
Bima menatap Bagaskara yang memandang tajam kearahnya dengan wajah langsung pias saat mendengar apa yang baru saja dikatakan pria berwibawa itu padanya.
"Sa...saya..."Bima terlalu gugup sampai tidak sanggup lagi untuk meneruskan ucapannya.
"Dia putraku,apakah kau mengatakan aku sebagai orang tua yang tidak bertanggung jawab!!!!"
Bagaskara langsung mencengkram kerah kemeja Bima dengan sangat marah,membuat semua orang yang berada dalam ruangan itu tidak berani untuk mencoba mencegah apa yang akan dilakukannya.
"Kalau aku orang tua tidak baik apa kau sudah merasa menjadi guru yang baik beraninya kau!!!"Bagaskara sudah akan melayangkan pukulan tangannya pada Bima tapi tiba tiba dengan sisa tenaganya Anandita langsung mencegah apa yang akan dilajukan oleh ayah Bagas pada Bima.
"Tolong hentikan!"
Mendengar ucapan pelan Anandita Bagaskara langsung menahan tangannya yang hampir melayang kebadan Bima.
"Jangan bertengkar lagi,sebaiknya sekarang kita pergi kekantor polisi untuk menemui Gavin"ucap Anandita.
Bagaskara yang mendengar itu langsung tersadar dihentakkannya tubuh Bima kebelakang dengan marah lalu bermaksud meninggalkan ruangan itu tapi tiba tiba Bima bersuara.
"Tunggu dulu!,kalau Gavin adalah putra anda apakah berarti Anandita adalah..."
Dengan langkah lebar Bagaskara kembali menghampiri Bima yang masih duduk dikursi.
"Aku tidak pernah main main dengan ucapanku jangan berani mengeluarkan sepatah katapun yang menyangkut tentang keluargaku kalau kau dan seluruh keluarga besarmu masih ingin melihat matahari sampai esok hari!!"tekan Bagaskara menatap Bima dengan tajam,membuat wajah Bima seketika pias seperti tidak dialiri darah lagi.Dia tau siapa Bagaskara,seorang pengusaha besar,orang tuanya mungkin kaya tapi dibandingkan dengan kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki Oleh Bagaskara,keluarganya bukan apa apa,hanya cukup menjentikkan jari maka dia bisa melibas seluruh keluarganya.
"Mulai sekarang dan seterusnya jangan pernah muncul dilingkaran kehidupan keluargaku kalau kau dan keluargamu masih ingin selamat,jangan berpikir lagi untuk main lewat jalur belakang karena itu akan sia sia mengerti anak muda!"tekan Bagaskara yang menbuat Bima hanya mengangguk patuh.
"Bereskan barang barangmu sekarang dan mulai saat ini sebaiknya kau meninggalkan saja kota ini kalau masih ingin tetap bisa bekerja dengan bantuan ijazahmu itu,orang orangku akan mengawasimu jadi berhenti bertingkah,manfaatkan baik baik masa mudamu,paham!"
Bima kembali mengangguk patuh.
"Bagus,salah satu anak buahku yang berada diluar akan mengantarmu pulang kerumah dengan selamat,jadi sekarang sebaiknya tutup mulutmu dan segera bersiap siap untuk pulang kerumah,kamu mengertikan!".
"I...iya tuan Bagaskara,maaf..maaf saya tidak tau".
"Sekarang ini aku melepaskanmu,tapi bagi kamus Bagaskara tidak ada lain kali,jadi belajarlah dari kesalahan,jangan suka mengusik apa yang bukan menjadi milikmu!".
Setelah mangatakan itu Bagaskara melangkah keluar diiringi oleh Anandita dan kepala sekolah yang mengantarkannya sampai depan pintu.
__ADS_1
Sebelum meninggalkan kantor kepala sekolah,Bagaskara berbicara pada kepala sekolah didepan pintu.
"Berikan rekomendasi yang baik untuknya!"perintah Bagaskara.
"Tapi pak Bagas,bukannya dia telah berani membuat Gavin sampai dibawa kekantor polisi".
Bagas menatap kearah kepala sekolah.
"Untuk masalah itu seharusnya kau juga bertanggung jawab kenapa kau tidak bisa mencegah hal seperti itu,apa kau pikir tugasmu disini hanya duduk duduk sambil menunggu waktu pensiun!"hardik Bagaskara.
"Maaf pak,saya salah soal itu",ucap kepala sekolah dengan wajah tertunduk.
"Kalau masih ingin duduk dikursi itu perbaiki kinerjamu,kalau tidak mengingat kau sudah jadi guru puluhan tahun diYayasanku kupecat kau sekarang!".
"Jangan pak Bagas,Aldo masih belum kuliah masih lama perjalanannya".
"Kalau tau lakukan perintahku sekarang,supaya nama sekolah kita dari sekarang dan kedepannya tetap baik,paham kau!".
"Iya,pak Bagas".
"Bagus,aku akan pergi kekantor polisi sekarang".
Anandita yang sudah lebih dulu berjalan ketempat parkir,berdiri menunggu Bagaskara disamping mobil ayah mertuanya,tak berapa lama Bagaskara datang dan langsung mengajaknya untuk masuk kedalam mobil.
"Ayo naik!"perintah Bagaskara padanya.
Anandita hanya mengangguk sebelum naik kedalam mobil.
Setelah itu Bagaskara langsung menghidupkan mobilnya menuju kaktor polisi dimana tadi Gavin dibawa.
Bagaskara melihat Anandita yang duduk disampingnya dengan wajah pucat segera mengambil sebotol air mineral yang ada disamping pintunya.
"Minumlah sedikit agar perasaanmu lebih baik"perintah Bagaskara sambil memberikan botol itu pada Anandita.
"Terimakasih ayah"jawab Anandita pelan sambil membuka tutup botol air mineral itu dan langsung meminum sedikit airnya.
"Rapikan penampilanmu sebelum kita sampai"perintah Bagaskara lagi karena melihat wajah dan rambut Anandita yang sangat pucat dan kusut.
__ADS_1
"Iya"Anandita langsung mengambil cermin dari dalam tas tangannya dan segera merapikan penampilannya yang sangat berantakan itu.
"Jangan terlalu khawatir Gavin pasti baik baik saja disana".Ucap Bagaskara menenangkan Anandita.
"i..iya,ayah"jawab Anandita sambil menghapus airmatanya yang keluar dengan tisu.
Setelah itu mereka tidak bicara lagi sampai mereka tiba dikantor polisi.
Setibanya dikantor polisi Bagaskara membantu Anandita turun dari mobil dan langsung mengajaknya masuk kedalam.
Didalam kantor Bagaskara dan Anandita disambut oleh petugas polisi dan pengacara yang sudah lebih dulu diutus oleh Bahaskara untuk mengatasi masalah Gavin disini tadi.
"Dimana putraku?"tanya Bagaskara pada mereka berdua.
"Silahkan ikut saya tuan Bagaskara".
Polisi iti membawa Bagaskara dan Anadita kesebuah ruangan yang berpintu kaca. Bagaskara bermaksud membuka pintu itu, tapi petugas dan pengacara langsung melarangnya.
"Kenapa,apakah putraku masih harus ditahan lagi!"ucap Bagaskara dengan marah.
"Silahkan anda lihat dulu bagaimana putra anda lewat kaca ini",ucap petugas itu dengan mempersilahkan Anandita dan Bagaskara melihat Gavin yang berada didalam sana.
Anandita tidak dapat menutupi kesedihannya saat melihat bagaimana kondisi Gavin yang hanya duduk diam dengan pandangan kosong menatap kearah dinding kosong didepannya.
"Apa yang kalian lakukan pada putraku kenapa dia berekspresi seperti itu!!"teriak Bagaskara dengan marah.
"Tenang tuan Bagaskara kami tidak melakukan apa apa, putra anda sudah dalam kondisi seperti itu saat kami membawanya"terang petugas itu mencoba menjelaskan pada Bagaskara.
"Tapi kenapa bisa seperti itu, dokter cepat cari dokter aku ingin Gavin diperiksa oleh dokter terbaik sekarang!"teriak Bagaskara histeris melihat Gavin yang diam tanpa ekspresi dalam ruang kosong itu.
"Kami sudah memanggil psikiater terbaik kami disini sebentar lagi dia datang"ucap petugas itu memberi penjelasan pada Bagaskara.
"Suruh dia datang sekarang juga untuk mengobati putraku!!"teriak Bagaskara setengah histeris.
Seumur hidup dia tidak pernah merasa sangat sedih seperti hari ini melihat putra semata wayangnya seperti mayat hidup seperti itu.
Bagaskara terduduk lemas kelantai tidak sanggup menyaksikan kondisi Gavin.
__ADS_1
"Aku ingin masuk",ucap Anandita yang membuat semua orang langsung memandang kearahnya.