
"Kondisi Usan saat ini sudah lebih baik, Usan beruntung karena peluru tidak mengenai organ vitalnya. Sebelumnya, Usan hanya mengalami pendarahan yang cukup hebat, tapi hal tersebut masih bisa diatasi dengan stok darah yang cukup banyak," terang Dokter Xean membuat semuanya menghela napas lega, termasuk Asha yang kini mengelus dada dengan senyuman bahagia mengembang di bibir sensualnya.
"Apa aku sudah boleh menjenguknya, Dokter?" tanya Asha dengan raut wajah bahagianya.
"Tentu, tapi Usan harus dipindahkan dulu ke ruang perawatan. Saat ini dia belum sadarkan diri karena masih dalam pengaruh anastesi, paling cepat dia akan bangun esok hari," Asha mengangguk mengerti. Dokter Xean pun langsung masuk kembali ke dalam ruang operasi. Beberapa menit kemudian, pintu ruang operasi kembali terbuka, beberapa perawat perempuan mendorong Brankar hingga tiba di sebuah ruangan khusus yang begitu luas dan mewahnya.
Tiba di kamar rawat inap, Dokter Xean kembali mengambil alih dan memeriksa kondisi Usan. Sedangkan Daddy Lolan, Mommy Ziva, Arra, Lorix dan Asha mengelilingi Brankar karena masih mengkhawatirkan keadaan Usan yang terlihat begitu lemah.
Sementara Asha duduk tepat di samping kepala Usan. Dengan posisi sedekat itu, Asha dapat melihat wajah pucat Usan yang semakin ditatap, semakin membuatnya merasa bersalah. Merasa bersalah karena tanpa Asha sadari, dirinya telah menyeret Usan berada dalam posisi seperti saat ini.
__ADS_1
Sementara Daddy Lolan dan Mommy Ziva tampak kebingungan melihat Asha yang kini sangat mengkhawatirkan Putranya, Usan. "Kak Asha, apa Kakak sudah mulai ada rasa cinta untuk Kak Usan?" tanya Arra yang geram dengan suasana lenggang yang semula terjadi.
Mendengar pertanyaan Arra, Asha hanya memberikan tatapan tajam tanpa menjawab apa pun. Arra hanya tersenyum paksa kala merasa kalau dirinya telah salah bicara.
"Memangnya kenapa kalau aku menyukainya?" tanya balik Asha, tapi tak melepas pandangannya pada wajah Usan.
"Kak Usan hampir merelakan nyawanya untuk Kakak, tidak adil bila Kakak tidak membalas cintanya. Ketahuilah Kak, ini adalah pertama kalinya Kak Usan mencintai seorang wanita dengan begitu besar ketulusan. Aku harap Kakak tidak memberikannya harapan palsu. Aku bicara seperti ini karena aku pernah ada di posisi Kak Usan, yang merasakan betapa pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan. Aku hanya ingin yang terbaik untuk seorang Kakak yang selama ini melindungiku dengan caranya yang luar biasa. Meski dia bukanlah laki-laki yang baik, tapi aku yakin Kak Usan akan berusaha menjadi yang terbaik untuk Kak Asha," terang Arra panjang kali lebar membuat kedua orangtuanya terharu.
Asha tak peduli akan apa yang Arra ceritakan, tapi diam-diam Asha menyimak dengan baik. Mendengarnya, Asha merasa tak percaya, tak percaya kalau cinta yang Usan berikan kepadanya begitu besar, sangat besar hingga rela mengorbankan nyawanya sendiri. Hal itu sangat jauh dari ekspektasi Asha sendiri.
__ADS_1
Malam itu, hanya Asha dan Mommy Ziva saja yang menginap di rumah sakit untuk menemani Usan. Sementara Daddy Lolan, Arra, dan Lorix langsung pulang karena ada urusan yang tidak bisa mereka tinggalkan.
***
Keesokan paginya, Asha bangun lebih dulu, menuju kamar mandi Asha membersihkan wajahnya. Ketika keluar dari kamar mandi, sudah ada Dokter Xean yang memeriksa keadaan Usan, juga Mommy Ziva yang memperhatikan. Asha segera mendekat juga untuk mengetahui perkembangan kondisi Usan.
Tak berselang lama, Usan mulai mengerjabkan matanya. Mommy Ziva dan Asha terlihat begitu bahagia menyambut Usan dengan penuh antusias.
"Usan, syukurlah akhirnya kamu sadar juga!" seru Asha ketika Usan sudah membuka kedua matanya.
__ADS_1
"Kamu siapa? ....