Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
158.Mengajak Kerumah Besar.


__ADS_3

Cinta menatap rumah besar didepannya dengan perasaan campur aduk.


"Ayo turun",ajak Bagaskara setelah mobilnya berhenti sempurna dihalaman rumah itu.


Cinta belum juga membuka pintu masih duduk diam ditempatnya.


"Kenapa?",tanya Bagaskara saat melihat Cinta tampak ragu ragu.


Cinta menggeleng"Ada berapa orang yang tinggal disini mas?",tanya Cinta terlihat sekali kalau dia gugup.


"Tidak ada hanya aku dan bik Siti dan juga penjaga didepan itu".


Bagaskara menunjuk pembantu laki lakinya yang ditugaskan untuk membantu pekerjaaan bik Siti selama ini.


"Cuma bertiga,nggak ada pengawal atau deretan pelayan yang akan menyambut kitakan".


Bagaskara mengerutkan keningnya mendengar kata kata Cinta dan langsung menggeleng.


"Kalau anggota keluarga mas yang lain mereka nggak tinggal disini?".


"Sekarang dirumah ada Gavin Anandita serta Cello",terang Bagaskara.


"Mereka juga tinggal disini?",tanya Cinta merasa senang tapi juga khawatir karena harus tinggal dengan mereka meskipun dia juga sangat menyayangi Cello.


"Hanya untuk beberapa hari,sebelum mereka kembali lagi keluar negeri,biasanya mereka kesini hanya untuk berkunjung.Ada apa, apa kamu khawatir tidak bisa dekat dengan mereka?".


Cinta mengangguk kemudian menggeleng saking gugupnya membuat Bagaskara kembali mengerutkan kening bingung.


Melihat itu Cinta mencoba menjelaskan pada Bagaskara.


"I..itu sebenarnya aku sangat gugup sekarang",ucapnya dengan menunduk.


Mendengar itu Bagaskara langsung meraih tangan Cinta yang dari tadi berada diatas pangkuan Cinta sambil diremas remasnya untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Bagaskara menggenggam tangan mungil itu yang terasa basah oleh keringat kemudian diusap usapnya pelan.


"Jangan khawatir ada aku disini".


Cinta menatap Bagaskara.


"Tapi ada orang lain selain mas dirumah ini meskipun aku kenal mereka, aku tetap gugup".


"Sebenarnya aku juga gugup sekarang,karena meski aku pernah menikah, tapi aku merasa ini seperti pernikahan pertamaku,aku benar benar gugup bukan hanya sekarang tapi dari pertama kali tau kamu adalah istriku aku gugup dan bingung tidak tau harus melakukan apa dan aku bersyukur disaat itu kamu mau mengambil inisiatif untuk mendekatiku dengan gencar meskipun aku tau itu tidak mudah untukmu,jadi sekarang ayo kita hadapi apa yang ada didepan kita ini bersama sama".


Mendengar itu Cinta mengangguk lemah.

__ADS_1


Bagaskara mengecup lembut punggung tangan Cinta untuk membuatnya merasa bahwa dia tidak sendiri.


"Sekarang ayo kita turun,mereka pasti sudah menunggu kita dari tadi dan kamu lihat itu bik Siti bahkan sudah keluar kedepan pintu".


Cinta mengikuti arah telunjuk Bagaskara yang menunjuk keperempuan tua yang sedang berdiri didepan pintu dengan harap harap cemas menunggu mereka turun.


"Itu bik Siti?",tanya Cinta.


Bagaskara mengangguk,"Dia sudah ikut aku sejak Gavin belum lahir sampai sekarang".


Mendengar itu Cinta diam dalam hati dia bergumam'Berarti dia orang yang tau sejarah kehidupan mas Bagaskara dengan istri pertamanya semoga saja dia tidak membanding bandingkan kami berdua nanti',batin Cinta merasa khawatir.


"Kamu sudah siap turun sekarang?",tanya Bagaskara karena Cinta diam saja.


Mendengar itu Cinta mengangguk.


'Biarlah ini adalah keputusannya maka apapun yang terjadi harus dia hadapi',batinnya lagi.


Cinta keluar mengikuti Bagaskara berjalan menuju pintu rumah.


Saat Cinta sampai didekat pintu bik Siti langsung berjalan menghampirinya dan tiba tiba langsung memeluknya erat.


"Nyonya muda selamat datang",ucapnya dengan ramah dan terlihat sangat senang membuat Cinta menjadi tenang mendengarnya.


"Makasih bik",jawab Cinta.


"Kurasa bukan aku yang membuat takut nyonya muda tapi Bapak, kalau Bapak tidak merubah sifat pemarah Bapak".


"Beraninya kamu mengatakan aku pemarah,aku tidak seperti itu,aku hanya mencoba bersikap tegas pada kalian semua agar kalian tidak macam macam".


Mendengar itu bik Siti hanya tersenyum miring pada Bagaskara dan menarik Cinta masuk kedalam rumah.


"Nyonya muda anda tidak perlu khawatir selama tinggal disini kalau nanti Bapak macam macam pada anda saya yang akan membela anda,jadi anda tenang saja",


Cinta hanya tersenyum sambil mengangguk dan mengamati kesekeliling ruang depan itu yang terlihat sunyi,Cinta bermaksud bertannya tapi Bagaskara sudah lebih dulu bertanya pada bik Siti.


"Kemana Gavin dan yang lain?",tanya Bagaskara.


"Mereka bilang akan pergi kebutik untuk memesankan gaun pengantin untuk bapak dan nyonya muda".


"Kenapa harus repot repot segala".


Mendengar itu bik Siti langsung melotot kearah Bagaskara,membuat Bagaskara bingung.


"Bapak benar benar nggak romantis",gerutu bik Siti.

__ADS_1


Cinta hanya diam mendengar perdebatan mereka.


"Bukan begitu,untuk masalah gaun pengantin itu kan bisa menyuruh desainernya kemari tidak perlu mereka yang pergi kesana,sekarang telpon mereka suruh kembali merepotkan saja",gerutu Bagaskara.


Bik Siti yang mendengar itu lalu segera menghubungi Gavin untuk menyampaikan pesan Bagaskara.


"Pak kata mas Gavin sama mbak Dita apa untuk cincin kawin Bapak juga akan menyuruh perancangnya kerumah?".


Bagaskara terdiam mendengar itu,dia lupa untuk masalah cincin kawin.


Bagaskara menatap Cinta yang diam saja dari tadi mendengar semua pembicaraan mereka.


"Biar aku dengan Cinta yang pergi sendiri nanti untuk memilihnya".


Wajah Cinta langsung bersemu merah mendengar itu,membuat Bagaskara gemas saat melihatnya dan ingin mencubit pipinya.


"Iya akan saya sampaikan".


Kemudian bik Siti mengatakan lagi apa yang dikatakan Bagaskara itu pada Gavin.


"Ayo aku antar kekamar",ajak Bagaskara pada Cinta.


Bik Siti yang mendengar itu langsung nyeletuk.


"Pak kamar tamu sudah saya bersihkan untuk nyonya muda istirahat sebelum acara ijab qobul beberapa hari ini".


Mendengar itu Bagaskara langsung melotot kearah bik Siti dan bermaksud mengatakan bahwa dia dan Cinta sudah menikah, tapi Cinta langsung mencegahnya dengan menggeleng kecil.


Akhirnya Bagaskara hanya memberi jawaban singkat pada bik Siti.


"Iya".


Lalu berlalu pergi mengajak Cinta kekamar tamu yang letaknya berada dilantai 2 sementara kamar Bagaskara berada dilantai satu membuat Bagaskara agak cemberut saat mengantar Cinta sampai depan pintu kamarnya.


"Istirahatlah dulu sekarang,nanti malam aku akan mengajakmu keluar untuk mencari cincin kawin,lalu besok pagi desainer baju pengantinmu akan datang untuk mengukur badanmu karena lusa kita akan melakukan ijab qobulnya".


Cinta sedikit terkejut mendengar ucapan Bagaskara,setahunya tadi malam Bagaskara bilang mereka akan menikah akhir pekan ini bukan lusa.


"Bukannya kita menikah hari sabtu nanti mas kenapa jadi hari rabu?',tanya Cinta bingung.


"Supaya lebih cepat,karena ternyata sabtu terlalu lama,jadi aku memutuskan kita akan menikah hari rabu saja,atau kamu mau besok kita menikah?",tanya Bagaskara.


Mendengar itu Cinta langsung menggeleng.


"Kenapa?',tanya Bagaskara terdengar kecewa karena Cinta tidak mau secepatnya menikah dengannya.

__ADS_1


"Aku juga ingin menikah seperti orang lain,bukan terburu buru seperti yang pertama dulu",jawabnya.


__ADS_2