
Gavin dan Anandita berangkat seperti biasa kesekolah saat diperjalanan Anandita kembali bertanya tentang masalah orang mencurigakan kemaren.
"Vin bagaimana dengan masalah orang yang mengikuti kita apakah sudah ada titik terang nya?"tanya Anandita.
"Jangan pikirkan itu,ayah sudah mengutus anak buahnya untuk menangani masalah itu,Yank".
"Tapi aku khawatir setiap kali berada dikantor atau berjalan dilorong sekolah aku merasa was was bagaimana kalau ada yang tiba tiba memotret atau ingin berbuat jahat padaku atau dirimu",gerutu Anandita.
Gavin hanya mendengari ucapan Anandita tanpa membalas membahas itu.
"Sini",Gavin bermaksud menarik Anandita kedalam pelukannya.
"Vin kamu apa apaan sih!,bagaimana nanti kalau ada yang melihat apa yang kamu lakukan!",Anandita segera mendorong tubuh Gavin menjauh darinya.
Gavin tidak melawan saat Anandita mendorong tubuhnya agar tidak lagi memeluk nya, tapi dia hanya menatap kearah depan tanpa mengatakan apapun.
Tinggal satu bulan lagi pikirnya,setelah ujian sekolah ini dia ingin semua orang tau tentang hubungan mereka,apalagi sekarang Anandita sedang Hamil meskipun perutnya belum terlihat membuncit tapi perubahan yang lain mulai terlihat,kalau sampai lebih lama lagi pasti orang orang akan semakin banyak yang bertanya tanya nanti,bukan hanya orang yang memotret mereka kemarin,tapi mungkin orang lain yang tidak senang dengan Anandita,mereka bisa melakukan tindakan ekstrem pada Anandita dan itu membuat Gavin khawatir.
Tapi kalau menyuruh Anandita untuk tetap dirumah itu juga tidak mungkin karena dia pasti menolak.
"Vin!"panggil Anandita.
Gavin menoleh"nanti mau pergi kerumah ayah setelah pulang sekolah?"tawarnya.
"Memang boleh"tanya Anandita tidak percaya.
"Tentu saja boleh,kamu pikir aku melarangmu pergi kesana?".
Anandita mengangguk "Bukannya kamu bilang kamu nggak suka aku menelpon ayah,atau menemuinya".
"Itu kalau sendiri tapi nanti aku ikut bersamamu jadi tidak masalah".
Mendengar itu Anandita hanya bergumam'dasar egois',gumamnya pelan.
Gavin langsung menoleh kearah Anandita.
"Bukan apa apa",ucap Anandita.
"Kamu tenang saja selama disekolah kalau ada apa apa hubungi aku, tapi aku yakin tidak akan ada apa apa sekarang,semua sudah diselesaikan oleh ayah",ucap Gavin sambil mengecup puncak kepala Anandita.
"Jadi orang itu sudah tertangkap?".
Gavin tidak menjawab secara langsung karena dia tau kalau dia menjawab Anadita pasti tidak akan berhenti bertanya lagi dan lagi,sampai sedetail detailnya.
"Turunlah berhenti membahas masalah itu terus!"perintah Gavin.
"Tapi,Vin!"Anandita masih bermaksud protes tapi Gavin langsung menempelkan telunjuknya kebibir Anandita menyuruh Anandita berhenti bertanya.
Akhirnya Anandita menuruti perintah Gavin untuk tidak bertanya lagi dan langsung turun dari mobil.
__ADS_1
****
Setelah pulang sekolah mereka sudah didalam mobil bersiap untuk meninggalkan lingkungan sekolah.
"Kita akan langsung kerumah ayah?"
Gavin mengangguk"Aku sudah menelpon ayah mengatakan kita akan kesana setelah pulang sekolah ini",jawab Gavin.
Mendengar itu Anandita memilih diam sampai Gavin menjalankan mobilnya menuju rumah besar Ayah Bagaskara.
Setelah berkendara sekitar satu jam mereka mulai memasuki kawasan perumahan milik ayah Bagaskara.
Sampai didepan rumah,rumah besar itu tampak sunyi seperti biasa.
Anandita langsung turun diikuti Gavin dibelakangnya dia bermaksud langsung masuk tapi tangannya langsung dicekal oleh Gavin.
"Kenapa?"Anandita langsung menoleh kearah Gavin.
"Ayo masuk",Gavin menbawanya masuk kedalam rumah dengan menggandeng tangannya mesra.
Melihat itu Anandita hanya menatap Gavin heran,ada ada aja,batinnya lalu mengikuti langkah Gavin masuk kedalam rumah.
Sampai didalam suasana rumah terlihat sepi,jadi Anandita berteriak memanggil bik Siti supaya datang.
"Bik...bik Siti!"panggilnya mendengar itu dengan tergopoh gopoh Bik Siti keluar dari dapur.
Anandita mengangguk dan langsung memeluk wanita tua itu hangat.
"Mana Ayah?"tanyanya sambil berjalan untuk duduk diruang tamu.
"Bapak masih dikantor tapi sebentar lagi pasti pulang",jawab Bik Siti.
Dan benar tak lama terdengar suara mesin mobil berhenti didepan rumah.
"Itu ayah,Anandita bermaksud berdiri dari duduknya dan bermaksud kedepan menemui Bagaskara,tapi Gavin langsung mencegahnya dan menyuruhnya tetap duduk.
Melihat itu wajah Anandita langsung cemberut.
"Disini saja!"perintah Gavin.
Sementara itu bik Siti yang melihat itu hanya tersenyum kecil sambil menggeleng.
Bagaskara masuk kedalam rumah dan melihat mereka senua ada diruang tamu dia langsung duduk disofa sebrang mereka.
"Kapan kalian sampai ?"tanyanya pada mereka berdua.
"Baru saja"jawab Gavin.
Bagaskara mengamati kedua orang didepannya secara bergantian baru dia bicara lagi.
__ADS_1
"Willy sudah menemukan orang yang memotret kalian beberapa waktu lalu",ucap Bagaskara.
Mendengar itu Anandita tampak bersemangat ingin mendengar selanjutnya,sementara Gavin menanggapinya dengan dingin.
"Siapa dia ayah?"tanya Anandita terdengar antusias.
"Seorang murid kelas XI disekolah kita",jawab Bagaskara.
Anandita mengerutkan keningnya.
"Cuma murid tapi untuk apa dia melakukan itu?"tanya Anandita heran.
"Menurut keterangannya dia melakukan itu untuk membuktikan pada teman temannya bahwa benar kalian berdua punya hubungan spesial".
"Aneh?",ucap Anandita.
"Itu bukan hal yang aneh,kalau dia bisa membuktikan itu pada teman temannya dia akan jadi terkenal dan namamu akan buruk dimata para muridmu",terang Gavin.
Mendengar itu Anandita langsung menatap kearah Gavin.
"Kamu sudah tau tentang ini Vin?" tanya Anandita curiga.
"Aku juga seorang murid jadi aku tau bagaimana pandangan mereka saat mereka merasa kita dekat kalau tidak kamu yang dituduh mendekatiku tentu aku yang diduga mendekatimu karena ingin nilai bagus".
"Aku tidak mengerti hal seperti itu",jawab Anandita.
"Ayah juga tidak terlalu mengerti alasan konyol anak zaman sekarang mengganggu hidup orang,apa istilah keren mereka yang suka mengikuti orang atau artis kemana mana,ayah tidak paham",ucap Bagaskara.
"Stalker,itu istilah sekarang dan itu sangat berbahaya karena dia bisa membuat hidup kita dihantui ketakutan",jawab Gavin.
"Apakah seperti itu Vin,murid yang membuntuti kita?"tanya Anandita khawatir.
"Kalau kita biarkan akan seperti itu karena itu aku menyuruh ayah untuk menangkapnya dan memberi efek jera".
"Kamu..kalian tidak membunuhnyakan!",tanya Anandita khawatir.
Gavin dan ayah Bagas menatap Anandita secara bersamaan.
"Jangan berpikir yang aneh aneh Yank,kamu pikir kami mafia yang kebal hukum",ucap Gavin dengan mencubit pipi cubby Anandita.
"Syukurlah,aku sudah khawatir jangan sampai Beby kita lahir sebatang kara",ucapnya pelan,tapi masih terdengar oleh mereka.
Mendengar itu Bagaskara langsung menatap kearah Anandita dan Gavin secara bergantian.
"Apa artinya ini..."
"Ayah akan jadi kakek dalam beberapa bulan lagi",jawab Gavin.
Mendengar itu Bagaskara langsung menatap kearah Anandita dari atas kebawah,lalu berhenti diperut Anandita yang masih rata,tapi badan Anadita memang lebih berisi dari terakhir kali mereka bertemu.
__ADS_1