Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi

Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi
Bab 75 ~ Musuh Masa Lalu


__ADS_3

"Hallo, Asha. Apa kamu masih mengingatku?" tanya Lulu menyeringai sambil menyelinapkan rambut pendeknya ke daun telinga.


Seringai'an itu, seringan yang sama seperti dulu, seringai'an yang dulunya membuat Asha lemah tak berdaya. Kini, malah membuat Asha merasa ingin mencakar-cakar wajah membosankan itu.


"Tentu saja ingat, bagaiamana mungkin aku melupakanmu. Oh iya, aku ingat sekarang, dahulu julukanmu adalah si juara dua, bukan? Ah, bagaimana mungkin aku melupakan julukan itu, lihatlah hingga saat ini pun kamu tetap menjadi nomor dua," ejek Asha merendahkan Lulu yang sewaktu sekolah selalu menjadi juara kedua lomba mendesain.


Sedangkan dirinya selalu menjadi juara pertama. Sayangnya, yang dipilih untuk dikirim ke kancah internasional selalu Lulu Sang Juara Dua. Karena uang, semua orang lupa kalau Asha-lah yang berhak mengikuti lomba-lomba internasional karena keahliannya dalam menggambar dan juga mendesain.


Asha tersenyum puas kala melihat raut wajah Lulu yang berubah merah penuh amarah ketika dia singgung tentang julukan di masa lalu. Wanita berbusana seksi, berambut pendek dengan make up tebal untuk menutupi kulitnya yang kasar dan penuh jerawat itu, tengah berusaha menahan emosinya. Ejekan Asha, sepertinya berhasil melukai hati seorang Lulu Nirwa.


"Haha ... Kamu begitu mengingatku. Aku juga mengingat julukanmu ketika SMA. Apa ya, astaga jelas-jelas tadi aku mengingatnya," balas Lulu dengan ekspresi yang berpura-pura kesal.


"Si Culun Seksi," jawab Asha mengingatkan dengan santainya sambil memangku kedua tangan.

__ADS_1


"Ah iya, Si Culun. Haha ... Ternyata aku melupakannya."


"Tidak perlu khawatir, karena aku mengingatnya dengan jelas. Termasuk, seorang perundung yang hampir menghilangkan nyawaku," mendengar ucapan Asha, seketika raut wajah Lulu berubah drastis menjadi pucat.


"Itu hanya masa lalu, Asha. Jangan terlalu di ambil hati. Kamu tahu kita sama-sama masih remaja, biasa bila menyakiti seseorang karena hanya dalam masa kelabilan saja," jelas Lulu terlihat begitu gugup begitu Asha menyinggung kejadian di masa lalu.


Kejadian di mana Asha hampir kehilangan nyawa, akibat perundungan tingkat kekerasan yang Lulu lakukan kepada Asha. Sakitnya masih Asha rasakan hingga detik ini, Asha bersumpah dalam hati akan membuat Lulu merasakan apa yang dahulu dia rasakan. Kalau perlu, Asha ingin wanita licik di hadapannya kini, mati di tangannya.


"Luar biasa, kelabilan macam apa yang dapat membuat seseorang hampir kehilangan nyawa. Apakah nyawa sebuah mainan?"


"Hem, karena sekarang kita adalah musuh, aku peringatkan padamu, berhati-hatilah denganku. Karena aku akan membalas semua kejahatanmu di masa lalu," bisik Asha, lalu menempelkan tubuhnya ke tubuh Lorix.


"Sayang, aku ke toilet dulu, ya," izin Asha dengan suara manjanya, suara yang membuat Usan menghela napas kasar serta berdehem kuat.

__ADS_1


"Aku temani?" tawar Lorix.


"Tidak perlu, Sayang." balas Asha.


"Ya sudah, pergilah. Tapi, berhati-hatilah," imbuh Lorix sambil mengusap lembut rambut lurus Asha.


"Terima kasih, Sayang." ucap Asha sambil mengedipkan matanya menatap Usan yang juga menatapnya tajam.


Muach ....


Satu kecupan Asha daratkan di pipi Lorix, setelah itu barulah Asha pergi menuju toilet dengan diantar oleh seorang pelayan.


Setelah kepergian Asha, Lulu mengajak Usan untuk ikut minum bersama dengannya. Namun, Usan malah menolak dan mengatakan ingin pergi untuk mengangkat panggilan yang berasal dari Daddynya. Ketika Usan pergi, Lulu pun siap mengikuti. Namun, Dokter Xean malah menahannya dan mengajaknya minum bersama.

__ADS_1


Usan membohongi Lulu agar bisa lepas dari pantauan desainer licik itu. Setelah memastikan tidak ada seorang pun yang mengikuti, Usan pun berjalan terburu-buru menuju toilet di mana Asha berada. "Malam ini juga, aku akan memilikimu seutuhnya!"


__ADS_2