
Setelah kepergian Usan, Asha menerima telpon yang berasal dari Adik tirinya yaitu Laura. "Ada apa?" tanya Asha tanpa berbasa-basi.
"Kak Asha, Kakak apa kabar?" tanya balik Laura.
"Katakan saja ada apa? Tidak usah banyak berbasa-basi," balas Asha dengan gaya arogannya.
"Begini Kak, Kakak tahu bukan kalau dua hari lagi acara pernikahanku akan dilaksanakan."
"Lalu?"
"Kakak jadi pulang, bukan? Aku ingin Kakak juga membantuku mempersiapkan pernikahanku nanti. Jadi, bisakah Kak Asha pulang besok?" pinta Laura yang menginginkan Asha datang lebih awal, yaitu dua hari sebelum pesta pernikahan dimulai. Dengan begitu, keduanya dapat lebih leluasa membalas dendam kepada Asha.
"Baiklah, tidak perlu khawatir karena aku pasti akan pulang ke rumah. Tapi, apa rencana licik kalian sudah selesai? Kalau belum, aku akan menunggu," jawab Asha dengan seringai'an mengerikan di wajah cantiknya.
"A-apa mak-maksud Kak Asha?" tanya Laura gugup dan berpura-pura tidak tahu.
"Tidak apa-apa, anggap saja kamu tidak mendengar apa pun. Sudah malam, aku matikan, ya, solanya mau istirahat sekarang juga. Selamat malam Adik tiriku," ujar Asha langsung memutuskan panggilan sepihak.
"Apa yang wanita murahan itu katakan, Sayang? Apa dia mau pulang ke rumah?" tanya Nyonya Kiya penasaran.
"Dia setuju dan akan pulang besok, Ibu. Tapi ...."
__ADS_1
"Tapi apa, Sayang?"
"Tapi, dia bertanya apakah rencana licik kita sudah tersusun, kalau belum dia masih akan menunggu. Ibu, kita harus begaimana? Kak Asha tahu rencana kita," jelas Laura ketakutan.
"Wanita murahan sialan itu, darimana dia tahu rencana kita? Tapi, sepertinya dia hanya menebak saja, Sayang. Kita tidak perlu takut, yang penting kita rencang rencana sehalus mungkin agar dia tidak menyadarinya sama sekali. Kamu tenang saja, Ibu akan mengaturnya sebaik mungkin," tutur Nyonya Kiya tersenyum smirk dengan otaknya yang bekerja menyusun begitu banyak rencana untuk melenyapkan Asha dan mengusai hartanya yang berlimpah ruah.
***
"Lalu?" tanya Usan penasaran
"Tentang siapa sebenarnya Kakakmu Simone," jawab Daddy Lolan menggantung.
"Simone bukanlah Kakak kandungmu dan Arra. Dengan kata lain, Simone bukanlah Putra kandung Mommy dan Daddy," jelas Daddy Lolan membuat Usan terkejut, berbeda dengan Arra yang langsung berteriak histeris saking kagetnya setelah mengetahui bahwa dirinya dan Simone tidak memiliki ikatan darah sama sekali.
"Untuk itulah Daddy terus memaksamu untuk menjadi seperti Kakakmu. Bukan karena Daddy tidak menyayangimu, melainkan karena kamu adalah pewaris TB Grup yang sesungguhnya," lanjut Daddy Lolan menjelaskan tentang dirinya yang selalu mamaksa Usan agar bersikap lebih baik, mendengar itu, Usan sedikit tersentuh hatinya. Usan kira, Sang Daddy sangat membencinya selama ini. Tidak disangka ada hal lain dibalik sikap tegas Daddy Lolan dalam mendidiknya.
"Daddy, Mommy, berati Arra dan Kak Simone tidak memiliki hubungan darah sama sekali?" tanya Arra ingin memastikan.
"Iya, Sayang. Itu benar." jawab Mommy Ziva mengelus rambut Sang Putri dengan penuh kasih sayang.
"Jadi, Arra dan Kak Simone boleh menikah?" tanya Arra membuat Daddy Lolan dan Mommy Ziva mengulum senyum.
__ADS_1
"Bisa saja kalau Kak Simone juga menyukaimu, kalau tidak, ya bermimpi saja," sambung Usan menggoda Adiknya.
"Kak Usan apaan sih, siapa juga yang tidak menyukai seorang Harra Atlemose yang mempunya kecantikan bak bidadari turun dari kayangan."
"Turun dari kayangan dan terjatuh ke kolam ikan lele?" goda Usan lagi.
"Kak Usan!" teriak Arra murka.
"Sudah-sudah. Sekarang bagaimana menurutmu Simone? Apa kamu mencintai Arra, tolong jawab yang jujur karena Daddy ingin yang terbaik untuk Arra," ujar Daddy Lolan bertanya serius kepada Simone.
"Aku ....
*
*
*
Arra
__ADS_1