Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
78.Cobaan.


__ADS_3

Gavin menatap wanita paruh baya yang tersenyum lembut padanya.


"Dia dokter yang akan memeriksaku sekarang"terang Anandita.


Gavin mengangguk kearah Anandita,


"Tidak lamakan pemeriksaannya?"tanyanya dengan wajah polos.


"Tidak ayo temani teman gadismu ini supaya kamu tau kami melakukan pemeriksaan apa"jawab dokter Rumi.


Mendengar itu Gavin sangat bersemangat lalu berjalan mengikuti dokter Rumi dan yang lainnya menuju sebuah ruangan.


Disana dokter Rumi hanya menanyakan pertanyaan ringan dua sisi antara Gavin dan Anandita seolah mereka sedang ngobrol,membuat Gavin yang semula selalu menggenggam tangan Anandita dengan erat mulai merasa rilex.


Setelah merasa cukup mengajukan pertanyaan dokter Rumi menepuk bahu Gavin seperti menepuk bahu seorang anak laki laki berumur tujuh tahun.


"Sudah?"tanya Gavin pada dokter Rumi dengan lebih santai bertanya.


Dokter Rumi mengangguk sambil tersenyum.


"Lain kali kita bertemu lagi,ya Mas Gavin"ucapnya mengakhiri pemeriksaannya.


Gavin mengangguk dan membalas senyum dokter Rumi.


"Tunggulah dimobil"ucap Bagaskara pada Anandita dan Gavin.


Anandita mengangguk dan mengajak Gavin keluar menuju dimana mobil Bagaskara terparkir.


Setelah mereka berdua pergi Bagaskara duduk didepan dokter Rumi.


"Bagaimana keadaan Gavin dok"tanyanya sendu.


"Ini lumayan parah tapi bukan berarti tidak bisa sembuh, apa yang terjadi tadi siang sepertinya memicu trauma dan rasa sakit yang sudah lama ditahannya keluar,setelah melakukan tanya jawab tadi saat ini ingatannya kembali kemasa saat dia berusia tujuh tahun,apakah saat itu dia berada dalam masalah?"


"Saat usianya tujuh tahun itu saat istri saya dan saya memutuskan pisah rumah karena pernikahan kami sedang bermasalah"terang Bagaskara.


"lalu Gavin ikut siapa?"


"Saat itu kami selalu meributkan hak asuhnya".


"Jadi kalian bercerai?"

__ADS_1


"Tidak saya dan istri saya merasa bahwa perceraian akan membuat Gavin memiliki keluarga yang tidak utuh nantinya",terang Bagaskara.


"Lalu kalian mengasuhnya dalam kondisi keluarga yang tidak sehat saat itu?"


"Ya,karena kami pikir itu yang terbaik,tapi ternyata saya salah sekarang,apalagi saat melihat kondisi Gavin saat ini,masa masa itu pasti masa yang sangat menyakitkan untuknya"ucap Bagaskara dengan wajah tertunduk.


"Kadang perceraian bukan berarti membuat sebuah keluarga menjadi kehilangan arti pentingnya untuk mendidik anak,tapi lingkungan keluarga yang tidak sehat itu lebih buruk untuk mental anak diusia rentan mereka".


"Saya sekarang mengerti mungkin ini hukuman dari keegoisan saya waktu itu yang merasa selalu benar,jadi apakah Gavin bisa sembuh seperti semula?"tanya Bagaskara dengan khawatir.


"Kemungkinan selalu ada,meski hanya beberapa persen jadi jangan menyerah",ucap Dokter Rumi.


Mendengar itu Bagaskara sedikit lega.


"Terimakasih Dokter,mungkin ini kesempatan kedua saya yang diberi Tuhan untuk menebus kesalahan saya pada masalalu Gavin.


"Iya,jangan menyerah yakinlah pasti Gavin akan pulih lagi"ucap Dokter Rumi sebelum Bagaskara pamit dari sana.


Setelah selesai berbicara dengan dokter Rumi ,Bagaskara langsung menuju mobilnya dengan perasaan sedikit lega.


Sampai didalam mobil Anandita langsung bertanya pada Bagaskara.


Bagskara melirik kursi belakang dimana Anandita dan Gavin duduk,dan ternyata Gavin sedang terlelap sambil memeluk tubuh Anandita.


"Sejak kapan dia tidur?"tanya Bagaskara sambil menatap Gavin sendu.


Anandita menatap Gavin sekilas sebelum menjawab pertanyaan ayah mertuanya.


"Sejak masuk kedalam mobil sepertinya dia kelelahan",jawab Anandita berusaha melepaskan tubuh Gavin supaya mau bersandar sendiri tapi Gavin malah semakin erat memeluk tubuh Anandita.


"Biarkan saja dia seperti itu kamu tidak masalahkan?"


"Iya"jawab Anandita.


"Dokter bilang selalu ada kemungkinan Gavin untuk sembuh, tapi tidak tau kapan dan berapa banyak kemungkinannya,rasa trauma dan sakit didalam dirinya terlalu dalam jadi kita hanya bisa berharap dan berusaha yang terbaik untuknya"ucap Bagaskara pelan.


Mendengar itu hati Anandita benar benar sakit,dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau tidak bisa lagi melihat Gavinnya yang dulu.


"Kamu mau bersabarkan Dita,menunggu sampai Gavin kembali pada kita,ini bukan kewajibanmu,tapi sebagai seorang ayah aku benar benar merasa tidak tau harus berbuat apa,andai bisa memutar waktu aku ingin mengulang masalaluku yang telah membuatnya mengalami semua ini,ini salahku tapi kenapa harus Gavin yang mengalaminya dia hanya korban seharusnya aku yang dihukum bukan kalian",ucap Bagaskara parau,dia menundukkan wajahnya kekemudi mobil untuk menahan guncangan perasaan sedihnya.


Anadita hanya bisa diam sambil menyeka airmata yang tidak bisa berhenti keluar dari matanya lagi,dengan sekuat tenaga dia menahan isaknya agar jangan sampai bersuara,supaya tidak membangunkan Gavin yang sedang tertidur nyenyak.

__ADS_1


"Hemm"gumam Gavin karena merasa tubuh Anandita bergetar menahan isaknya.


Dengan pelan dan lembut dielusnya punggung Gavin supaya dia tetap tertidur.


Setelah merasa sedikit tenang Bagaskara melirik kearah Anandita yang juga sudah mulai tenang,lalu dia mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Kita pulang sekarang?"


Anandita hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Sebaiknya sementara kalian tinggal dirumah besar saja".Ucap Bagaskara,yang kembali dijawab dengan anggukan oleh Anandita.


"Istirahatlah kalau kamu lelah nanti akan aku bangunkan kalau kita sampai".


Anandita menuruti perintah Bagaskara karena mereka tidak tau apa yang akan terjadi saat Gavin bangun nanti jadi sekarang Anandita berusaha menuruti saran Ayah mertuanya itu.


Sampai dirumah besar Bagaskara langsung membangunkan Anandita pelan,tapi ternyata saat itu Gavin juga ikut terbangun.


"Kita sudah sampai rumah ayah?"tanyanya sambil menatap polos kearah sang ayah.


Bagaskara mengangguk," Ayo turun!"ajaknya menarik tangan Gavin seolah sedang menarik bocah berumur tujuh tahun yang turun dari mobil.


"Ayo Anna,mulai sekarang sebaiknya kamu ikut aku tinggal dirumahku ya"ucapnya dengan menunggu Anandita supaya mengikutinya turun.


Anandita mengangguk lalu mengikuti Gavin turun dari mobil.


Setelah Anandita turun Gavin langsung menggandeng tangannya erat dan mengajaknya masuk kedalam rumah.


Dengan lantang dia berteriak memanggil bik Siti"Bik,Bik Siti!!!" panggilnya dengan menarik tangan Anandita berjalan cepat kearah dapur mencari bik Siti.


Dengan tergopoh gopoh bik Siti keluar dari dapur karena mendengar panggilan keras dari Gavin.


"Ada apa Mas Gavin manggil bik Siti keras?"tanya bik Siti.


"Aku lapar,bibik masak apa hari ini?"tanya Gavin sambil berjalan menuju meja makan.


Bik Siti mengikuti Gavin dan Anadita dari belakang dengan heran karena melihat ada hal yang aneh pada sifat tuan mudanya itu.


"Oh iya,bik Siti kenalkan ini Anna,teman baikku mulai saat ini dia akan tinggal dirumah ini denganku jadi bik Siti tidak perlu menemaniku terus karena ada Anna yang menemaniku bermain dan tidur sekarang",terang Gavin.


Mendengar itu bik Siti semakin heran,bukan kah neng Dita memang istrinya tapi kenapa cara bicaranya aneh.

__ADS_1


__ADS_2