
"Oh iya, ini juga sangat menganggu suasana di kamar. Ini, ambilah."
Pyaarr!
Asha melempar semua foto-foto Laura yang menempel di dinding.
"Aw!" teriak Ibu dan Anak itu bersamaan kala beberapa pecahan kaca terkena kaki mereka masing-masing.
"Ops, maaf aku tidak sengaja," ujar Asha lalu pergi begitu saja, meninggal Nyonya Kiya dan Laura dengan luka lecet di kaki.
"Ibu, kaki ku perih Ibu," kesal Laura.
"Ayo kita obati dulu kaki kita, setelah ini baru kita susun rencana untuk melenyapkannya," ajak Nyonya Kiya.
Sedangkan Asha tengah duduk bersama Asisten Via di pinggir ranjang yang ada di kamarnya. "Bagaimana, Via? Apa semua sudah beres?" tanya Asha serius.
"Iya, Nona. Semua kamera tersembunyi sudah dipasang, saya pastikan tidak ada satu pun pelayan maupun pengawal di rumah ini mengetahuinya," lapor Asisten Via.
"Kerja bagus, aku merasa sangat lelah," Asha membaringkan tubuhnya.
"Nona istirahatlah, saya akan berjaga."
"Terima kasih, Via."
"Sama-sama, Nona."
__ADS_1
***
Sore menjelang malam itu, Asha terbangun dari tidur dengan keringat dingin yang membasahi wajah, rambut dan juga tubuhnya. Asha bangkit sambil mengatur napasnya yang tersengal.
"Kenapa, Nona? Apa Nona baik-baik saja?" tanya Asisten Via yang semula sibuk dengan laptonya, seketika bangkit dari duduknya kala khawatir melihat keadaan nona mudanya.
"Aku baik-baik saja Via, hanya bermimpi buruk tentang Ibuku," jawab Asha menyeka keningnya yang dipenuhi keringat yang terus menetes.
"Minumlah dulu, Nona," Asha menyambut dan meneguk habis segelas air putih yang di ulurkan Asisten Via.
"Terima kasih, Via. Terima kasih karena selalu ada dan selalu menemaniku," ucap Asha tulus.
"Sudah tugas saya, Nona. Oh iya, sudah hampir malam, saya akan siapkan air hangat untuk mandi Nona," imbuh Asisten Via segera melangkah menuju kamar mandi untuk menyiapkan keperluan Asha. Namun, langkahnya terhenti kala Asha mencegatnya.
"Tidak perlu, Via. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Tapi sudah tidak terlalu sakit lagi, sudah mendingan sekarang. Kamu pergilah dan lihat perkembangan di luar, aku akan baik-baik saja," keukeuh Asha.
"Baiklah, Nona." Asisten Via akhirnya mengalah.
Setelah kepergian Asisten Via, Asha pun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Cukup sulit bagi Asha untuk membersihkan diri karena dia harus memastikan agar luka pada bahunya tak terkena cipratan air.
Cukup lama Asha berada di dalam kamar mandi, hingga akhrinya keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan pakaian seksi seperti biasa.
Setelah merasa penampilannya sudah oke, Asha pun keluar dari kamarnya. Saat akan menuju ruang keluarga, Asha tak sengaja berpapasan dengan Laura yang akan mengantarkan teh khusus kepada Ayahnya yaitu Tuan Riol. Asha menatap teh itu dengan pandangan curiga.
__ADS_1
"Laura," panggil Asha dan Laura pun menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Kak Asha?" jawab Laura dengan senyuman paksanya.
"Ibumu ke mana?" tanya Asha santai.
"Ibu sudah berangkat ke perusahaan karena ada sedikit masalah di sana," jawab Laura, lalu kembali melangkah menuju kamar Ayahnya.
"Tunggu," cegat Asha.
"Ada apa lagi, Kakak Asha?" tanya Laura kesal.
"Teh itu untuk Ayah Riol, bukan?"
"Iya."
"Kemarikan, biar aku saja yang berikan," pinta Asha memaksa.
"Tapi—"
"Tapi apa?, aku tidak akan membunuh Ayahmu," sahut Asha.
"Ba-baikalah, ini ambilah, Kak." Asha langsung menerima teh khusus yang Laura ulurkan, kemudian langsung pergi ke kamar Ayahnya untuk memberikan teh itu.
Tiba di depan pintu kamar Ayahnya, Asha menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan untuk menenangkan dirinya. Setelah itu, barulah Asha mengetuk pintu kamar Sang Ayah.
__ADS_1
"Masuk!" saut Tuan Riol di dalam sana.
"Asha ....