Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi

Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi
SEASON 2 ~ Bab 8


__ADS_3

"Mommy Ziva, pelayan, kalian semua di mana? Keluarlah atau aku akan ....


Asha menghentikan kalimatnya ketika sebuah lampu sorot menyala tiba-tiba. Asha menatap penasaran seorang pria yang memakai setelan jas, yang berdiri di depan sana dengan membelakanginya.


Sebelum melangkah, Asha mengedarkan pandangan ke kiri dan juga ke kanan, tetapi dia tidak menemukan apa pun dan siapa pun. Asha mengerutkan alisnya kala merasa sangat bingung akan posisinya saat ini. Mengenakan gaun pengantin, seorang pria di depan sana, juga panggung altar di depan pria itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Asha sulit mencernanya.


Penasaran akan sosok di depan sana, Asha pun mulai melangkah dengan perlahan. Semakin dekat, Asha semakin merasa familiar dengan punggung seorang pria yang tak kunjung membalikkan badannya.


"Usan, kamu Usan," panggil Asha pada akhirnya mengenali pria itu, karena hanya Usan yang memiliki tubuh sekekar itu.


Ketika Usan membalikkan badannya, saat itu pula Asha dibuat terperangah dengan sosok bertubuh jenjang dan kekar berbalut setelan jas berwarna hitam, wajah tanpa maksimal, dengan rambut yang ditata rapi. Melihat betapa tampannya Usan, Asha pun menatap tanpa mengedipkan matanya, merasa rugi bila tak memandang ketampanan hakiki seorang pria yang kini melempae senyuman lebar padanya.


Tak hanya Asha yang kagum akan penampilan Usan. Tapi begitu juga sebaliknya, Usan juga semakin mengagumi kecantikan seorang Asha dengan tubuh idealnya. Seketika Usan merutuki kebodohannya di masa lalu, bagaimana mungkin dirinya menyia-nyiakan seorang wanita seksi seperti Asha. Wanita paling sempurna di muka bumi ini, wanita yang telah menjeratnya dengan ranjangnya yang hangat.


Melihat Asha yang terperangah kaget, membuat Usan semakin tak sabaran untuk membuat wanita itu menjadi miliknya seutuhnya. Tubuh seksi dan kecantikan wajah Asha bak bidadari, sangat tidak nyata. Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan seorang wanita cantik yang membuat semua kaum hawa iri dengannya.

__ADS_1


Dengan senyuman manisnya, Usan melangkah tak sabaran mendekat pada Asha yang juga melangkah maju. Beberapa detik kemudian, mereka sudah saling berhadapan-hadapan dengan jarak satu meter. Dengan jarak sedekat itu, Usan merasa ingin mengangkat tubuh seksi Asha, lalu menguncinya di dalam kamar.


Bermain panas bersama Asha, rasanya satu malam saja tidak akan cukup baginya. Asha benar-benar menjadi candu yang dapat menariknya bagai magnet. Memandangnya saja Usan sudah berkelana, entah akan bagaimana kondisinya bila berada di atas tubuh Asha. Persis seperti tiga tahun lalu.


"Ada apa dengan semua ini? Apa kamu menjebakku?" tanya Asha menatap Usan intens.


"Ini kejutan untukmu," jawab Usan langsung mengambil posisi dengan herjongkok di hadapan Asha. Mulai mengerti akan situasi dan kondisi saat ini, Asha hanya dapat menelan saliva yang tercekat sambil merasai jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Dasha Drece, aku sangat mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Untuk itu, maukah kamu menikah denganku?" Asha terbatuk seakan terselak salivanya sendiri. Apa yang Usan lakukan dan apa yang Usan ucapkan, membuat Asha merasa kesulitan bernapas.


"A-ayah!" seru Asha kaget.


"Asha sayang, jangan pikirkan hal apa pun, kamu berhak bahagia, Nak. Ikuti apa kata hatimu. Ayah tahu kamu mencintai Usan, terima dan menikahlah dengannya, Ayah bahagia melihatmu bahagia." Asha tercengang kala melihat ada Sang Ayah yang muncul tiba-tiba.


Asha tahu Ayahnya masih berada di luar negeri untuk mengeluarkan seluruh racun yang mengendap di tubuhnya. Namun, kini Sang Ayah ada di ruangan yang sama dengannya, dengan raut wajah bersinar menunjukkan kalau Sang Ayah telah pulih dari sakitnya.

__ADS_1


Asha terdiam dengan mulut terbuka lebar kala melihat pria paruh bayah yang juga mamakai setelan jas itu berjalan mendekatinya. Tak hanya kehadiran Sang Ayah yang menjadi kejutan bagi Asha. Tapi juga kehadiran Lorix yang berada di sisi Ayahnya. Mendapatkan begitu banyak kejutan bahagia, Asha pun tak lagi sanggup menahan air mata yang sedari tadi berusaha dirinya bendung.


"Ayah!" seru Asha memeluk erat Sang Ayah dengan tangisan histerisnya.


"Ayah datang khusus di hari pernikahanmu, Nak. Usan adalah pria terbaik untukmu, Ayah yakin dia akan menjagamu dengan nyawanya," tutur Tuan Riol sambil mengelus pundak Sang Putri tercinta. Asha melepaskan pelukannya, kemudian memandang Tuan Riol dengan kerinduan yang begitu besar.


"Benar apa yang Ayahmu katakan Asha. Menikahlah dengan Usan. Karena dengan begitu, Kakak juga dapat menikahi Gyana." lanjut Lorix.


"Apa kalian masih lama? Berapa lama lagi aku akan berjongkok?"


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2