
Anandita mencoba meregangkan tubuhnya yang terasa sangat lelah saat baru bangun.
'Ini gara gara ulah Ayah Bagas yang mengajak jalan jalan aja harus keluar kota segala'gerutu Anandita sambil berjalan kekamar mandi.
Dikamar mandi Anandita melepas semua bajunya dan langsung mengguyur tubuhnya dishower,setelah selesai Anandita menggosok giginya didepan wastafel,saat melihat kecermin wastafel Anandita merasa bingung karena banyak sekali bekas kemerahan disekitar leher dan dadanya.
'Ada apa ini,apakah dia sedang alergi karena salah makan sesuatu kemaren hingga banyak tanda merah dibadannya,pikir Anandita.
Karena penasaran Anandita melepas handuk yang membungkus tubuhnya,ternyata dibagian perut dan pahanya juga banyak sekali terdapat tanda merah.
Melihat itu Anandita langsung keluar dari kamar mandi dan segera memakai bajunya, dia bermaksud meminta obat pada bik Siti.
Dengan langkah cepat Anandita menuruni tangga menuju dapur tanpa menengok keruang makan.
"Bik..bik Siti!!"panggil Anandita lantang.
Dengan langkah tergesa gesa bik Siti datang menghampiri Anandita.
"Ada apa neng Dita, kenapa manggil saya dengan keras",tanya bik Siti.
"Maaf tapi coba bibik lihat ini?!".
Anandita menunjukan tanda tanda merah yang ada ditubuhnya.
Bik Siti memandang tanda tanda merah ditubuh Anandita dengan canggung.
"Sepertinya aku alergi sesuatu?"ucap Anandita dengan heran.
"Maksud neng Dita?".
"Kemarin aku jalan jalan dengan ayah dan sepertinya aku salah makan deh bik",Jelas Anandita.
"Ehemmm!!,jangan bicara sembarangan,itu bukan alergi karena pergi denganku,tapi karena dia!,bisa bisanya kau menuduh ayahmu ini!".
Anadita langsung menengok kemeja makan mendengar apa yang dikatakan ayah Bagas,dan dia terkejut karena melihat Gavin duduk diam tanpa suara dikursi berhadapan dengan sang ayah.
Secara refleks Anandita langsung berlari kearah Gavin dan langsung memeluk erat suaminya itu.
"Gavin!!!,aku kangen banget!!",teriak Anandita dengan sangat bahagia.
"Aku juga Yank"jawab Gavin dengan membalas pelukan Anandita.
"Ehemm!!,bisakah kalian menahan diri sedikit!".
Mendengar suara ayah mertuanya Anandita langsung melepaskan pelukannya pada Gavin.
"Maaf ayah reflek",ucap Anandita.
Bik Siti yang melihat adegan itu hanya senyum senyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Duduk Yank!"perintah Gavin tanpa memperdulikan hardikan dari ayahnya.
Anandita mengangguk lalu duduk dikursi sebelah Gavin.
__ADS_1
" Kamu datangnya kapan,Vin?"tanya Anandita dengan menghadap kearah Gavin.
"Tadi malam",jawab Gavin.
"Tadi malam maksudnya saat aku tidur?!"tanya Anandita tidak percaya.
"Iya,kamu sudah tidur waktu aku datang".
"Kenapa kamu nggak bilang mau pulang,kalau kamu bilang aku pasti nggak akan tidur cepat!?"
"Aku sudah mencoba membangunkanmu tapi tidak berhasil".
"Maksudmu aku nggak mau bangun?!".
Gavin menganggukan kepalanya.
"Maaf itu karena aku terlalu lelah kemaren ikut ayah jalan jalan".
"Kemana kalian jalan jalan sampai kamu kelelahan?"tanya Gavin.
"Itu..".
"Ehem,kalian akan ngobrol sampai kapan!, cepat makan sarapan kalian!"perintah ayah Bagas pada mereka berdua.
Mereka berdua terpaksa menghentikan obrolannya dan melanjutkan sarapan seperti perintah Ayah Bagaskara.
Setelah tinggal mereka berdua dimeja makan baru Anandita berani membuka mulutnya lagi untuk bertanya pada Gavin yang sudah selesai makan.
"Hemmm".
"Bukannya kamu bilang akan pulang beberapa hari lagi,kenapa tiba tiba sudah pulang?"tanya Anandita heran.
"Nggak papa,lombanya selesai lebih cepat jadi aku bisa pulang beberapa hari lebih cepat,kamu nggak senang aku pulang?"
"Senang aku sangat senang aku hanya merasa ini masih seperti mimpi",ucap Anadita dengan antusias.
"Kalau senang,peluk lagi sini!"gavin merentangkan tangannya menyuruh Anandita masuk kedalam pelukannya.
Tapi Anandita malah menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Yank,katanya kangen?"
"Iya,tapi nggak mau peluk sekarang nanti ditegur sama ayah Bagas lagi!"ucap Anandita dengan wajah cemberut.
"Apa yang diucapkan Bapak nggak usah terlalu dianggap neng,Bapak memang orangnya seperti itu,itu cuma pura pura supaya nggak hilang pamor kejamnya"celetuk bik Siti yang lewat diruang makan setelah mengantar Bagaskara keluar.
"Tu kamu dengarkan Yank,apa kata bik Siti?!"
"Iya,tapi....malu ada bik Siti",Anandita memelankan suaranya saat bicara.
"Nggak papa neng,anggap aja Bibik nggak ada,biasa aja kalau mau melepas kangen sama istri tapi Mas Gavin juga jangan bikin badan neng Dita kaya baru dikeroyok lebah gitu kasian tau Mas gimana Mau keluar nanti?"ucap bik Siti lalu berlalu dari hadapan mereka berdua.
Mendengar apa yang diucapkan bik Siti Anandita menatap Gavin yang hanya diam sambil membuang pandangannya.
__ADS_1
"Vin!!,jadi kamu yang buat badanku merah merah begini??"tanya Anandita dengan tajam.
"Itu bukan salahku Yank,".
"Lalu salah siapa?".
"Salah kamu kenapa nggak bangun bangun aku sudah sangat pengen tapi kamu tidur kaya orang mati!"ucap Gavin membela diri.
"Aku tidak tau, kemaren aku terlalu lelah mengikuti ayah jalan jalan keluar kota".
Mendengar itu Gavin langsung menatap Anandita tajam.
"Kenapa kamu mau ikut?,kamu nggak sadar ayah sengaja melakukan itu padamu!?"
"Aku nggak tau kalau keluar kota,Vin kupikir ayah hanya mengajakku jalan jalan disekitar sini".Anandita menundukan wajahnya karena merasa bersalah.
"Sepertinya kita harus segera pulang dari sini",ucap Gavin.
"Kenapa?"
"Apa kamu nggak sadar kalau ayah sengaja melakukan hal hal aneh padamu,sepertinya ayah merasa senang kalau melihat kita sengsara".
Anandita jadi berpikir sepertinya memang ayah Bagas ingin mengerjai mereka dengan mengajak Anandita keluar kota kemaren.
"Memangnya kamu bilang ayah akan pulang tadi malam?".
"Bukan hal sulit untuk mengetahui informasi seperti itu bagi ayah",terang Gavin.
Benar juga pikir Anandita,ayah Bagaskara bukanlah orang biasa apalagi ini menyangkut anak semata wayangnya,pikir Anandita.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan soal itu, lain kali jangan selalu menuruti apa yang ayah inginkan karena kamu ingin jadi menantu yang baik untuk ayah, jadinya kamu sendiri yang rugi tadi malam",ucap Gavin dengan bangkit dari kursi dan berjalan menuju kamar mereka.
"Gavin tunggu!!,apa maksudmu aku jadi rugi karena ikut ayah kemaren!?"Anandita langsung bangkit dan berjalan cepat menyusul Gavin yang masih sampai dianak tangga paling bawah.
Anandita langsung mencekal tangan Gavin setelah berhasil mengejarnya.
"Isssh,buDita ternyata mulai dengan otak biji jagungnya"ucap Gavin,lalu merangkul pundak Anandita mengajaknya bareng naik keatas.
"Vin,jawab!"
"Hemm,nanti dalam kamar aja",jawab Gavin.
"Kenapa?"
"Nggak bebas kalau disini bisa dilihat bik Siti atau ayah yang bisa muncul sewaktu waktu".
"Ayah nggak ada ,bik Siti juga sedang dibelakang".
Bukannya menjawab Anandita Gavin malah langsung menggigit pipi Anandita dengan gemas.
"Gavin!!"Anandita langsung menyentuh pipinya yang terasa sakit digigit Gavin.
Gavin malah tertawa melihat Anandita kesakitan.
__ADS_1