
Bagaskara menatap secara bergantian kearah Gavin dan Anandita.
"Kalian yakin dengan berita ini?"tanyanya pada mereka berdua dengan ekspresi bahagia.
"Ya kami sudah memeriksakannya kedokter kandungan beberapa minggu yang lalu" jawab Gavin pada sang ayah.
"Lalu apa kata dokter?"tanya Bagaskara.
"Semua baik baik saja tidak ada masalah",jawab Gavin.
Mendengar itu Bagaskara merasa lega.
Berita ini sangat membahagiakan tapi dengan apa yang baru saja terjadi beberapa bulan lalu pada Gavin Bagaskara tetap merasa khawatir.
"Apa karena itu kamu meminta ayah untuk menyelidiki tentang penguntit ini?"tanya Bagaskara.
"Iya,aku hanya ingin berjaga jaga apakah itu orang yang pernah bermaksud mencelakakan Anandita dulu atau bukan?"
"Maksudmu orang yang bernama Bima itu dulu?"tanya Bagaskara pada Gavin.
Gavin mengangguk.
Sementara itu Anandita hanya mendengari apa yang mereka bicaarakan itu tanpa berkomentar sedikit pun.
"Jangan khawatir tentang dia dan keluarganya mereka tidak akan berani berbuat macam macam lagi pada kalian".
"Apa ayah melakukan sesuatu pada mereka?'tanya Gavin.
Bagaskara menatap kearah Anandita dan Gavin secara bergantian.
"Bagaimana menurutmu?'
Mendengar itu Anandita terkejut berbeda dengan Gavin dia tetap biasa saja karena dia tau siapa ayahnya itu.
"Kuharap ayah mengurangi hal itu",ucap Gavin lalu beranjak bangkit dari ruang tamu dan menarik Anandita untuk ikut bangkit bersamanya menuju kamar mereka dilantai dua.
Melihat bagaimana sikap Gavin pada apa yang dilakukannya Bagaskara hanya diam tidak menghalangi Gavin naik keatas.
Bagaskara hanya menghela nafas kasar setelah mereka berdua menghilang dibalik pintu kamar mereka.
Bik siti yang mendengar itu segera menghampiri Bagaskara.
"Benar apa yang dikatakan mas Gavin pak,sudah saatnya anda berhenti melakukan jalan kekerasan untuk menyelesaikan masalah",ucap bik Siti.
"Bagaimana caranya?"tanya Bagaskara.
"Seperti mas Gavin dan mbak Dita",ucap bik Siti.
"Apa maksudmu?"tanya Bagaskara dia memang jago dalam hal bisnis,tapi kalau untuk masalah keluarga dan wanita mungkin lebih baik Gavin darinya.
__ADS_1
"Menikahlah lagi pak",ucap bik Siti.
Mendengar itu Bagaskara terkejut,
"Kamu pikir berapa umurku sekarang sudah hampir 45 tahun dan kamu menyarankan aku untuk menikah lagi apa kamu waras!",bentak Bagaskara marah.
Tapi bagi bik Siti bentakan Bagaskara bukan apa apa,engan berani dia balik menatap Bagskara.
"Yang nggak waras itu Bapak !",bentak balik bik Siti.
"Apa maksudmu?",tanya Bagaskara bingung.
"Saya sudah pernah mengatakannya bukan coba bapak menikah lagi,supaya bapak bisa memperbaiki apa yang dulu gagal bapak lakukan".
Mendengar itu Bagaskara hanya menarik nafas keras.
"Dengan siapa,jangan aneh aneh aku lebih memilih fokus untuk menjaga mereka dan menunggu kelahiran cucuku yang tinggal beberapa bulan lagi lahir",jawab Bagaskara.
"Terserah bapak kalau begitu saya hanya pembantu yang sarannya nggak akan didengarkan juga",ucap bikSiti lalu berlalu dari ruang tamu meninggalkan Bagaskara sendirian disana.
Sementara itu didalam kamar Anandita menatap Gavin.
"Apa maksudmu yang mengatakan agar ayah mengurangi apa yang dulu dilakukannya?',tanya Anandita pada Gavin yang merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Mendengar itu Gavin menoleh kearah Aandita yang masih duduk dipinggir ranjang saat bicara padanya.
"Apa kamu akan tetap duduk saja disitu",ucap Gavin.
Mendengar itu Gavin berguling mendekat kearah Anandita dan langsung merebahkan kepalanya diatas pangkuan Anandita.
"Apa yang kamu lakukan?',tanya Anandita.
Gavin menatap Anandita yang juga menatap kearahnya.
"Apa yang kamu ingin tau?,tanya Gavin.
"Apa ayah Bagas melakukan sesuatu yang buruk pada Bima dan keluarganya?,tanyanya.
"Mungkin?',jawab Gavin.
"Vin!!"aku serius!'.
"Aku juga serius Yank,kamu pikir hanya ayah yang bisa melakukan hal itu,aku juga akan melakukan hal yang sama pada orang yang mengganggumu".
"Lalu kenapa kamu tadi melarang ayah untuk melakukan itu?'.
"Karena kamu tanggung jawabku makanya aku nggak ingin ayah melakukannya untukmu".
"Lalu siapa,jangan bilang kamu yang akan melakukannya,Vin".
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak mau aaaaku melindungimu,kamu lebih suka dilindungi ayah terus?,"tanya Gavin lalu kembali menggulingkan tubuhya menjauh dari pangkuan Anandita.
Melihat apa yang dilakukan Gavin Anandita hanya bisa mengelus dada,dasar anak anak,batin Anandita sebal.
Dengan terpaksa Anandita naik keatas ranjang dan langsung memeluk tubuh Gavin dari belakang.
"Poppy marah ya?'tanya Anandita.
Tapi Gavin hanya diam masih tetap diposisi tadi tidak menjawab Anandita.
"Poppy, mommy hanya terlalu khawatir pada poppy nggak ingin terjadi apa apa pada poppy seperti waktu itu,apa itu salah?",ucap Anandita dengan menyerusukkan kepalanya kebelakang tubuh Gavin.
Lama mereka diam dalam posisi seperti itu sampai akhirnya terdengar suara bik Siti dari luar memanggil mereka untuk turun makan.
"Ayo!"ajak Gavin sambil bangkit dari ranjang dan mengajak Anandita untuk keluar makan,tapi Anandita menolaknya dengan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?",tanya Gavin.
"Ada ayah Bagas dibawah",ucap Anandita
Gavin langsung mengerutkan dahinya",kenapa dengan ayah?"tanya Gavin bingung.
Bukannya kamu nggak suka aku bicara sama ayah Bagas?',ucap Anandita menatap Gavin.
Mendengar apa yang dikatakan Anandita Gavin hanya bisa mengaruk kepalanya yang tidak gatal,dia juga bingung bagaimana mengatakannya apa yang dia rasakan saat melihat Anandita akrab dengan ayahnya,cemburu iya tapi lebih merasa takut kehilangan Anandita.
Anandita masih diam menunggu Gavin bicara padanya.
"Baiklah Yank maaf,aku mungkin memang keterlaluan,tapi kau benar benar nggak suka kalau kamu dekat dengan laki laki lain".
"Apa itu bukan hanya pada ayah Bagas saja?".
"Hemm'Gavin mengangguk mengakuinya.
"Oke,baiklah kalau dengan laki laki yang lain aku bisa memakluminnya,tapi bisa nggak kamu menahannya supaya mengurangi sifat posesifmu didepan ayah Bagas",pinta Anandita.
Mendengar itu Gavin kembali mengangguk.
"Yakin kamu bisa?"
"Aku akan usahakan Yank,aku janji,jadi ayo turun sebelum bik Siti mengetuk pintu lagi",ajak Gavin.
Kali ini Anandita mengangguk dan meraih tangan Gavin yang nenariknya turun dari ranjang.
Tapi saat Anandita sudah berada dihadapannya Gavin malah menarik tubuh Anandita kepelukannya dan langsung menyambar bibir Anandita untuk diciumnya,setelah membuat Anandita hampir kehabisan nafas baru Gavin melepaskan pagutan bibirnya pada Anandita,membuat Anandita melotot kearahnya.
"Vin kamu...!"
Anandita memukul dada Gavin marah karena tiba tiba dicium seperti itu,tapi melihat Anandita marah Gavin malah tertawa dengan keras.
__ADS_1
"Ayo turun bik Siti pasti sudah menunggu kita bersama ayah dibawah untuk makan siang sekarang",ucap Gavin menarik Anandita keluar kamar mereka.
Dan benar saja sampai dibawah bik Siti sudah menunggu mereka beserta Bagaskara yang hanya menatap mereka biasa.