
Anandita sedang memandang tubuhnya dicermin yang ada didalam kamar.
diperhatikannya pinggulnya ternyata makin melebar lalu disentuhnya buah dadanya sendiri yang sudah tampak bengkak karena kehamilannya yang hampir tiga bulan kemudian disentuhnya pipinya "Benar benar tambah cubby apa sebaiknya aku diet saja ya supaya nanti tidak terlalu bengkak",gumamnya sambil mendekatkan tubuhnya kecermin untuk meneliti wajahnya tapi tiba tiba dia terkejut saat melihat bayangan Gavin yang memandang lurus padanya dari cermin.
Melihat itu Anandita langsung berbalik.
"Sejak kapan kamu disana?!"tanya Anandita.
"Sejak tadi",jawab Gavin sambil berjalan menghampiri Anandita membuat Anandita seketika mundur sampai menyentuh ujung lemari dibelakangnya.
"Vin kamu jangan....".
"Cepat pakai bajumu nanti kamu sakit lagi",ucap Gavin dengan membetulkan batrobe Anandita yang terbuka,karena dia tadi memandang tubuhnya dicermin.
"Ya"jawab Anandita pelan dengan memandang wajah Gavin yang hanya berjarak beberapa senti saja darinya.
Setelah menutup batrobe Anandita,Gavin masih belum beranjak,tangannya pun masih berada didepan batrobe Anandita membuat suhu tubuh mereka menjadi panas.
Anandita harus menjilat bibirnya untuk mengurangi rasa gugup akan kedekatan mereka,apalagi sudah lebih dari sepuluh hari Gavin sama sekali tidak pernah menyentuhnya membuat Anandita merindukan sentuhannya saat ini.
Gavin masih mengamati Anandita dengan ekspresi yang sulit diartikan,apalagi saat melihat Anandita menjilat bibirnya dengan lidahnya membuat jakun dibawah lehernya naik turun karena harus menelan ludah yang terasa kelat.
"Vin..Aku.."
"Sedikit saja Yank"bisiknya langsung menundukan wajahnya dan mencium bibir Anadita yang setengah terbuka dihadapannya.
Gavin menekankan tangannya kedinding sebagai tumpuan agar tidak sampai menekan tubuh Anandita saat menciumnya.
Anandita menarik kepala Gavin bermaksud untuk memperdalam ciuman mereka tapi Gavin menolaknya,dia segera melepaskan tautan bibir mereka membuat Anandita menjadi kecewa.
"Kenapa?"tanyanya dengan kedua tangannya masih dileher Gavin.
Gavin memundurkan tubuhnya dan melepaskan kedua tangan Anandita yang berada dilehernya.
"Nanti saja sekarang ayo bersiap lalu sarapan",ucap Gavin lalu berjalan keluar dari dalam kamar meninggalkan Anandita yang cemberut karena merasa ditolak.
Dengan cepat Anandita langsung berpakaian dan setelah itu keluar kedapur menemui Gavin yang sudah siap untuk sarapan.
Dengan wajah masih cemberut Anandita menarik sarapan miliknya dan langsung memakannya tanpa melirik Gavin sedikit pun.
"Aku sudah selesai ayo berangkat sekarang",ucapnya lalu berjalan lebih dulu keluar dari apartemen tanpa menunggu jawaban Gavin.
Gavin hanya melihat tanpa berkomentar dengan kemarahan yang ditunjukan Anandita padanya.
__ADS_1
Setelah mengambil tas sekolahnya Gavin langsung keluar menyusul Anandita.
"Ayo naik"Gavin bermaksud membantu Anandita untuk naik kedalam mobil,tapi tangannya segera ditepis o Anandita dengan wajah masih cemberut.
Melihat itu Gavin hanya diam membiarkan saja perlakuan Anandita.
Gavin mengawasi Anandita sampai dia duduk dengan nyaman didalam mobil baru dia mulai menghidupkan mobil menuju sekolah.
Sampai disekolah Anandita bermaksud membuka pintu mobil dan langsung turun,tapi sebelum dia membuka pintu mobil,Gavin lebih dulu mencekal lengannya lembut.
"Lepas!,ucap Anandita berusaha menepis tangan Gavin.
"Aku akan mengantarmu kedokter hari ini",ucap Gavin.
"Nggak usah aku bisa sendiri pergi kesana!"
"Kamu harus menungguku sampai ujianku selesai,jangan pergi kesana sendiri tanpa aku atau.."
"Atau apa,kamu bermaksud mengancamku lagi!"jawab Anandita.
"Iya,kalau kamu berkeras mau pergi kedokter sendiri hari ini,maka nanti sore kamu harus pergi lagi kedokter yang sama denganku lagi".
"Hah apa maksudmu Vin?"
Gavin mengangkat bahunya lalu membuka pintu mobil dan keluar, yang langsung diikuti oleh Anandita yang masih belum paham maksud Gavin.
"Kalau kamu masih terus keras kepala aku akan melakukannya bahkan kalau perlu aku akan membawamu periksa kedokter berkali kali sampai aku yakin hasilnya"ucap Gavin lalu pergi meninggalkan Anandita dengan tersenyum jahil.
Anandita yang mendengar ucapan Gavin menjadi semakin sebal dibuatnya,membuat moodnya selama disekolah menjadi buruk sampai waktu pulang.
Dengan wajah masih cemberut Anandita menghampiri mobil mereka,ditariknya pintu mobil dengan keras dan setelah masuk dia sengaja menutup pintu mobil dengan suara yang keras membuat Gavin langsung menengok kearahnya.
"Masih marah?"tanya Gavin dengan membantunya memasang sabuk pengaman.
Mendengar pertanyaan Gavin Anandita hanya memalingkan wajahnya keluar jendela.
"Nanti setelah dokter bilang kamu baik baik saja kita lanjutkan yang tertunda tadi pagi"ucap Gavin tepat didepan wajah Anandita.
Mendengar ucapan Gavin Anandita langsung memalingkan wajah menghadap Gavin sampai kedua ujung hidung mereka menabrak secara refleks.
Melihat itu Anandita langsung mendorong tubuh Gavin menyingkir dari depannya.
"Apa yang kamu katakan,dasar menyebalkan!?"jawab Anandita.
__ADS_1
Gavin hanya tertawa mendengarkan makian Anandita lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan area sekolah.
Sepanjang jalan Anandita memilih diam dan memalingkan wajahnya kearah jendela mobil.
Gavin melirik Anandita yang diam lalu pelan disentuhnya tangan Anandita yang berada dipangkuannya lalu ditariknya untuk digengam,membuat Anandita terkejut dan langsung memalingkan wajahnya menghadap Gavin.
Melihat Anandita menatapnya tajam bukannya melepaskan,Gavin malah membawa tangan Anandita kebibirnya dan mengecupnya lembut.
"Berhenti marah Ya Yank",ucapnya dengan kembali mengecup lembut tangan Anandita.
"Siapa yang marah!"ucap Anandita berusaha untuk menarik tangannya yang berada digenggaman Gavin.
"Biarkan saja seperti ini",jawan Gavin menolak untuk melepaskan tangan Anandita bahkan sekarang dia menautkan jari tangan Anandita kejarinya,lalu mengecupnya lembut membuat Anandita jadi risih.
"Gavin hentikan!"perintah Anandita.
Gavin melihat kearah Anandita sebentar lalu akhirnya menurunkan tangan Anandita dari bibirnya,tapi masih tetap menautkan jari jari mereka.
"Aku gugup",ucapnya tiba tiba.
membuat,Anandita langsung menoleh kearahnya.
"Jujur saja Yank sekarang aku sangat gugup"ulangnya lagi.
"Kenapa?,bukankah kamu hanya mengantarku kedokter, kalau kamu gugup tunggu saja dimobil aku juga nggak akan lama didalam".
"Tapi aku ingin ikut masuk dan melihatnya langsung".
"Melihat apa?"tanya Anandita bingung.
Mendengar pertannyaan Anandita Gavin tiba tiba menepikan mobilnya,membuat Anandita bingung.
Tapi sebelum Anandita bertanya Gavin lebih dulu menjawabnya dengan tiba tiba menyentuh perut Anandita lembut.
"Aku sangat nggak sabar untuk melihat beby kita Yank, tapi jujur saja karena ini yang pertama bagiku aku sangat gugup"ucap Gavin dengan menatap lembut kearah Anandita.
Mendengar apa yang baru saja dikatakan Gavin Anandita membulatkan matanya karena terkejut.
Dia membuka mulutnya bermaksud untuk mengatakan sesuatu tapi Gavin langsung menempelkan jarinya kebibir Anandita.
"Aku tau kamu pasti punya alasan sendiri masih merahasiakan hal ini dariku".
Mendengar ucapan Gavin Anandita hanya mengangguk lemah.
__ADS_1
"Maaf"ucapnya pelan.
"Nggak papa Yank,dengan kamu tidak langsung memberi tauku soal kehamilanku membuatku jadi punya waktu untuk mempersiapkan diriku menghadapi hari ini".Ucap Gavin.