
BRAAKK!
Asha langsung membalikan badan secepat kilat—kala dibuat kaget akan pintu yang tertutup dengan suara yang keras.
DOR!
Tanpa ragu Asha langsung melepaskan satu tembakan, setelah mata tajamnya menangkap keberadaan Edrik, yang rupanya bersembunyi di balik pintu.
Edrik dapat membaca setiap tembakan yang Asha layangkan, terlihat dari caranya saat menghindari peluru dengan mudah. Sepertinya Edrik sudah menghafal gerakan Asha ketika bertarung pertama kali di kapal.
Asha reflek menurunkan kedua tangannya dan berhenti menembak, karena merasa heran—kala tak mendapatkan perlawanan dari Edrik yang hanya menghindari peluru, persis seperti yang Asha lakukan ketika bertarung di kapal.
"Kenapa berhenti? Ayo lepaskan lagi semua peluru yang kamu miliki," pinta Edrik yang berdiri dengan jarak tujuh meter dari Asha.
"Tidak asik menyerang tanpa perlawanan. Apa kamu takut? hah, aku sudah mencium bau kematian dari tubuhmu," ejek Asha sambil terus menatap wajah penuh luka Edrik, yang terlihat di bawah cahaya bulan purnama yang sedikit masuk dari celah-celah atap gedung yang telah rusak yang terdapat banyak lubang besar.
"Jika aku mati, maka kamu juga akan mati," balas Edrik sambil melirik ke arah tiang besar di tengah-tengah gedung. Rupanya Edrik telah memasang bom di sana.
__ADS_1
DOR!
"Akh!" ringis Asha kala sebuah peluru berhasil menggores lengannya yang semula mulus. Jika Asha tak sempat menghindar, maka Asha akan tertembak tepat di bagian dada. Saat Asha menoleh ke arah bom, saat itulah Edrik menggunakan kesempatan untuk menembaknya.
"Kita hanya punya waktu tiga puluh menit. Kita lihat, siapa yang akan mati lebih dulu." Asha cukup kaget, ternyata Edrik sudah merencanakan segalanya, dia tahu kalau Asha akan datang. Dan dia telah memasang waktu untuk bom yang diikat di tiang gedung itu.
Asha menebak dengan baik kalau Edrik akan kembali menembakkan senjata. Sebelum hal itu terjadi, Asha langsung berlari menuju drum di sampingnya.
DOR!
Klontang! peluru menghantam drum, nyaris saja. Asha menelan ludah. Beruntung Asha masih sempat bersembunyi di balik drum-drum besar yang ada di dalam gedung. Asha menggunakan kesempatan itu untuk membalut lengannya yang terluka, dengan perban yang terselip di sakunya.
"Hallo, Nona Asha!" seru Edrik yang melompati drum, dan kini sudah berada tepat di hadapan Asha, hanya berjarak satu meter.
DOR!
Peluru kembali menghantam drum, Asha menghindar dengan gesit. Tapi, Edrik tak henti membidik, Asha juga balas membidik walau selalu tak tepat karena Edrik selalu berhasil menghindar. Asha berpikir keras lantaran tidak mungkin dirinya hanya menggunakan teknik yang sama seperti di kapal, karena Edrik sudah dapat membaca gerakannya.
__ADS_1
Asha keluar dari drum dan melepaskan tembakan kemudian menghindari tembakan yang Edrik layangkan. Edrik bersembunyi di balik drum yang berjarak tiga meter dari Asha. Dari jarak sedekat itu, dia kembali menembak, Asha melesat membanting tubuh ke kiri. Bukan main! Asha menghindari dengan mudah tembakan jarak dekat itu.
DOR! Tak merasa puas hanya dengan tembakan jarak dekatnya, Edrik kembali menembak, Asha berkelit, hampir saja, hanya tiga senti peluru melesat di samping bahunya hingga hanya mengenai udara kosong. Tapi, sayangnya Asha terduduk di lantai dan kesulitan bangun ketika salah satu telapak heelsnya patah.
Sekali lagi Edrik menembak, tapi bukan ke arah Asha, melainkan menembak ke atas. Asha menatap Edrik bingung, kenapa Edrik menembak ke atas? Sepersekian detik, Asha langsung mendongak ke atas, takut kalau-kalau Edrik menembak lampu besar atau apalah yang ada di atas, yang bisa saja jatuh tepat di atas kepalanya.
Bodoh! Asha tertipu, tidak ada apa pun di atas sana. Edrik hanya sembarang menembak. Sembarang menembak untuk mengelabuhi Asha agar tertipu dan tak dapat menghindar.
Tepat saat Asha masih menengadah ke atas, Edrik langsung mengarahkan senjatanya di jantung Asha dan
DOR! ....
*
*
*
__ADS_1