Dia segera bangkit dari duduk santainya. "Ada apa, Sayang? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya Mendesak.
"Kita ke rumah sakit sekarang juga!" seru Daddy Lolan sambil melangkah lebar keluar dari Mansion. Mommy Ziva, Simone dan Arra mengekor di belakangnya dengan berjalan cepat untuk mengimbangi.
"Siapa yang sakit, Sayang?" kembali Mommy Ziva bertanya khawatir. Sadar telah membuat Istrinya panik, Daddy Lolan langsung menghentikan langkah kakinya ketika telah tiba di halaman rumah. "Simone, kamu minta pengawal untuk siapkan mobil," titah Daddy Lolan kepada Simone. Simone mengangguk setelah itu langsung pergi untuk menyiapkan mobil.
"Jangan khawatir, Sayang." bujuk Daddy Lolan menenangkan.
"Daddy, apa yang terjadi? Apa terjadi sesuatu dengan Kak Usan?" tebak Arra mendapatkan anggukan kepala dari Sang Daddy.
"Usan kenapa, Sayang?" tanya Mommy Ziva pelan dengan air mata yang sudah mengucur dari kedua sudut matanya, lantaran pikiran negatif tentang Putranya tercinta mulai merasukinya.
"Tidak terjadi apa-apa. Usan hanya terluka sedikit dan sekarang sudah berada di rumah sakit dengan Dokter Xean. Selama ada Xean, kita tidak perlu khawatir." Mommy Ziva hanya mengangguk, tapi ekspresinya yang tampak begitu khawatir, membuat Daddy Lolan merasa bersalah karena sudah membuat Istrinya tercinta panik.
***
__ADS_1
Menggunakan mobilnya, Asha melesat membelah jalan raya yang sepi di tengah malam itu. Asha sadari, ada beberapa pengawal Lorehot menguntit untuk melindungi dan memastikan dirinya aman. Karena mereka bergerak halus tanpa dicurigai oleh orang-orang sekitar, Asha pun membiarkannya. Malah Asha merasa senang, karena itu artinya Lorix benar-benar selalu menjaganya setiap waktu.
Beberapa menit kemudian, Asha telah tiba di rumah sakit terkenal di kota Oesteria, rumah sakit milik keluarga Jonason sendiri. Di mana Dokter Xean bekerja menjalani kutukannya saat ini di sana.
Keluar dari mobil, Asha langsung berlari masuk dan menanyakan di mana keberadaan Usan. Karena para penghuni rumah sakit kenal siapa dirinya, mereka pun langsung mengantarkan Asha menuju ruangan di mana Usan sedang ditangani.
"Di sini, Nona," tunjuk Suster pada ruangan operasi.
"Dia sedang dioperasi?" tanya Asha dan Suster langsung mengangguk membenarkan.
"Dia terluka karena apa?" tanya Asha penasaran.
"Apa lukanya parah?" kembali Asha bertanya, membuat Sang Suster tersenyum penuh arti karena dapat menebak kalau Asha Sang Desainer memiliki perasaan terhadap Usan. Dari raut wajah Asha yang terlihat panik serta khawatir, Suster pun menebak kalau semua yang terjadi tentang postingan-postingan sebelumnya hanyalah rekayasa.
"Tidak terlalu parah, Nona. Tuan Usan bukan pria yang lemah, dia hanya mengalami luka kecil saja," jelas Suster membuat Asha menarik napas lega.
"Baik, terima kasih kalau begitu. Kamu sudah boleh pergi, apa pun yang kamu lihat anggap tidak terjadi apa-apa," ancam Asha dengan wajah yang menyeramkan, membuat Suster bergetar tubuhnya karena merasa takut. Keberadaan Asha terasa mengintimidasinya, melebihi saat berada di dekat Usan.
Tak berselang lama kemudian, Dokter Xean pun keluar dari dalam ruangan bersamaan dengan Usan yang berada di atas ranjang yang didorong cepat oleh beberapa Suster laki-laki hingga Asha tak sempat bertanya kepada Usan yang masih sanggup memanggil nama dirinya.
__ADS_1
"Nona datang?" tanya Dokter Xean sambil berjalan santai, sedangkan Usan sudah berada di ruangan VVIP.
"Iya, Dokter. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada Usan." jawab Asha.
"Dia tidak apa-apa, Nona. Nona tolong jaga Usan sebentar ya, saya masih ada sedikit urusan," imbuh Dokter Xean ketika sudah tiba di depan ruangan Usan dirawat. Setelah kepergian Dokter Xean, Asha pun langsung masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru.
"Usan, cepat ceritakan kepadaku semua yang terjadi?" pinta Asha mendesak tak sabaran, Usan yang semula memasang ekspresi kesakitan, seketika berubah menjadi tercengang.
"Sayang, kamu tengah malam datang ke rumah sakit terburu-buru hanya untuk memintaku bercerita?"
"Iya. Memangnya kamu kira untuk apa?" tanya balik Asha membuat Usan merasa lemas tiba-tiba.
*
*
*
Sabar, ya, Bang Usanπ. Kamu masih harus berusaha keras, kalau Asha tetap nggak mau, yaudah, sama reader aja. Mereka setia dan baik banget loh. Buktinya mereka masih baca, like, komen, kasih hadiah dan juga vote sampai saat iniπππ
__ADS_1
Calangeo semuanya ππππ