Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
98.Ngambek.


__ADS_3

Anandita menatap Gavin yang mendiamkannya dari kemaren setelah dia bicara dengan Ayah Bagas.


"Kamu kenapa,Vin?"tanya Anandita saat mereka sudah berada diparkiran sekolah.


"Nggak ada aku hanya sedang memikirkan pelajaran hari ini".


"Serius,nggak ada apa apa?"


"Hemm".


"Yaudah kalau begitu aku turun,dah poppy",Anandita membuka pintu mobil dan langsung keluar meninggalkan Gavin yang masih berwajah cemberut.


"Dasar nggak paham",gerutu Gavin sebal dengan ikut turun dari mobil.


Sampai diparkiran dia bertemu Aldo.


"Hey gimana masalah yang kemaren?"tanya Aldo.


"Berisik,gue nggak mau perduli ada aja tuan besar Bagas yang akan menangani itu",jawab Gavin dengan berjalan meninggalkan Aldo yang berdiri bengong ditempatnya.


Sebelum dia berjalan cepat mengiringi Gavin.


"Vin tunggu!"


Tapi Gavin tidak mendengarkan panggilan Aldo dia terus berjalan cepat menuju kelasnya,sampai seseorang menabraknya.


"Maaf nggak sengaja"ucap seorang siswa yang baru saja menabraknya.


Gavin hanya menoleh sekilas kesiswa yang sepertinya kelas XI.


"Siapa?"tanya Aldo pada Gavin.


"Mana gue tau,emang lo kira gue petugas sensus yang tau semua murid disini",gerutu Gavin.


"Bukan itu,tapi sepertinya dia baru kelas XI melihat lambang kelasnya sekilas tadi",jawab Aldo.


"Emang kenapa,kalau kelas XI,disinikan memang ada kelas XInya,jawab Gavin.


Mendengar itu Aldo menatap Gavin bingung.


"Biasanya otak lo encer kenapa sekarang seperti tersumbat,lo lagi mikir apa sih".


"Ngomong yang jelas apa masalahnya?!"tanya Gavin mulai marah.


"Sekarang kita lagi ujian seharusnya anak kelas XI libur tapi ngapain dia datang kesekolah sekarang?"


Mendengar itu Gavin terkejut dan langsung berlari kekantor guru yang jaraknya lumayan jauh karena harus memutar kegedung yang lain.


Sampai di kantor guru dia langsung masuk tanpa perduli ada beberapa guru ynag menatap heran padanya,tapi dia langsung berlari menuju ruangan Anandita yang pintunya tertutup.

__ADS_1


Dengan cemas melihat pintu ruangan Anandita tertutup,Gavin langsung membukanya tanpa mengetuk lebih dulu.


Anandita yang berada didalam ruangan bersama buMargaret sedang membahas materi terkejut melihat Gavin tiba tiba berdiri diambang pintu dengan wajah sangat cemas.


Mereka yang berada didalam menatap bingung padanya.


"Ada apa?"tanya Anandita sambil menatap Gavin bingung.


"Kamu baik baik sajakan?!"tanyanya dengan mengawasi Anandita dengan teliti.


Mendengar pertanyaan Gavin seperti itu didepan buMargaret membuat Anandita merasa tidak nyaman.


"Hemm"jawab Anandita.


"Beneran nggak papa kan Yank?"tanyanya dengan berjalan menghampiri Anandita dan mengamatinya dari atas kebawah.


Mendengar Gavin memanggilnya seperti itu, Anandita langsung membelalakkan matanya terkejut.


Anandita berusaha menberikode pada Gqvin,tapi terlambat buMargaret sudah terlanjur mendengar dan mulai penasaran dengan apa yang terjadi dan apa hubungan mereka berdua sebenarnya.


"Ada apa Vin?"tanyanya yang membuat Gavin langsung menoleh kearah bu Margaret dan baru sadar diruangan Anandita ada orang lain sekarang.


"I..itu bu Margaret Gavin khawatir karena..."Anandita bingung bagaimana cara menjelaskan apa yang terjadi sekarang dan apa hubungan mereka, haruskah dia mengatakan yang sejujurnya pada bu Margareta sekarang.


Anandita hanya membuka dan menutup mulutnya tanpa tau apa yang harus diucapkannya.


"Siapa?!"tanya dua perempuan itu secara bersamaan.


"Aku menabrak seoarang murid laki laki kelasXI tadi didepan kelas dan dia baru berjalan dari arah sini,kupikir dia orang iseng kemaren yang mengirimkan makanan padamu".


Mendengar itu Anandita dan buMargaret saling berpandangan.


"Anda diteror bu Dita?"tanya bu Margaret ikut khawatir.


"Belum pasti,tapi kemarin memang ada seseorang yang mengirimkan makanan kekantor saya,dan itu mengatas namakan Gavin",jelas Anandita.


Bu Margareta menatap mereka secara bergantian.


"Tapi anda baik baik saja kan?"tanyanya.


Anandita menganggukkan kepalanya.


"Pak Bagaskara ada berpesan pada kami agar ikut memperhatikan Bu Dita juga selain Gavin".


Mendengar apa yang diucapkan bu Margaret Anadita menatap Gavin lalu menatap lagi kearah bu Margaret.


"Kapan om eh pak Bagas mengatakan itu?"tanya Anandita dengan melirikkan ekor matanya kearah Gavin yang langsung diam.


"Setelah anda mulai masuk kerja lagi,karena katannya apapun yang menyangkut kalian berdua itu dia harus tau selama disekolah".

__ADS_1


Mendengar itu Gavin langsung berjalan pergi meninggalkan ruangan Anandita tanpa menoleh lagi.


Anandita hanya menatap kepergian Gavin tanpa bisa mengatakan apapun karena ada bu Margaret diruangannya.


Melihat itu bu Margaret tersenyum.


"Apa ada hubungan rumit diantara ibu dengan mereka berdua",tanyanya dengan menatap Gavin yang sudah keluar dari ruangan Anandita.


Mendengar itu Anadita menjadi bingung.


"Maksud ibu?"


"Masa ibu nggak paham,saya rasa perasaan Gavin sangat jelas kelihatan kalau dia punya perasaan spesial pada ibu".


"Itu tidak seperti yang ibu pikirkan",jawab Anandita tidak tau harus mengatakan apa pada perempuan didepannya ini.


"Saya mengerti ibu pasti lebih tertarik pada ayahnya kan meskipun sudah tua tapi pak Bagas masih sangat gagah dan apa sebutan kerennya hot duda lebih tepatnya,dari pada Gavin yang belum berpangalaman kan".


Mendengar apa yang diucapkan bu Margaret Anandita jadi berpikir apakah Gavin juga marah karena itu sejak kemarin.


Anandita terpaksa mendudukan tubuhnya karena tiba tiba merasa pusing karena harus punya masalah yang tidak jelas seperti ini.


"Anda baik baik saja bu Dita?"tanya bu Margaret khawatir melihat Anandita tiba tiba


duduk.


Anandita langsung mengangguk,"saya akan kekelas saja sekarang",jawab Anandita mencoba menghindari pembicaraan dengan bu Margaret yang tidak ada habisnya dan membuat kepalanya jadi pusing.


Anandita membawa tumpukan tugas dan langsung keluar dari ruangannya.


Setelah berada diluar ruangannya dia merasa sedikit bisa menarik nafas lega.


Suasana lorong sudah sepi karena para murid yang akan mengikuti ujian sudah mulai masuk keruangan mereka.


Anandita berjalan dengan mengedarkan pandangannya keseluruh lingkungan sekolah yang sangat luas itu.


Berapa banyak sebenarnya kekayaan yang dimiliki oleh ayah mertuanya itu,pasti sangat banyak sampai orang berpikir bahwa dia dan ayah Bagas punya hubungan terlarang batin Anandita.


Anandita berjalan menuju kelas Gavin saat dia menatap ke gedung sebrang tiba tiba, dia melihat seseorang memotret kearahnya yang tepat berdiri didepan kelas Gavin.


Melihat hal itu Anadita hanya terpaku tidak bisa lagi berpikir untuk berteriak atau menghubungi seseorang.


Sampai seseorang menepuk bahunya baru dia tersadar.


"Bu Dita!"Anandita langsung menoleh melihat kearah Aldo.


"Ah iya maaf ayo kita mulai",jawabnya lalu masuk kedalam kelas dan menyuruh Aldo dan murid lain untuk membagikan kertas ujiannya.


Setelah mereka mulai mengerjakan soal ujiannya Anandita menatap kearah Gavin yang dari tadi tidak mau memandang kearahnya karena marah mendengar ucapan bu Margaret tadi.

__ADS_1


__ADS_2