
Cinta menjadi gugup mendengar apa yang dikatakan Bagaskara,dia tidak menyangka dan belum siap kalau malam ini harus melakukannya.
"I..itu..mas..ti..tidurnya sekarang?",tanya Cinta.
"Iya,sekarang kamu maukan?".
"I..itu..ba...bagaimana ...dengan..Cello..".untung saja tiba tiba dipikirannya terlintas Cello,jadi dia punya alasan.
"Biarkan saja,dia bisa tidur sendiri dikamarnya".
Mendengar itu Cinta langsung memejamkan matanya,'Sepertinya rencana menghindar malam ini akan gagal',batin Cinta.
"Kenapa apa kamu nggak mau?".
Cinta menggelengkan kepalanya.
"Maksudnya?",tanya Bagaskara bingung melihat jawaban Cinta.
"I..itu..a..ku..gugup",jawab Cinta jujur.
Mendengar itu Bagaskara hampir saja tidak bisa menahan tertawanya.
"Makanya jangan suka menggoda kalau memang belum siap",ucap Bagaskara dengan mencubit gemas hidung Cinta.
"Apa!,jadi mas nggak serius mengajakku tidur dikamar mas tadi?",tanya Cinta dengan nada kecewa.
"Menurutmu?".
"Serius nggak?",tanya balik Cinta.
"Lalu kamu mau apa nggak kalau aku serius?".
"Mau",jawab Cinta.
"Serius?".
Cinta mengangguk.
"Jangan mundur ya,karena aku nggak menjamin bisa tahan nggak akan menyentuhmu kalau kita tidur satu ranjang".
Mendengar itu Cinta kembali gugup.
"I...iya..bo..boleh deh".
"Apa".
"Boleh pegang kalau mau"
"Aku nggak mau cuma pegang tangan tapi juga mau pegang yang lain".
"Bukannya dari tadi sudah",gerutu Cinta.
"Belum".
"Lha ini apa",Cinta menunjuk bagian depan piyamanya yang terbuka.
"Bukan cuma itu",bisik Bagaskara pelan ditelinga Cinta.
"Lalu apa lagi yang mau mas pegang?".
"Semua tentu saja,ini ini dan juga disini".
Bagaskara menyentuh bibir dada dan bagian bawah tubuh Cinta membuat Cinta langsung terdiam.
__ADS_1
"Ha...harus..ma..malam..ini..mas".
"Aku maunya malam ini boleh?".
Cinta menunduk tidak berani menatap wajah Bagaskara yang memandanginya dari tadi.
"Bolehkan Cinta?".
Cinta mengangguk lemah.
Melihat itu Bagaskara tiba tiba langsung bangkit dari sofa membuat Cinta terkejut.
"Ayo",ajaknya dengan menarik tangan Cinta untuk bangun.
Cinta masih ragu ragu,apakah dia harus menyerahkan miliknya yang paling berharga itu malam ini pada Bagaskara.
"Ayo kamu berubah pikiran?",tanya Bagaskara karena Cinta belum juga bangkit dari sofa.
Dengan lemah dia menggeleng.
"Bisa nggak besok saja kita melakukannya mas aku sangat gugup malam ini".
"Tapi aku besok tidak bisa,pekerjaaanku banyak dan dalam beberapa hari ini harus segera selesai,apa kamu mau aku menahannya sampai aku punya waktu lagi".
Cinta menghela nafas untuk menguatkan tekatnya,mungkin setelah ini hubungan kami akan menjadi semakin dekat,batin Cinta.
"Baiklah malam ini saja".
Dengan pelan Cinta bangkit dan bermaksud mengikuti Bagaskara kekamarnya, tapi belum sempat dia berjalan tiba tiba terdengar rengekan Cello dari dalam kamar membuat mereka berdua langsung terdiam.
"Mas Cello bangun".
"Aku akan memeriksanya kau duluan saja",perintah Bagaskara.
"Aku juga akan memeriksanya siapa tau ada apa apa".
Bagaskara tidak menolak permintaan Cinta,akhirnya mereka berdua pergi kekamar Cello untuk memeriksa kondisi Cello.
Didalam kamar tampak Cello tidur tapi sambil merengek.
"Sepertinya mimpi buruk".
Cinta bergegas menghampiri ranjang Cello dan bermaksud menepuk nepuk tubuhnya tapi saat menyentuh dahi Cello Cinta terkejut dan langsung menoleh kearah Bagaskara.
"Ada apa?",tanya Bagaskara.
"Badan Cello hangat",jawab Cinta.
Mendengar itu Bagaskara langsung ikut menyentuh dahi Cello,memang terasa hangat meskipun tidak parah.
"Ayo kita bawa kedokter sekarang".
Cinta langsung menggeleng",kita minumi obat penurun panas dulu sekarang kalau nanti panasnya tidak turun juga baru kita bawa kedokter".
"Kamu yakin?".
Cinta mengangguk,"Biasanya kami selalu seperti itu saat dipanti".
Mendengar itu Bagaskara menurut saja karena dia tidak berpengalaman dalam mengasuh anak anak selama ini.
Melihat Bagaskara tidak menolak usulannya Cinta segera keluar mencari kotak P3K lalu mengambil obat penurun panas dan kompres praktis untuk anak anak dikulkas.
"Bantu aku mas",pinta Cinta.
__ADS_1
Mendengar itu Bagaskara membantu Cinta dengan memangku Cello yang setengah bangun untuk meminum obat penurun panasnya.
Meskipun lumayan kesulitan akhirnya mereka berdua berhasil meminumi Cello obat penurun panas.
Tapi Cello tetap saja masih merengek dengan minta dipeluk Cinta dari tadi membuat Bagaskara tidak tega.
Malam ini tidur dikamarku saja kalian berdua",ucap Bagaskara dengan mengambil Cello dari tangan Cinta dan langsung menggendongnya kekamar.
Bagaskara menidurkan Cello diranjangnya.
"Kamu juga istirahatlah sekarang siapa tau nanti kita perlu pergi kerumah sakit kalau kondisi Cello semakin parah.
"Memangnya mas nggak istirahat disini?",tanya Cinta.
"Aku akan tidur disofa saja malam ini".
Mendengar itu Cinta jadi tidak tega,pasti tidak nyaman tidur disofa apalagi Bagaskara baru saja menyetir sendiri kesini sekarang pasti sangat lelah,batin Cinta.
"Mas tidur saja bersama kami kita bersama menjaga Cello".
Mendengar itu Bagaskara langsung menatap Cinta,"Kamu yakin akan tidur satu ranjang denganku?",tanya Bagaskara tidak percaya.
Cinta mengangguk",Nggak papa bukannya mas bilang tadi ingin tidur denganku malam ini".
"Baiklah malam ini kita tidur bersama diranjangku".
Setelah mengatakan itu Bagaskara ikut naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya disamping Cinta,lalu melingkarkan lengannya dipinggang Cinta,membuat Cinta terkejut.
"Jangan gugup aku hanya ingin memelukmu saja malam ini tidak akan macam macam".
"Mas yakin?",tanya Cinta tidak percaya karena sekarang saja tangan Bagaskara sudah mulai menyelusup kebalik bajunya dan mencari dua gundukan miliknya untuk disentuh.
"Hanya sedikit tidak lebih,sekarang pejamkan matamu".
Cinta ingin protes tapi sekarang dia juga mulai mengantuk,jadi perlahan dia memejamkan matanya meskipun merasa risih karena tangan Bagaskara sudah masuk kebalik branya dan menangkup dua gundukan itu ditelapak tangannya erat.
Tapi tak lama karena terlalu mengantuk Cinta akhirnya tertidur dengan posisi intim seperti itu.
****
Pagi hari Cinta terbangun karena mendengar suara ribut dari luar kamar yang memang pintunya tidak tertutup rapat itu,dengan pelan Cinta bermaksud melepaskan tangan Bagaskara yang masih tetap berada didalam piyamanya itu.
"Jangan bergerak Cin,aku masih ngantuk".
"Tapi Cello sudah nggak ada mas dia sudah bangun".
"Biar saja ada Willy nanti yang akan mengurusnya".
"Pintu kamarnya nggak diturup rapat oleh Cello bagaimana kalau tiba tiba Willy masuk".
"Nggak mungkin,dia tidak akan berani".
"Tapi aku tetap mau bangun aku sudah tidak bisa tidur lagi".
"Kalau nggak bisa tidur lagi sebaiknya kita melakukan sedikit olahraga saja sebelum bangun",ucap Bagaskara yang tiba tiba langsung mengungkung Cinta dibawahnya.
"Mas".
Bagaskara bermaksud mencium bibir Cinta saat mendengar pintu kamarnya terbuka.
"Oppy lihat oma sama opa masih belum bangunkan Cello nggak bohong".
Mendengar itu seketika Bagaskara meloncat dan langsung bangun menatap kearah pintu dimana Gavin sedang berdiri terdiam dengan menggendong Cello yang masih saja mengoceh.
__ADS_1