Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
72.Kembali Kesekolah.


__ADS_3

Anandita meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karena harus tidur disofa semalaman bersama Gavin.


"Vin ayo bangun,hari ini kamu sudah mulai sekolah".


"Hemmm",bukannya bangun Gavin malah menyelusupkan kepalanya kedada Anandita.


"Vinn!,hentikan ini sudah pagi!"Anandita mencoba menahan tangan Gavin yang ingin masuk kedalam bajunya.


"Masih terlalu pagi Yank,boleh nggak sebentar mau pegang tadi malam aku lupa".


"Gavin!"Anandita bermaksud mencegah tangan Gavin yang tidak mau diam tapi malah membuat Gavin jadi jatuh terguling kelantai karena sofa yang sempit.


"Auw!!,Yank kamu tega banget sih!"gerutu Gavin sambil bangkit dari lantai.


"Maaf kamu juga yang nggak mau diam",ucap Anandita merasa tidak tega melihat Gavin bangun sambil memegangi pantatnya yang jatuh kelantai dengan keras.


"Sudahlah ayo mandi!"


Dengan tiba tiba Gavin menarik tangan Anandita menuju kamar mandi dan langsung menariknya ikut masuk bersamanya tanpa sempat Anandita menolak.


***


Anandita menatap Gavin dengan sebal,hampir saja mereka kesiangan berangkat kesekolah dihari pertama semester baru,karena kelakuan Gavin dikamar mandi yang minta jatah tertundanya tadi.


"Yank berhenti cemberut,kita sudah sampai disekolah dan kamu masih tetap cemberut padaku seperti itu".


"Jadi aku tidak boleh cemberut atau kesal padamu,sekarang?!"


"Iya,kan itu bukan salahku?"


"Lalu kamu mau bilang itu salahku begitu?!"


"Iya,aku kan cuma mengambil jatah tadi malam Yank", jawab Gavin dengan santai.


"kamu...!"


Anandita tidak melanjutkan bicaranya tapi langsung membuka pintu mobil,dan keluar tanpa memperdulikan Gavin lagi yang masih didalam mobil memanggilnya untuk salim.


Anandita berjalan dikoridor menuju keruang guru, masih dengan tampang cemberutnya, sampai dia tidak mendengar saat ada yang memanggilnya dari belakang.


Saat bahunya ditepuk dari belakang barulah dia langsung menghentikan langkahnya dan menengok orang yang memanggilnya.


"Dita!"


"Bima!!"Anandita langsung terkejut saat mengetahui siapa yang menepuk pundaknya.


"Iya ini aku,kenapa terkejut ya?"tanya Bima karena melihat ekspresi Anandita yang sangat terkejut melihatnya.


Anandita hanya mengangguk menanggapi ucapan Bima,dia tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang sama dalam waktu secepat ini.


"Kamu sedang apa disini?"tanya Anandita berusaha menormalkan perasaan terkejutnya.


"Aku kerja disini sebagai guru mulai hari ini",jawab Bima yang membuat Anandita kembali terkejut.

__ADS_1


"Kamu...kamu bekerja disini!!".


"Iya,bagaimana ternyata dunia itu sempitkan,baru kemaren kita bertemu dan sekarang ternyata kita kembali bertemu bahkan satu tempat kerja",ucap Bima dengan antusias.


Mendengar itu Anandita hanya bisa tertawa kecut sebelum menganggukan kepalanya pada Bima.


"Kamu sudah lama kerja disini?"tanya Bima sambil berjalan disamping Anandita.


"Baru beberapa bulan yang lalu",jawab Anandita singkat.


"Berarti kamu seniorku sekarang,jadi bagaimana kalau kamu menemani aku keliling sekolah ini"ucap Bima.


"Sepertinya aku tidak bisa Bim,kamu bisa minta tolong guru yang lain nanti",jawab Anandita.


"Kenapa bukankah kita teman dulu,jangan bilang kamu tidak nyaman karena kamu sudah menikah jadi akan membatasi pertemanan kita".


"Itu juga salah satunya",jawab Anandita.


"Tapi bukankah suamimu tidak bekerja disini,jadi kamu tidak perlu merasa tidak nyaman kurasa?",ucap Bima.


"Aku..."belum selesai Anandita menjawab Bima, tiba tiba dia merasa seperti ada yang memandangnya dari belakang,secara reflek Anandita langsung menengokkan kepalanya kebelakang,dan dilihatnya gavin menatap tajam kearahnya dari depan kelasnya.


Melihat Anandita tampak terkejut saat melihat kebelakang Bima langsung ikut menengok kebelakang,tapi dia hanya melihat para murid berlalu lalang yang akan segera masuk kedalam kelas.


"Ada apa?"tanya Bima.


"Tidak ada,kamu ngajar kelas berapa?"tanya Anandita sambil menatap kedepan,berharap Bima tidak melihat Gavin tadi.


"Aku sepertinya akan mengajar dikelas 10,untuk semester ini,bagaimana denganmu?".


"Sepertinya kita akan jarang bertemu"jawab Bima terdengar kecewa.


"Iya",Anandita merasa sedikit lega saat mendengar Bima akan mengajar dikelas 10,karena jarak yang cukup jauh antara kelas 10 dengan kelas 12IPA,jadi kemungkinan kecil Gavin dan Bima akan bertemu.


"Bim,aku akan kekantor senang bertemu denganmu lagi"ucap Anandita lalu segera berlalu dari hadapan Bima sebelum dia kembali bertanya macam macam padanya.


Bima hanya memandang kepergian Anandita yang semakin menjauh sebelum berlalu dari sana.


Sampai diruang kantornya,Anandita segera menghempaskan tubuhnya dikursi kerjanya.


Semoga semua akan baik baik saja,batinnya sedikit khawatir,karena Bima bekerja satu sekolah dengannya.


Jujur saja dia mengkhawatirkan Gavin,bagaimana kalau sampai Bima tau bahwa suaminya ternyata murid disekolah ini,apa yang harus dia katakan,pikir Anandita.


Baru saja Anandita memikirkan Gavin tiba tiba pesan masuk dari Gavin.


"Yank,siapa tadi?"


"Dia Bima,temanku yang kita temui kemaren waktu diBandara",tulis Anandita tanpa bermaksud untuk menutupinya.


"Sedang apa dia disini?,jangan bilang untuk bertemu denganmu?"tulis Gavin dengan memasang emot sebal.


"Bukan kami hanya kebetulan bertemu tadi".

__ADS_1


"Kebetulan?"


"Jangan berpikir buruk dulu,mulai hari ini dia menjadi guru disekolah ini",tulis Anandita.


"Ternyata begitu".


"Kamu nggak khawatir soal itu?"tulis Anandita.


"Nggak,emang kenapa Yank?"


"Bagaimana kalau dia tau kamu ternyata murid disini?"


"Nggak masalah,aku lebih khawatir kalau dia bermaksud untuk mendekatimu".


"Vin!,aku serius,kamu ingat kemaren aku sempat mengenalkan kamu sebagai suamiku padanya,bagaimana ini?"tulis Anandita dengan emoji cemas.


"Kamu mau aku datang keruanganmu sekarang?"


Anandita bingung membaca pesan Gavin yang akan datang keruangannya,padahal sekarang mereka sedang membahas masalah Bima ,apa yang sebenarnya dipikirkan Gavin ,batinnya,karena pemikiran Gavin itu selalu diluar ekspetasinya.


"Untuk apa?"tulis Anandita dengan disertai emoji bingung.


"Untuk menghiburmu",tulis Gavin.


Membaca pesan Gavin Anandita menjadi tambah pusing,benar benar sulit dipahami pemikirannya,gumam Anandita dengan sebal.


"Tidak perlu!"tulis Anandita dengan menyertakan emoji marah.


Anandita bermaksud menyimpan ponselnya dan berhenti berkirim pesan dengan Gavin, tapi baru saja dia meletakkan ponselnya didalam tas,tiba tiba ponselnya berdering dilihatnya panggilan dari Gavin,dengan malas Anandita menjawab panggilan itu.


"Hemm"


"Kamu marah?"tanya Gavin.


"Enggak,cuma sebal karena kamu selalu nggak pernah serius saat diajak bicara".


"Aku serius kok Yank,saat bilang mau kekantormu untuk menghiburmu".


"Vin...,plisss!!"


"An,percayalah padaku jangan menghawatirkan hal yang belum terjadi,bagiku meskipun dia tau aku sekolah disini ,aku yakin itu bukan masalah besar".


"Tapi Vin!,bagai mana kalau dia mengatakan tentang statusmu dihadapan semua orang?!"


"Aku pasti bisa mengatasinya yang penting kamu percaya padaku,jadi jangan khawatirkan hal yang tidak perlu,oke!?"


"Hemm".


"Berhenti cemberut dan bersedih Yank".


"Hemmm,makasih,ternyata benar aku sekarang ingin kamu ada disini,Vin".


"Kalau begitu aku datang ya?".

__ADS_1


Seketika Anadita langsung berdiri dan dengan lantang bicara.


"Jangan!!!".


__ADS_2