
"Oh Astaga!" pekik Asha langsung bangkit dari duduknya, ketiga manusia di hadapannya juga ikut bangkit lantaran kaget dengan kelakuan Asha.
Tuan Riol, Nyonya Kiya dan Luara mengekor di belakang Asha yang menuju sebuah dinding di mana ada banyak foto-foto yang terpajang di sana.
"Astaga, aku tak suka melihat foto keluarga yang terletak di tengah-tengah sana. Jelas dulu juga ada aku di dalamnya, sekarang hanya ada kalian bertiga. Aku tidak suka melihatnya, jadi, selama aku tinggal di sini benda itu tidak boleh ada di sana. Tidak apa, bukan? Ah, Aku harus memusnahkannya sekarang juga," ucap Asha lalu meraba saku jasnya dan mengeluarkan sebuah pistol jenis ckit.
DOR!
"Aaakhh!" teriak Nyonya Kiya dan Laura bersamaan kala kaget mendengar suara tembakkan yang menggema di ruang keluarga itu. Sementara Tuan Riol menatap Asha tak percaya, dirinya tak percaya Sang Putri yang dahulu dia remehkan, kini menjadi wanita kuat yang sangat pandai menembak.
"Nah, sekarang baru lebih baik. Ayo kembali ke tempat duduk masing-masing," ajak Asha berjalan lebih dulu meninggalkan tiga orang manusia yang mati kutu melihat perubahannya yang sekarang.
"Apa lagi yang kalian tunggu, kemari dan duduklah," ketiganya pun langsung berjalan ragu, kemudian duduk di sofa masing-masing dengan posisi seperti sebelumnya.
"Asha, apa yang kau kakukan?" tanya Tuan Riol menunjukkan raut wajah penuh amarahnya.
"Apa lagi, Mantan Ayah? Ibu tiri memintaku untuk tinggal di sini, tentu aku harus membuat suasana senyaman mungkin agar aku tidak merasa bosan selama tinggal di rumah panas ini," jawab Asha sambil mengipas wajahnya dengan telapak tangan.
__ADS_1
"Kau yang memintanya tinggal di sini, Kiya? Kenapa tidak meminta izin dariku lebih dulu?" bentak Tuan Riol dengan urat-urat lehernya yang mengencang kala emosinya semakin memuncak.
"Sayang, aku hanya ingin kamu memaafkan Asha dan melupakan kejadian di masa lalu. Bagaiamana pun dia adalah Putri kandungmu, sudah saatnya dia kembali ke rumah ini karena rumah ini juga miliknya," jelas Nyonya Kiya lembut. Namun, apa yang kini dia utarakan sangat berbeda dengan isi hatinya yang sangat membenci Asha.
"Benar, Ayah. Aku juga yang meminta Ibu untuk mengundang Kak Asha, karena aku ingin Kak Asha juga turut merasakan kebahagiaan di hari kebahagiaanku nanti," sambung Laura setelah mendapatkan isarat dari sang Ibu.
"Kalian bahas apa, sih? Oh iya, Via," panggil Asha pada Asisten Via.
"Iya, Nona."
"Tolong panggilkan beberapa orang untuk mengubah cat warna rumah ini, aku tidak bisa tinggal di sini dengan suasana yang sama sekali tidak berwarna ini," titah Asha dan Asisten Via pun mengangguk setuju.
"Kenapa, Mantan Ayah? Bukankah ini juga rumahku dan aku juga berhak jika ingin sedikit menggubah susananya, benar begitu Ibu tiri?" jelas Asha lalu melemparkan sebuah pertanyaan kepada Nyonya Kiya, yang langsung mengangguk cepat.
"Tuh, Ibu tiri saja tidak keberatan. Via, lakukan tugasmu sekarang."
"Baik, Nona." jawab Asisten Via langsung menyingkir dan membuat panggilan dengan orang-orangnya untuk mengubah desain Mansion Bredariol menjadi seperti desain dulu lagi.
__ADS_1
"Kau!" tekan Tuan Riol menahan esmosi.
"Sayang, tidak apa-apa. Lagipula aku juga bosan dengan desain rumah ini, sudah saatnya diganti dengan desain yang baru. Kamu tidak perlu khawatir, sekarang Asha adalah desainer yang hebat. Masalah desain mendesain adalah keahliannya," bujuk Nyonya Kiya.
"Baiklah, terserah kepada kalian. Aku ingin makan siang, siapkan segalanya," titahnya langsung berdiri dan Nyonya Kiya pun menuntunnya perlahan.
"Kakak, ayo kita makan siang bersama," ajak Laura, Asha mengabaikan, tapi dia tetap berdiri dan menyusul hingga tiba di ruang makan.
"Dia juga makan di sini?" tanya Tuan Riol.
"Iya, Sayang." jawab Nyonya Kiya.
"Antar dan bawakan makananku ke kamar, aku tidak suka makan semeja dengannya."
"Baiklah, Sayang. Ayo aku antar," kedua manusia paruh baya itu pun pergi menuju kamarnya yang masih berada di lantai bawah.
"Kamu tunggu sebentar, aku akan ambilkan dan bawa ke sini makan siang untukmu," tutur Nyonya Kiya, kemudian pergi meninggalkan Tuan Riol sendirian di kamarnya. Setelah kepergian Istrinya, Tuan Riol tiba-tiba mengukir senyuman misterius di bibir keriputnya.
__ADS_1
"Asha."