
Gavin menarik kursi untuk duduk Anandita.
Bik Siti yang melihat itu tampak bahagia,akhirnya rumah ini terlihat aura kebahagiaan apalagi saat ini dengan khabar bahagia yang baru saja mereka dengar bahwa sebentar lagi akan ada anggota baru Bagaskara dirumah ini.
"Neng Dita makan yang banyak supaya bayinya sehat ya",ucap bik Siti memberikan makanan lebih kepiring Anandita.
Melihat itu Anandita hanya tersenyum pada bik Siti dia tau bahwa bik Siti bahagia mendengar tentang kehamilannya.
"Makasih bik",jawabnya dan mulai memakan makanan dipiringnya.
Bagaskara yang melihat itu hanya menatap mereka dalam diam, tapi sejujurnya dia senang dengan suasana rumah yang seperti ini.
Sambil menikmati makan siang dia mencoba mengajak mereka ngobrol.
"Apa rencana kalian sekarang?"tanyanya pada mereka berdua.
Mendengar itu Anandita menatap Gavin ingin tau apa yang akan Gavin jawab.
"Mungkin sementara aku akan meneruskan kuliah disini dulu dan menunda keinginanku untuk pergi keItalia".
"Mendengar itu Bagaskara menatap Gavin.
"Kamu masih tetap berniat pergi untuk menjadi koki?"
Gavin hanya mengangguk.
"Apakah kamu tidak berniat untuk meneruskan bisnisku?"tanya Bagaskara.
"Kupikir belum perlu ayah masih terlalu muda untuk pensiun,aku masih ingin melakukan banyak hal yang aku inginkan",jawab Gavin.
"Lalu bagaimana dengan Anandita dan anak kalian?"
"Aku akan menunda kepergianku sampai Anandita dan anakku bisa ikut aku pergi,jadi sementara aku akan kuliah disini",ucap Gavin dengan menatap kearah Anandita.
"Bagaimana kalau kamu kuliah dikampus ayah saja",jawab Bagaskara.
"Ayah mendirikan kampus?"tanya mereka secara bersamaan karena baru ini mendengar hal itu.
"Hemmm,mungkin saja nanti Anandita ingin mencoba menjadi dosen dikampus kita supaya hubungan kalian tidak jadi sorotan orang lagi dengan kalian berada disatu sekolah".
Anandita dan Gavin saling berpandangan.
__ADS_1
"Sejak kapan ayah memutuskan ingin mendirikan kampus ini?"tanya Gavin.
"Sudah sejak lama tapi sejak kalian menikah dan banyak masalah yang terjadi aku mulai berpikir ingin melakukan ini",jawab Bagaskara.
"Tapi sepertinya Anandita tidak perlu pindah mengajar dikampus ayah untuk saat ini".
"Kenapa?"tanya Bagaskara.
"Karena sebentar lagi aku juga akan lulus,setelah aku selesai ujian kurasa hubungan kami sudah waktunya diketahui banyak orang",ucap Gavin.
"Tapi bagaimana dengan kehamilan Anandita bagaimana kalau orang orang bertanya?".
"Kupikir untuk hal itu tidak perlu kami jelaskan ,iyakan Yank?"Gavin menatap Anandita.
Anandita hanya mengangguk.
"Terserah kalian saja,aku akan mendukung hal apapun yang terbaik untuk kalian tapi keputusan tetap kalian putuskan sendiri".
Mendengar itu Anadita dan Gavin menjadi lega.
"Tapi aku menyarankan kalau memang kamu ingin tetap keluar negeri tunggulah sampai anak kalian cukup besar,jadi waktu kalian memikirkan hal itu lebih lama",saran Bagaskara.
"Akan kami pikirkan",jawab Gavin.
"Tunggu ayah!"panggilnya.
Mendengar itu Bagaskara langsung menghentikan langkahnya yang belum keluar dari pintu rumah.
"Ada apa ?"tanyanya sambil menghadap kearah Anandita.
"I..itu apakah ayah melakukan sesuatu yang mengerikan pada orang yang sudah menguntit kami kemaren?",tanya Anandita sambil menundukan wajahnya karena takut ayah mertuanya marah dia menanyakan hal itu lagi.
Bagaskara menyentuh pundak Anandita.
"Jangan pikirkan soal itu lagi,aku hanya memberi sedikit pelajaran padanya yang pasti dia tidak akan melakukan hal buruk lagi pada kalian terutama padamu,jadi sekarang yang terpenting jaga kondisimu karena sedang hamil".
"Tapi aku tetap khawatir kalau ayah melakukan hal yang mengerikan padanya karena dia masih anak anak".
"Dia bukan anak anak lagi Yank,apalagi kalau dia sudah berpikir untuk menjadi stalker ,dia pasti tau itu hal yang bisa membahayakan orang lain apalagi dengan bermaksud mengekspos kehidupan orang lain itu sangat berbahaya".
"Gavin benar apalagi sekarang kamu sedang hamil,kalau dia terus melakukan itu dan kita biarkan bisa membahayakan kehamilanmu dan aku tidak mau itu terjadi,bagiku kalian sangat penting".
__ADS_1
"Tapi dia seorang Gadis apakah kalian juga melakukan hal ekstrem padanya!,kalau sampai itu terjadi aku akan marah pada kalian berdua!"teriak Anandita lalu berlari masuk kedalam kamarnya.
Melihat itu Gavin dan sang ayah saling berpandangan.
"Apa ayah benar benar melakukan hal keji pada stalker itu?"gavin ikut bertanya penasaran.
"Bukan urusanmu,sebaiknya sekarang kau hibur istrimu buat dia jangan sampai membenciku!,"ucap Bagaskara lalu pergi meninggalkan Gavin yang kemudian masuk kedalam kamar setelah ayahnya pergi.
Sementara itu Bagaskara menyandarkan kepalanya dikursi penumpang mobilnya,memikirkan apa yang diucapkan oleh menantunya tadi,apakah dia memang orang sekejam itu hingga semua orang berpikir dia tega menyakiti seorang gadis kecil yang berani mencoba mengganggu anak dan menantunya.
Sopir Bagaskara menatap tuannya dari bqlik spion mobil,dengan takut kalau sampai kena marah oleh Bagaskara.
"Maaf tuan kita kemana sekarang?"tanya sisupir.
"Antar aku keVila dipuncak!"perintah Bagaskara.
"Sekarang tuan,"tanya supir itu.
Bagaskara yang mendengar pertanyaan itu langsung menatap kearah supirnya marah.
"Tentu saja sekarang memang kapan lagi,dan juga hubungi Willy suruh dia untuk mencarikan penghulu sekarang juga!"bentak Bagaskara marah.
Mendengar itu sisupir bingung tapi tidak berani bertanya lagi karena dia tau Bagaskara akan semakin marah dan bisa melakukan apa saja kalau dia sedang marah seperti sekarang ini,jadi dia hanya menuruti perintah Bagaskara,dan langsung menelpon Willy pengawal Bagaskara yang berada diVilla yang ditugaskan untuk menjaga Gadis yang menjadi stalker kemaren.
"Tut..tut.."tidak lama setelah bunyi tut..telpon langsung tersambung keWilly.
"Halo!"jawab Willy.
"Willy ini pak Dadang".
"Iya ada apa pak Dadang?"tanya Willy.
"E..begini bagaimana keadaan murid perempuan yang kamu bawa kemaren keVilla?"tanya pak Dadang sambil melirik spion melihat kekursi belakang tempat Bagaskara duduk dan sedang memejamkan matanya sekarang,entah tidur atau tidak,pak Dadang tidak tau pasti tapi yang pasti saat pak Dadang bicara Bagaskara diam tidak bereaksi.
"Baik dia masih berada didalam kamar sudah saya beri makan seperti perintah tuan Bagaskara,apa ada yang harus aku lakukan padanya?"tanya Willy ditelpon.
"Saya juga tidak tau apa yang harus dilakukan padanya, tuan Bagas tidak memerintahkan apa apa soal gadis kecil itu dia hanya menyuruhku menelponmu untuk mencari penghulu sekarang juga".
Setelah pak Dadang mengatakan itu lama Willy tidak menjawab dari seberang sana membuat pak Dadang gugup, apalagi saat Bagaskara tiba tiba bergerak dari posisi diamnya.
"Halo Willy kamu dengar apa yang baru saja aku katakankan?".
__ADS_1
"Iya..tapi untuk apa,jangan bilang tuan menyuruh saya menikahi gadis kecil itu,saya tidak bisa saya sudah punya pacar bagaimana ini pak Dadang?".
"Lakukan aja jangan banyak tanya!"perintah pak Dadang lalu mematikan telponnya.