Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
60.Kedokter Kandungan.


__ADS_3

Gavin memapah Anandita masuk kemobil,dan membantunya duduk dengan nyaman didalam mobil, meskipun Anandita bilang dia bisa melakukan semuanya sendiri,tapi Gavin bersikeras untuk menolongnya.


"Aku masih bisa masuk sendiri hanya sedikit lemah karena tadi sempat muntah beberapa kali"protes Anandita.


Tapi protesnya sama sekali tidak dianggap Gavin.


"Nggak papa Yank,kaukan sedang sakit aku hanya membantumu supaya kau tidak bertambah pusing saat kita menuju Rumah sakit".


"Terserah kau saja"Anandita tidak ingin membahasnya lagi karena dia tau percuma berdebat dengan Gavin yang selalu bisa menjawabnya.


Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam akhirnya mereka sampai di Rumah sakit umum.


Gavin memarkir mobilnya,lalu langsung membantu Anandita untuk turun dari mobil.


"Kau ingin kuambilkan kursi roda?"tawar Gavin.


Mendengar,itu Anandita langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin jalan aja,kurasa jalan bisa membuat suasana hatiku jadi lebih baik dan itu bagus untuk pemulihan orang sakit"ucap Anandita,sambil turun dari mobil dibantu Gavin.


Gavin tidak memaksa lagi,hanya memeluk pundak Anandita saja saat mereka berjalan masuk kedalam Rumah Sakit.


"Kita langsung keruang praktek dokter ya?"ajak Gavin yang dijawab Anandita hanya dengan anggukan kepala.


Tapi Anadita terkejut saat Gavin membawanya,keruangan dokter kandungan.


Disana ada beberapa ibu yang sedang menunggu antrian untuk memeriksakan kandungan mereka.


Gavin mengajak Anandita duduk disalah satu kursi untuk mengantri bersama para ibu itu.


Anandita ingin protes dan mengajak Gavin pindah keruangan dokter umum,tapi melihat Gavin sudah mendaftar sebelum dia sempat bicara membuat Anandita terpaksa hanya diam dikursinya,sambil menunggu namanya dipanggil.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya namanya dipanggil oleh sang Asistent dokter.


Dengan gugup Anandita masuk kedalam ruangan dokter,dia ingin meminta Gavin menunggunya diluar tapi sebelum dia bicara Gavin sudah,membukakan pintu ruang praktek dan ikut masuk kedalam serta duduk disampingnya dikursi depan dokter itu.


Dokter itu menyambut mereka dengan senyum ramah,membuat rasa gugupnya agak berkurang.


Setelah Anandita duduk sang Dokter menanyakan apa keluhan yang dirasakan Anandita.


"Bu Anandita apa keluhannya?"

__ADS_1


"Saya merasa mual dan tadi beberapa kali sempat muntah dirumah".


"Sudah berapa lama?"tanya dokter menatap Anandita ramah.


"Maksudnya dok?"


"Muntah dan mualnya?"


"Baru tadi malam,sebelum itu nggak ada?"


"lalu kapan terakhir mbaknya dapat tamu bulanan.


Anandita menyebutkan tanggal terakhir dia datang bulan,bulan lalu.


"Kalau begitu kita testpek aja dulu untuk memastikan anda saat ini hamil atau tidak"ucap dokter itu.


"Tapi saya nggak mungkin hamil dok!"terang Anandita tegas.


Membuat dokter dan Gavin yang berada diruangan itu langsung menatap kearah Anandita.


"Kenapa mbaknya bisa yakin kalau tidak sedang hamil sekarang?"tanya sang dokter.


"Karena saya memakai alat kontrasepsi!"terang Anandita yang membuat Gavin langsung menatap tajam dan terkejut padanya.


"Iya,saya memakai alat kontrasepsi suntik untuk tiga bulan kedepan",terang Anandita.


Mendengar itu Gavin hanya diam dengan rahang yang semakin mengetat,dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan sesak didadanya.


"Tapi karena anda sudah disini tidak ada salahnya kita coba periksa saja".


Anandita hanya mengangguk mendengarkan ucapan dokter.


Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter dan sudah dipastikan bahwa Anandita tidak sedang hamil,tapi hanya mengalami kelelahan dan asam lambungnya naik,dokter memberinya vitamin dan obat ,Anandita keluar dari ruang praktek itu diikuti Gavin dengan ekspresi yang sulit diartikan.


Sepanjang jalan menuju rumah,Gavin hanya diam tidak bicara sepatah katapun membuat Anandita binggung tidak seperti waktu mereka berangkat tadi dia terlihat begitu antusias.


Karena merasakan hal itu Anandita mencoba mengajak Gavin bicara.


"Vin.."


Tapi baru saja Anadita berusaha bicara Gavin sudah memotong ucapannya.

__ADS_1


"Istirahat saja jangan memikirkan apapun".


Mendengar itu Anandita langsung menghentikan niatnya yang ingin bertanya dan memilih untuk diam sepanjang perjalanan pulang menuju Apartemen mereka.


Sampai di Apartemen Gavin membantu Anandita untuk ketempat tidur meskipun Anandita ingin protes karena sudah merasa bosan seharian hanya berada ditempat tidur,tapi Gavin bersikeras memaksanya untuk beristirahat dengan alasan supaya Anandita cepat sehat,jadi dengan terpaksa Anandita menuruti Gavin.


Gavin menyelimuti tubuh Anandita,lalu bermaksud keluar dari dalam kamar,tapi sebelum dia menjauh dari ranjang Anadita segera meraih tangannya.


"Kamu nggak disini aja nemani aku,Vin.."ucap Anandita dengan menatap kearah Gavin.


Dengan lembut Gavin melepaskan tangan Anandita dan memasukkannya kedalam selimut.


"Aku harus belajar untuk UAS besok".


"Tapikan bisa disini belajarnya temani aku sebentar sebelum aku tidur aku bosan".


Gavin bermaksud menolak permintaan Anandita tapi saat melihat Anandita menatapnya dengan wajah memohon membuatnya jadi tidak tega.


"Baiklah,aku akan disini sampai kau tidur,setelah itu aku keluar, ingat apa kata dokter kamu harus banyak istirahat kalau ingin cepat sembuh,aku tidak ingin dituduh sebagai penyebab sakitmu nanti".


"Itukan memang karena kamu yang nggak pernah merasa cukup mengajakku bercinta sampai aku sakit",gerutu Anandita sambil memeluk Gavin yang duduk dengan bersandar dikepala tempat tidur sambil membaca buku pelajaran.


"Tidurlah yang betul jangan seperti ini"ucap Gavin mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Anandita.


Anadita menggeleng dan semakin menyelusupkan wajahnya kedada Gavin.


"An...,aku harus belajar,jadi tidurlah sekarang!",perintah Gavin dengan tegas.


"Iya..,kamu menyebalkan,"jawab Anandita lalu melepaskan pelukannya dan langsung membalikkan tubuhnya memunggungi Gavin,berharap dengan dia merajuk Gavin akan merayunya seperti biasa,tapi ternyata keinginannya tidak terkabul bahkan sampai Anandita tertidur karena marah, Gavin sama sekali tidak mencoba merayunya seperti keinginannya.


*****


Anandita terbangun karena merasa haus,dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 11 malam,ternyata dia sangat lama tertidur tadi.


Anandita menengok tempat tidur disampingnya kosong 'dimana Gavin, batinnya.


Dengan pelan Anandita berjalan keluar dari kamar ingin kedapur, tapi saat melewati ruang tamu Anadita melihat lampu disana masih menyala,pelan Anadita berjalan keruang tamu dilihatnya Gavin duduk disofa sedang menelpon seseorang yang sepertinya sangat penting,jadi Anandita hanya berdiri dibelakang sofa menunggu Gavin selesai bicara ditelpon sebelum menyapanya.


"Iya mas aku jadi ikut karantina selama sebulan,setelah selesai UAS ini jadi tolong bantu aku menjaga Kafe selama aku tidak ada",ucap Gavin.


Lalu sepertinya orang diseberang telpon bicara pada Gavin lagi,lalu Gavin menjawabnya lagi.

__ADS_1


"Aku sudah lama mau ikut lomba ini,karena itu akan sangat membantuku sebelum aku pergi keItalia nanti setelah lulus,aku sudah lama belajar untuk lomba ini aku tidak ingin melewatkannya".


Anandita yang mendengar ucapan Gavin mengurungkan niatnya untuk menghampiri Gavin tapi memilih berbalik dan kembali masuk kedalam kamar dan langsung merebahkan tubuhnya dengan menutupkan selimut keseluruh tubuhnya supaya Gavin tidak bisa mendengar suara tangisnya.


__ADS_2