
"Dia bukan ja lang, Mommy. Dia adalah Adik kandung Kak Simone!" tegas Usan membuat semua orang terbelalak kaget. Begitu pun dengan Simone yang raut wajahnya langsung berubah aneh—kala mendengar pernyataan Usan yang mengatakan kalau Asha, wanita yang mampu menarik perhatiannya itu adalah Saudara Kandungnya sendiri.
Sedangkan Arra dan Mommy Ziva kompak menutup mulut mereka masing-masing. Berbeda dengan Daddy Lolan yang hanya mengerutkan keningnya lantaran tak percaya atas apa yang Putranya ucapkan.
"Maksudmu apa, Usan? Bagaimana kamu dapat mengatakan kalau Asha adalah Saudara Kandungku?" tanya Somone mendekati Sang Adik yang tubuhnya lebih tinggi darinya. Simone sedikit menengadah menatap Usan yang memiliki tinggi tubuh seratus sembilan puluh sentimeter, berbeda tingga Senti darinya yang memiliki tinggi seratus delapan puluh tujuh sentimeter.
"Apa yang dapat membuktikan kalau Asha memiliki ikatan darah dengan Simone? Jelaskan dengan detail beserta bukti-buktinya, karena apa yang kamu katakan saat ini sangat tidak masuk akal?" sambung Daddy Lolan melanjutkan pertanyaan Simone. Sedangkan Arra dan Mommy Ziva masih terdiam dengan kebingungan serta keheranan masing-masing.
"Dua puluh tujuh tahun lalu, Tuan Bredariol yaitu Ayah kandung Asha saat ini, telah membeli seorang wanita bernama Disha yang dijual oleh Suaminya sendiri yaitu Edrik," imbuh Usan tenang.
Simone tercengang mendengar apa yang barusan Usan katakan, jika benar Tuan Bredariol yang membeli Ibunya, maka Asha benar-benar adalah Adiknya. Simone bingung harus senang atau sedih, karena kedua rasa itu dapat dia rasakan disaat yang bersamaan. Simome memang merasa sangat senang karena mengetahui kalau dirinya punya seorang saudara perempuan yang begitu cantik, hebat, dan berani seperti Asha.
__ADS_1
Namun, Simone juga merasakan kesedihan yang begitu dalamnya, kala mengetahui Ibu Asha telah meninggal dunia. Itu artinya, Ibu yang selama ini Simone tunggu-tunggu kepulangannya, benar-benar telah pergi meninggalkannya untuk selamanya-lamanya.
Simone ingin tersenyum, tapi air matanya terus memaksa ingin menerobos pertahanannya. Hingga pada akhirnya, Simone menjauhkan tubuhnya ke atas sofa secara kasar, bersamaan dengan tangisannya yang terisak-isak. Ini adalah pertama kalinya Simone menangis setelah dua puluh tujuh tahun berlalu.
Melihat Sang Kakak tercinta yang begitu rapuh, Arra segera duduk di samping Simone, menepuk-nepuk pelan pundak kekar pria itu untuk menenangkan. Melihat pria yang dicintai bersedih, Arra juga turut bersedih.
Namun, disatu sisi Arra ingin berteriak bahagia. Bahagia karena lega mendengar bahwa Asha adalah Adik kandung dari pria yang dia cintai. Cemburunya selama ini sungguh sia-sia.
"Kenapa Kak Simone malah bersedih? Tidakkah seharusnya Kakak mengkhawatirkan Asha yang pergi dalam keadaan terluka. Apa Kak Simone menyesal karena dia adalah Adik kandung Kakak, dan Kakak menyesal karena tidak bisa menjadikannya sebagai kekasih?" tanya Usan mendadak mengeluarkan kebodohannya kala cemburu menguasainya.
"Apa yang kamu katakan Usan! Tentu Kakakmu sedih karena itu artinya, Ibu yang selama ini dia rindukan memang telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya," terang Daddy Lolan membuat Usan merasa malu sendiri.
__ADS_1
"Usan, cepat pergilah dan susul Asha," pinta Simone menengadah.
"Tentu saja," jawab Usan langsung melesat pergi.
***
"Sialan, pria bodoh itu benar-benar tidak menyusulku. Aw! Nggak kaki, nggak bahu, nggak lengan, semuanya terasa perih. Rumah orang kaya kenapa rata-rata rumahnya jauh dari jalan raya?" keluh Asha selama berjalan kaki menyusuri jalanan sepi dan gelap untuk menuju jalan raya di depan sana. Tidakkah dirinya sadari, bila Mansion miliknya juga jauh dari jalan raya.
Asha yang semula ingin menyeberang jalan, seketika berhenti saat melihat ada sebuah mobil Lamborghini berwarna merah melaju dengan kecepatan tinggi. Asha pun memilih tetap berdiri di pinggi jalan. Namun, Asha dibuat kaget kala mobil mewah itu malah menepi dan ngerem mendadak dan hampir saja menabraknya.
"Sei ferito? (Apa kamu terluka?)"
__ADS_1