Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
61.Menginap Di Vila.


__ADS_3

Sejak mendengar pembicaraan Gavin ditelpon malam itu Anandita lebih banyak diam,kalau mengingat Gavin akan pergi hanya dalam hitungan hari meninggalkannya meski hanya satu bulan dadanya terasa sesak jadi dia memilih banyak diam dan menikmati waktu kebersamaan mereka.


Sampai akhirnya hari terakhir UAS,Anandita tau itu berarti besok atau lusa Gavin akan pergi jadi dari pagi dia berusaha memantapkan hatinya untuk jangan sampai menangis nanti saat Gavin pamit padanya.


"Yank nanti kita jalan mau nggak?"ajak Gavin sebelum mereka turun dari mobil.


"Iya,kemana?"


"Kita nginap diluar kota maukan?"


"Hari ini?"


"Iya,tapi cuma satu malam kok Yank,kamu sudah sehatkan?"


"Iya,aku sudah nggak papa untuk melakukan perjalanan agak jauh."


"Baik kalau begitu sampai nanti siang",ucap Gavin.


Anandita mencium tangan Gavin lalu melangkah turun dari dalam mobil meninggalkan Gavin lebih dulu.


Gavin menatap tubuh Anandita dari balik kaca spion mobil sampai Anandita menghilang dari pandangannya sebelum turun dari dalam mobil dan melangkah kekelasnya.


Sampai dikelas Gavin langsung duduk dikursinya menunggu bel masuk berbunyi.


Dia tidak berniat berbicara dengan siapapun hari ini,pikirannya terlalu fokus untuk pergi dengan Anandita nanti.


Dia ingin segera menyelesaikan UAS hari terakhir ini secepatnya,jadi saat Aldo mengajaknya bicara Gavin hanya menjawab seperlunya saja.


Bel masuk bunyi dan tidak lama guru pengawas UAS masuk,lalu membagikan kertas ulangan,Gavin langsung mengerjakan soal sampai selesai,setelah itu tanpa menunggu yang lain Gavin langsung mengumpulkan kertas ulangannya dan keluar dengan tidak sabar dia berjalan menuju parkiran sekolah dan langsung masuk kembali kedalam mobil.


Didalam mobil Gavin langsung mengirim pesan singkat kepada Anandita.


"Yank aku sudah selesai,kutunggu dimobil".


Lama Gavin menunggu sampai Gavin bosan,bahkan kendaraan diparkiran sampai habis hanya tersisa beberapa mobil milik dewan guru saja ,tapi Anandita belum juga keluar,bahkan dia tidak membalas pesannya.


Gavin mulai gelisah dia sudah hampir menyusul Anandita kekantor saat dilihatnya dari kaca spion Anandita berjalan kearah mobilnya dengan tergesa gesa.


"Maaf,aku terlambat"ucap Anadita sambil memasang sabuk pengamannya.


Gavin hanya diam tidak ingin menjawab ucapan Anandita.


"Tadi ada rapat dadakan,jadi aku lambat keluar,kamu nggak marahkan?".


Gavin menggeleng dan tersenyum pada Anandita,sebelum dia menghidupkan mobilnya dan mulai melajukannya meninggalkan parkiran sekolah.


"Kita mau kemana?"tanya Anandita.


"Kita nginap di Vila malam ini",jawab Gavin.


"Vila kalian?"

__ADS_1


"Hemm....tidurlah dulu karena perjalanannya lumayan lama".Ucap Gavin.


Anandita menuruti perintah Gavin dengan mulai mencoba memejamkan matanya,selama dalam perjalanan.


***


Anandita terbangun saat didengarnya mobil mulai berhenti.


"Kita sudah sampai?"tanyanya sambil menengok kearah Gavin.


"Iya,ayo turun"ajak Gavin dengan keluar lebih dulu dari dalam mobil lalu membantu Anandita untuk turun dari mobil.


Setelah keluar dari mobil Anandita mengedarkan pandangannya kesekeliling tempat itu.


Gavin mengajaknya kesebuah Vila yang terletak didaerah puncak yang dikelilingi oleh hamparan perkebunan teh yang sangat subur dan indah.


"Wah disini indah sekali!"ucap Anandita dengan terkagum kagum.


"Kau suka Yank"Gavin berdiri disamping Anandita dengan tangan melingkar dipundaknya.


"Iya,ini benar milik kalian?"


"Iya milik Ayah,malam ini kita nginap disini semalam baru besok siang kita kembali pulang"terang Gavin.


"Aku ingin bisa jalan jalan pagi mengelilingi tempat ini,ayo besok kita lakukan ,Vin!"ajak Anandita.


"Besok pagi sepertinya nggak bisa deh Yank,kita akan melakukan itu,lain kali"bisik Gavin ditelinga Anandita.


"Kita memang akan kembali siang tapi aku jamin besok pagi kita tidak bisa pergi,karena malam ini aku akan menghabisimu".


Anandita langsung membolakan matanya mendengar ucapan Gavin.


"Aku sudah mencoba tidak mengganggumu beberapa hari ini agar kau segera pulih,jadi malam ini aku benar benar akan membuatmu begadang semalaman".


"Vin kau tidak bisa melakukan itu,aku baru sembuh,kalau kau melakukan itu berkali kali aku bisa masuk Rumah sakit setelahnya!"


"Aku tidak perduli,karena aku benar benar tidak akan menahannya malam ini",ucap Gavin dengan ekspresi devilnya yang membuat Anandita jadi ngeri untuk membayangkannya.


"Aku lapar aku ingin makan,apakah disini,ada yang bisa,dimakan?"tanya Anandita dengan gugup.


"Bagaimana kalau makan aku",ucap Gavin dengan mendekatkan tubuhnya,tapi Anandita langsung menahan tubuh Gavin dengan kedua tangannya.


"Hentikan Vin aku serius,benar benar ingin makan,kau malah bicara yang nglantur!".


"Baiklah aku akan membuatmu kenyang sebelum pertempuran kita nanti,"ucap Gavin lalu menggandeng tangan Anandita mengajaknya masuk kedalam Vila dan langsung menuju kedapur yang ukurannya tidak terlalu besar itu.


Gavin menyuruh Anandita untuk duduk dikursi makan berbentuk bar,sementara menunggu dia memasak sesuatu untuk Anandita.


"Hemmmp baunya harum sekali,apakah sudah masak?"tanya Anandita dengan mendekat kearah Gavin.


"Sebentar lagi,kau bisa mengambil piring dilemari dan mengeluarkan nasi dari dalam rice coker agar dingin".

__ADS_1


Tapi bukannya melakukan apa yng disuruh Gavin,Anadita malah mendekat keGavin dan melihat apa yang sedang dimasaknya.


"Mau mencoba?"tawar Gavin.


Anandita mengangguk.


"Sebentar"Gavin mematikan kompor lalu mengambil sop ayam dengan sendok dan meniupnya pelan setelah dirasa dingin Gavin menyuapkannya kemulut Anandita.


"Bagaimana?"


"Enak,aku benar benar beruntung punya suami pinter masak seperti kamu".


"Cuma itu doang,ucapan makasihnya mana?"


"Makasih Mas Gavin".


"Bukan itu Yank".


"Kiss sini sebagai hadiah,udah masakin kamu"Gavin menunjuk bibirnya dengan telunjuk.


Anandita langsung menggeleng melihat perintah Gavin.


"Ayo dong Yank dikit aja",rayu Gavin.


"Beneran ya dikit aja!"


"Iya,cepetan kiss sini".


Anandita menjingkitkan kakinya untuk mengecup bibir Gavin.


"Cup!,udah".


"Belum Yank itu bukan kiss,itu cuma menempelkan bibir doang".


"Udah,Vin".


"Belum sini aku kasih contoh,cara ngekiss yang benar".


Gavin mengungkung tubuh Anandita yang bersandar dimeja dapur lalu dengan pelan menurunkan wajahnya sejajar dengan wajah Anandita sampai pandangan mereka bertemu,dengan pelan dan pasti Gavin memiringkan kepalanya dan mulai menyesap pelan bibir bawah Anandita lalu berpindah gantian menyesap bibir atasnya.


Anandita menekankan kedua tangannya diatas dada Gavin sebagai tumpu tubuhnya agar tetap seimbang karena Gavin semakin menekankan bibirnya meminta Anandita untuk membuka mulutnya.


Dengan patuh Anadita membuka mulutnya membuat lidah Gavin dengan leluasa dapat masuk dan mulai menjelajah setiap bagian rongga mulut Anandita,mengajak lidah Anandita untuk ikut aktif menari bersama didalam rongga mulutnya.


Gavin berhenti saat merasa pasokan oksigen mulai menipis untuk mereka berdua.


dengan nafas terengah engah Anandita menatap kearah Gavin yang masih tetap diposisi tadi.


Gavin menyentuh bibir Anandita yang sedikit bengkak akibat ciumannya tadi.


Bersambung😁😁

__ADS_1


__ADS_2