Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
54.Malam Pengantin.


__ADS_3

Gavin melangkah masuk kedalam kamar tidur,setelah pembicaraan dengan ayahnya tadi seharusnya dia merasa lega tapi entah kenapa masih ada rasa yang mengganjal didadanya.


Dilihatnya kesekeliling kamar,tidak dilihatnya Anandita ada,dimana dia, batin Gavin tapi saat didengarnya suara air dari dalam kamar mandi,Gavin berpikir Anandita mungkin. sedang berada didalam sana.


Gavin memilih untuk merebahkan tubuhnya diatas ranjang,sambil menunggu Anandita. Dipejamkan matanya dengan tangan berada diatas dahinya,dia merasa rasa sesak itu masih mengganjal dadanya.


Lama Gavin diam d dengan posisi seperti itu,sampai dia merasa bagian sebelah ranjangnya bergetar menandakan Anandita naik keatasnya.


"Vin..kau sudah tidur?"tanya Anandita pelan sambil menyentuh lengan Gavin yang berada diatas kepalanya.


"Hem"Gumam Gavin tanpa membuka matanya.


"Kau baik baik sajakan?"


"Hemm".Gavin tetap belum menyahut Anandita.


"Kenapa,kau sedang punya masalah?"


"Nggak"jawab Gavin sambil melirik Anandita.


"Lalu,ada apa,kau mau cerita?"


"Nggak ada aku hanya merasa nggak enak hati".


"Maksudmu".Seperti ada sesuatu yang mengganjal dihatiku pada Ayah,dan aku nggak tau kenapa, meskipun selama ini aku sudah mencoba untuk melupakan dan memaafkan semua apa yang pernah terjadi pada kami".


"Kau sudah memaafkan ayah Bagas?"


"Ya,tapi aku tetap merasa masih sesak didada sini"Gavin menunjuk bagian dadanya yang terasa sesak.


"Itu rasa kecewamu pada ayah".

__ADS_1


"Maksudmu An.."


"Itu adalah salah satu empati didirimu karena menerima perlakuan menyakitkan dari orang yang sama secara berulang,kau mungkin sudah memaafkannya tapi disalah satu sisi hatimu tidak bisa menerimanya karena itu kau masih merasa sakit,pelan pelan saja,karena sulit menghilangkan rasa kecewa yang pernah kita alami,semua butuh proses untuk sembuh".


Gavin hanya diam mendengar ucapan Anandita,lalu tiba tiba dia memiringkan tubuhnya menghadap kearah Anandita.


"Kalau begitu hibur aku Yank".


"Bagaimana caranya?"


"Peluk sini".


Anandita mengeser tubuhnya mendekat kearah Gavin,sambil masih berada dalam selimut.


"kenapa kau masih didalam selimut Yank sini naik biar aku peluk".


Anandita menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Hah apa maksudnya dingin,Acnya terlalu dingin?"tanya Gavin bingung.


"Itu...bukan Acnya tapi.."Anandita tidak menyelesaikan kalimatnya karena bingung mengatakannya.


Gavin tidak sabar melihat Anandita yang tampak ragu ragu bicara padanya, jadi dia langsung membuka selimut yang menutupi tubuh Anandita dan saat melihat hanya memakai linggeri dibalik selimut dia langsung terpesona.


"Ayank aku suka kau pakai baju seperti ini,cantik sekali".


"Tapi aku malu jangan terus melihatku begitu"jawab Anandita dengan mengalihkan pandangannya dari Gavin.


"Yank.."Gavin menyentuh wajah Anandita agar menatap kearahnya.

__ADS_1


Anandita masih berusaha untuk menolak tapi saat tangan Gavin mulai menyelusuri wajahnya dengan lembut dan tangan yang satunya lagi mencium tangan Anandita yang mengenakan cincin pernikahan,Anandita jadi menatap Gavin.


"Makasih sudah hadir mewarnai lembar hidupku yang membosankan ini,semoga kamu tetap bisa menjadi pewarna yang selalu mewarnai setiap lembar polos diperjalanan hidupku sampai nanti saat aku menutup mata.Mari bantu aku membuat warna warna indah diperjalanan kita,jangan pernah bosan dengan aku yang terlalu biasa,Yank".ucap Gavin dengan mengecup lama tangan Anandita yang memakai cincin kawin membuat Anandita jadi berkaca kaca mendengar apa yang diucapkan Gavin padanya,dia tidak pernah menyangka akan mendengar kata indah itu dari mulut Gavin.


"Ya,mari kita sama sama melakukannya",jawab Anandita dengan suara parau karena terharu.


"Jadi bolehkan aku ingin memilikimu lagi malam ini?"


Anandita hanya mengangguk menatap Gavin.


"Aku akan pelan pelan kali ini,kita akan pelan pelan saling mengenal".


Anandita tidak sanggup lagi menjawab ucapan Gavin, karena Gavin sudah menundukan wajahnya untuk mengecup dahi Anandita dengan lembut, cukup lama Gavin menempelkan bibirnya disana meresapi rasa kebersamaan mereka, lalu baru berpindah ke kedua kelopak mata Anandita secara bergantian,membuat Anandita memejamkan mata meresapi kecupan Gavin,setelah itu Gavin mencium kedua pipi Anandita,baru setelah semua itu dia mengecup bibir Anadita lembut menyesap bibir bawah Anadita pelan dan lembut lalu berpindah kebibir atasnya Gavin melakukan hal yang sama,setelah itu dia memagut kedua bibir Anandita memintanya untuk membuka mulutnya agar lidahnya bisa menerobos masuk,Anandita membuka mulutnya membiarkan lidah Gavin masuk kedalam mulutnya dan mulai mencari lidah Anadita didalam rongga mulutnya,lalu mulai membelit lidah Anadita.


Gavin menarik tengkuk Anandita supaya pagutan mereka bisa lebih dalam.


Anandita mengalungkan kedua tangannya dileher Gavin mesra sambil membelai tengkuk Gavin,membuat Gavin semakin bergairah,setelah merasa mereka berdua hampir kehabisan nafas Gavin beralih mencium bagian leher Anadita yang putih menyesap dan mengigit kecil leher Anandita membuat Anadita mengerang pelan sementara tangan Gavin mulai menyelusup dibalik baju tidur tipis yang dipakai Anandita mencari dua benda favoritnya yang tidak tertutup apa apa itu.


Gavin membelai dan mulai meremas lembut dua bola yang lembut kenyal itu,sehingga membuat Anandita mengerang dengan perlakuan Gavin pada bagian tubuhnya itu.


Anandita meremat rambut hitam Gavin saat Gavin menurunkan ciumannya kedadanya yang sudah mengeras karena bergairah,disesapnya dan digigitnya dua ujung dada Anadita secara bergantian membuat Anadita membusungkan tubuhnya keatas menginginkan Gavin untuk semakin intens menciumnya.


Dibelainya perut rata Anadita dengan tangan sebelum bibirnya melakukan hal yang sama diperut itu,dikecup dan disesapnya pelan perut Anadita dengan tangan yang semakin menurun kebawah mencari ujung penutup inti Anadita lalu perlahan Gavin melepaskan benda itu dari inti tubuh Anandita,setelah itu dengan pelan dibelainya bagian luar inti Anadita dengan tangannya,membuat Anadita kembali mengerang menyebut nama Gavin dengan parau.


"Vin...".


"Buka Yank,aku ingin merasakan dalam inti tubuhmu"ucap Gavin menyuruh Anadita untuk membuka kedua pahanya.


Anadita menuruti apa yang diminta Gavin dengan patuh,setelah itu Gavin mulai menempatkan wajahnya ditengah kedua paha Anadita mulai mencium dan menyesap juga menggigit bagian luar inti Anadita memintanya untuk semakin membuka pahanya agar dia semakin bisa memasukkan lidahnya untuk menikmati bagian itu.


Anadita mencengkram kedua sisi sprey tempat tidur saat merasakan lidah Gavin bergerak menggelitik dibagian dalam inti tubuhnya membuat Anadita benar benar mengila karena gairah berkali kali Anadita mengerang menyebut nama Gavin saat Gavin memasukan jarinya dan mulutnya secara bergantian Anadita hanya bisa melentingkan tubuhnya menikmati sensasi nikmat dari dalam inti tibuhnya karena apa yang dilakukan Gavin padanya.

__ADS_1


"Vin..,aku mau keluar..."ucap Anadita dengan suara parau.


"Keluarkan Yank.."jawab gavin dengan semakin intens menyesap dan memainkan. lidahnya disana,membuat Anadita merasa sesuatu akan meledak keluar dan benar saja tidak lama dia merasa sesuatu mengalir keluar dari dalam inti tubuhnya.


__ADS_2