
Anandita sedang membersihkan rumah lamanya sengaja ingin mencari kesibukan untuk mengalihkan pikirannya dari Gavin.
Sudah sejak tadi malam dia ingin meminta Gavin untuk datang kerumah ini,tapi sengaja ditahannya,dia masih mencoba berpikir bahwa apa yang dilakukannya saat ini adalah yang terbaik untuk mereka meskipun hati kecilnya tau itu salah.
Tiba tiba seseorang mengetuk pintu rumahnya,mendengar itu Anandita mengira itu adalah Gavin dengan cepat Anandita berjalan untuk membuka pintu rumahnya.
"Tok...tok..."
"Sebentar!",teriak Anandita dengan semangat.
Anandita membuka pintu dengan tersenyum lebar berpikir Gavin sudah berdiri didepan pintu sekarang.
"Gavin aku...".
Anandita langsung terdiam saat melihat seorang wanita yang menggendong anak berumur sekitar satu tahun berdiri didepan pintu rumahnya.
"Hay Dita",sapa perempuan itu ramah pada Anandita.
"Hay...",balas Anandita bingung bercampur terkejut.
"Boleh masuk?",tanya perempuan cantik yang umurnya tidak jauh beda dengan dirinya itu.
Mendengar permintaan perempuan itu Anandita hanya bisa mengangguk dan menyingkir dari depan pintu agar tamunya bisa masuk kedalam rumah.
"Silahkan duduk".
Dengan sopan Anandita menyuruh perempuan itu duduk diruang tamu.
"Oh iya ini anakku Arabela'.
Mendengar itu Anandita langsung tersenyum ramah pada anak kecil itu,"Hay Arabela senang bisa bertemu denganmu",sapa Anandita dengan menyentuh tangan gadis kecil itu.
"Kamu pasti bingung ya siapa aku?".
Anandita langsung mengangguk pada perempuan itu.
"Kenalkan aku Sofia istri mas Heru koki diOrange kafe",terangnya membuat Anandita menarik nafas lega mendengarnya.
'Lalu darimana kamu tau aku disini?',tanya Anandita bingung.
'Mas Heru yang memintaku untuk berkunjung kemari',terangnya.
'Apa ada masalah diOrange Kafe?',tanya Anandita terdengar khawatir.
__ADS_1
Sofia menggeleng.
"Aku kemari hanya ingin menemanimu ngobrol, karena mas Heru bilang mungkin untuk beberapa hari Gavin nggak bisa pulang dia sibuk mengurus masalah dikafe yang sedikit terbengkalai selama ini'.
Mendengar itu Anandita terdiam,apa mungkin ini karena dia yang terlalu egois akhir akhir ini hingga Gavin tidak punya waktu lagi untuk mengurusi pekerjaannya,pikir Anandita.
Melihat Anandita terdiam Sofia jadi khawatir.
"Ada apa Dita?",tanyanya.
"Pasti selama beberapa bulan ini kami sudah sangat merepotkan mas Heru untuk membantu menjaga Kafe".
"Ya,memang tapi bukankah Gavin membayar uang lemburnya cukup besar jadi lumayan juga sih".
"Apa kamu nggak masalah Sofia dengan hal itu?",tanya Anandita penasaran.
"Dulu awalnya iya sih aku selalu protes karena mas Heru sering pulang malam bahkan kadang juga menginap diKafe bersama Gavin,'
mendengar itu Anandita merasa tidak enak pada Sofia,'Maaf Sofia".
Mendengar ucapan Anandita Sofia hanya tersenyum lembut"Jangan merasa tidak nyaman denganku,mungkin awalnya memang berat bagiku tapi seiring berjalannya waktu aku sudah mulai memahami apa pekerjaan suamiku".
"Mas Heru sangat beruntung mempunyai istri seperti dirimu apalagi kalian sudah punya anak yang sangat imut seperti Arabela",ucap Anandita.
"Iya kami juga akan segera punya beby dalam beberapa bulan lagi",ucap Anandita dengan wajah bahagia.
"Selamat ya".
Anandita mengangguk "Makasih Sofia".
"Saat hamil Arabela dulu aku, ngidam aneh aneh sampai mas Heru sakit kepala mendengar permintaan anehku dulu,bagaimana denganmu Dita?".
Mendengar itu Anandita menghela nafas,"Kalau makanan atau muntah seperti layaknya orang hamil sih nggak, tapi lebih dari itu",jawab Anandita sedih mengingat bagaimana dia akhir akhir ini.
"Maksudmu ada masalah dengan kandunganmu?",tanya Sofia ikut khawatir.
Anandita menggeleng,"Bukan itu tapi Apa kamu pernah mendengar tentang bawaan hamil yang ingin marah marah terus pada suaminya?",tanya Anandita khawatir.
Sekarang Sofia yang gantian menggelengkan kepalanya,"Apa kamu merasakan itu sekarang Dita?".
Anandita langsung mengangguk,"Sebenarnya bukan hanya pada Gavin saja tapi imbasnya paling parah pada Gavin".
"Pasti sangat tidak nyaman",ucap Sofia.
__ADS_1
"Iya Sofia aku merasa sangat bersalah pada Gavin sebenarnya tapi aku tidak tau bagaimana mengatasi masalahku ini",ucap Anandita sedih.
"Kalian sudah saling bicara?",tanya Sofia.
"Iya,tapi aku selalu merasa Gavin nggak mengerti aku bahkan puncaknya aku minta cerai kemarin,dan jujur saja aku sangat menyesalinya setelah mengatakan itu'.
"Aku juga pernah seperti itu dulu".ucap Sofia.
"Benarkah!",tanya Anandita tidak percaya.
Sofia mengangguk"Bahkan lebih parah kami pernah benar benar bercerai sebelum Arabela lahir".
"Lalu,bagaimana kalian kembali lagi bersama?".
"Karena cinta,klise sekali bukan tapi itulah yang terjadi,aku merasa bahwa aku tidak bisa hidup tanpa mas Heru begitu ,pun sebaliknya".
"Lalu bagaimana kalian menyikapi perbedaan kalian selama ini setelah itu?".
"Mulai belajar saling mendengarkan saling mengalah dan juga mencoba menahan emosi sebisa mungkin, apalagi sejak ada Arabela,kami lebih banyak saling menahan emos,i karena tidak ingin Arabela mendengar pertengkaran kami,dan juga berusaha tetap punya waktu untuk berdua,meskipun sulit karena kesibukan mas Heru".
"Mungkin aku juga harus mulai mengerti dan memahami Gavin begitu juga sebaliknya,dan juga berusaha menahan emosiku yang nggak terkontrol ini".
"Pelan pelan saja,aku juga masih harus banyak belajar dengan Mas Heru, karena menurutku sebenarnya dalam pernikahan itu kita memang harus banyak belajar,belajar memahami perbedaan karakter dari dua orang yang berbeda".
"Ya dan ku akui itu cukup sulit karena meski usia kita sama tapi sepertinya pengalaman hidupmu lebih banyak Sofia karena itu kamu lebih bijak".
"Bukan lebih banyak,tapi aku lebih dulu merasakannya dan karena kondisi kita berbeda itu yang membuat kamu merasa aku lebih bijak, kalau kita berada diposisi yang sama dan waktu yang sama mungkin akan lain jadinya".
"Kamu benar,jadi apa mas Heru juga ikut menginap dikafe bersama Gavin?',tanya Anandita penasaran.
Sofia menggeleng,"Gavin meminta mas Heru untuk pulang tadi malam",jawab Sofia.
Mendengar itu Anandita semakin tidak tega kalau Gavin malam ini harus tidur sendirian lagi dikafe.
"Apa Gavin berada di Kafe sendiri sekarang?",tanya Anandita.
"Kamu tidak menelponnya dari kemaren?',tanya Sofia.
Anandita menggeleng dan langsung merasa malu karena harus bertanya khabar suaminya pada orang lain padahal seharusnya kalau dia tidak gengsi dia bisa menelpon Gavin sendiri.
"Maaf aku nggak bermaksud membuatmu tidak nyaman,aku juga pernah karena terlalu gengsi dulu melakukan hal hal seperti itu,tapi kembali lagi,setelah kita menikah banyak hal hal yang berubah dalam hidup kita dan setiap orang berbeda beda dalam menghadapi perubahan itu,jadi jangan merasa malu padaku Dita".
"Iya,makasih mau menemaniku untuk bicara hari ini sekarang aku merasa sedikit lebih baik setelah kita bicara".
__ADS_1