
"Jangan pergi, Tuan. Di luar ada banyak wartawan!" teriak Sekretaris Evan, tapi Usan tak peduli, dia tetap keluar dari ruangan hingga kini sudah berada di depan lift untuk turun ke lantai bawah.
"Kak Simone," ucap Usan ketika melihat Simone ketika pintu lift terbuka lebar. Sekretaris Evan menghentikan langkah kakinya kala melihat Simone keluar dari lift.
"Ikutlah, ada sesuatu yang ingin Kakak katakan kepadamu," ajak Simone langsung keluar dari lift, kemudian melewati Usan dan berjalan lebih dahulu.
"Mengatakan kalau Kakak sudah melamar Asha?" tanya Usan sambil membalikkan badan dengan mengepalkan tangannya, cemburu membuatnya tak dapat berpikir jernih. Cinta benar-benar dapat membuat seseorang menjadi bodoh serta gila.
Mendengar ucapan tak masuk akal Sang Adik, Simone menghentikan langkah kakinya, kemudian membalikkan badan, berjalan mendekat lalu berhenti tepat di hadapan Usan yang menatapnya dengan mata tajam.
"Bodohmu jangan terlalu diperlihatkan, Usan," kata Simone sambil sedikit menengadah membalas tatapan Usan dengan tatapannya yang mematikan, membuat Sang Adik semakin erat mengepalkan tangannya.
"Asha adalah Adik kandungku," lanjut Simone kembali membalikan badannya untuk melanjutkan perjalanan menuju ruangan Usan yang dahulunya adalah ruangan miliknya.
__ADS_1
"Negera kita melegalkan hubungan sedarah," tekan Usan mencegat lengan Simone. Sepertinya Usan terlalu banyak mendengar curhatan Arra selama ini, hingga membuatnya juga berpikir ke arah sana.
Simone menghela napas dalam, setelahnya, barulah dia membalas perkataan Usan. "Terbakar oleh api yang kamu nyalakan sendiri, kemudian ingin menyalahkan aku. Kau itu tidak pernah berubah. Ikut denganku kalau ingin tahu siapa yang memberikan Asha cincin itu," Simone menepis tangan Usan yang mencegatnya, kemudian berjalan lebih dulu menuju ruangan CEO TB Grup.
Usan terpaksa mengurungkan niatnya untuk menemui Asha, kala merasa begitu penasaran dengan apa yang Kakaknya ucapkan tadi. Usan pun mengekor di belakang Simone hingga tiba di ruangannya. Tiba di ruangan, keduanya duduk di sofa yang ada di sana.
Sedangkan Sekretaris Evan berada di luar ruangan guna memantau kalau-kalau Kakak Adik itu bertengkar. Bila itu terjadi, maka seperti biasa Sekretaris Evan akan memisahkan keduanya. Ya, keduanya memang sering bertengkar, tapi Usan-lah yang menyerang.
Sedangkan Simone akan diam dan menerima apa yang Adiknya lakukan hingga seluruh tubuhnya babak belur. Bila hal itu terulang lagi, Sekretaris Evan akan berada di garis terdepan untuk meredakan emosi Usan.
"Asha menjelaskan kalau dia sudah mengatakan kepadamu, bahwa dirinya sudah mempunyai seorang kekasih," imbuh Simone membuat Usan langsung memikirkan perkataan Asha di ruang meeting ketika presentasi, saat di mana mereka kembali bertemu setelah tiga tahun berlalu.
Usan ingat, Asha memang pernah mengatakan kalau dia sudah memiliki seorang kekasih yang lebih segalanya dari dia. Namun, saat itu Usan pikir apa yang Asha katakan adalah sebuah kebohongan untuk menghindarinya. Apakah yang Asha katakan saat itu adalah kebenaran? Kalau iya, maka pria itu benar-benar lebih segalanya dari dia. Cincin berbatu mulia itu, Pengeran Inggris sekali pun gagal memilikinya.
__ADS_1
"Jadi benar, kamu sudah tahu kalau Asha memilki seorang tunangan?" tebak Simone membuat Usan seketika mengubah raut wajahnya. Usan tak terima bila benar Asha sudah memiliki seorang tunangan. Artinya, selama ini Usan adalah seorang selingkuhan yang menjerat tunangan orang lain.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Usan dengan rahangnya yang mengeras, mata merah serta urat-urat leher yang mengencang, menampilkan semua ototnya yang luar biasa.
"Dia adalah ....
*
*
*
Votenya mana, Guys?π₯Ί
__ADS_1
Tapi enggak apa-apa, yang penting kalian baca, like dan komen. Happy reading semuanya, Calangeo πππ