
Anandita merebahkan tubuhnya keatas ranjang singgle didalam ruang kerja itu.
Ditatapnya seluruh isi kamar,tidak ada apa apa,benar kata Gavin kalau dia menunggu Gavin sampai selesai disini selama berbulan bulan dia pasti akan bosan,sedangkan pekerjaanya menjadi guru juga tidak terlalu sibuk.
Lama Anandita menunggu Gavin sudah hampir satu jam Anandita rebahan diranjang tapi Gavin belum kembali juga.
'bukankah Kafe sudah tutup dari tadi sedang apa dia' ,batin Anandita lalu bangkit dari ranjang dan berjalan menuju dapur yang letaknya dibagian belakang Kafe.
Suasana Kafe sudah sunyi,karena semua pegawai sudah pulang dari tadi,jadi Anandita langsung berjalan menuju Area dapur.
Didalam dapur Anandita mengedarkan pandangan mencari dimana keberadan Gavin didapur Kafe.
"Vin!"panggil Anandita sambil berjalan masuk kedalam area dapur.
"Masuk An,aku didalam"suara Gavin terdengar dari dalam dapur menyuruh Anandita untuk masuk.
"Kamu sedang apa?"tanya Anandita karena melihat Gavin masih sibuk dimeja pantry.
"Kemari"
Anandita mendekat kearah Gavin.
"Itu"Anandita melihat Gavin sedang menghias makanan dimeja pantry.
"Untukmu,cobalah"
"Cantik sekali ini Vin!, aku nggak tega untuk memakannya".
"nggak papa,sini buka mulutmu kusuapi ya?"ucap Gavin sambil menarik tubuh Anandita kesampingnya.
"Enak?"tanya Gavin setelah menyuapkan makanan kemulut Anandita.
"Emm"angguk Anandita karena mulutnya penuh makanan yang disuapkan gavin padanya.
"Capek nggak"tanya Gavin sambil memeluk pinggang Anandita yang berdiri dimeja pantry.
"Iya,tapi nggak papa kamu pasti lebih capek".
"Aku sudah biasa,tapi kalau kamu pasti capek karena ini hari pertama".
"Nanti juga lama lama biasa,aku nggak mungkin kalau ikut kamu terus hanya duduk atau rebahan diruang istirahat".
"Tapi ini bukan bidangmu?".
"Nggak papa Vin,aku disini itung itung sambil kenalan dengan semua pegawaimu kalau aku terlalu ngebos nanti mereka malah syirik lagi sama aku".
"Makasih yank udah paham maksudku nyuruh kamu ikut kedepan".
"I..iya.."
"Panggil Mas..."
__ADS_1
"A...pa maksudnya..?"
"Mas...aku mau kamu manggil aku Mas sekarang,ayo Yank."
"I...iya Mas!"Anandita langsung menutup wajahnya dengan telapak tangannya karena malu.
"Yank...ngapain sih wajahnya ditutup kaya gitu,hemmm"
"A..ku malu...kalau manggil itu".
"Mas..Yank"
"Iya..tapi masih sulit"
"Nggak sulit kok Yank,ayo panggil"ucap Gavin sambil membuka tangan Anandita yang berada diwajahnya dan membiarkan kedua tangan Anandita tetap digenggamannya.
"Ya...nk,ayo"
"I..iya Ma..s Gavin".
"Cup"Gavin langsung mengecup bibir Anandita dengan gemas.
Tapi kalau cuma satu kali kecupan, bagi Gavin tidak cukup jadi dia mengulangi lagi ciumannya dibibir Anandita yang setengah terbuka membuat Gavin bisa dengan mudah menyelusupkan lidahnya kedalam rongga mulut hangat milik Anandita.
Gavin memindahkan kedua tangan Anandita yang masih digenggamannya untuk mengalungi lehernya, sementara satu tangan Gavin menarik tengkuk Anandita agar ciuman mereka menjadi lebih dalam,sementara tangan satunya menopang meja untuk menjaga posisi berdirinya yang menopang tubuh Anandita yang bergelayut padanya agar tidak jatuh.
Gavin menyesap bibir Anandita dengan kuat secara bergantian lalu mengajak Anandita untuk saling bermain lidah dan bertukar saliva membuat Anadita benar benar terbuai dengan ciuman panas Gavin malam ini.
Gavin sama sekali tidak memberi jeda untuk Anandita agar bisa mengambil nafas hingga dia merasa nafas diparu parunya hampir tersedot habis.
Membuat mereka seketika menghentikan ciuman panas mereka karena terkejut.
"Maaf Bos saya nggak sengaja menjatuhkan baskom ini"ucap Heru.
Yang membuat Anandita dan Gavin langsung menatap kearahnya dengan terkejut.
"Saya cuma ngambil kunci rumah saya yang ketinggalan,silahkan diteruskan lagi kagiatannya yang tertunda tadi".
"Mas Heru tunggu!!"Gavin langsung menghentikan kokinya itu yang akan keluar dari dapur.
"Nggak papa Bos itu normal wanita dan laki laki berciuman itu nggak papa,saya juga dulu sering seperti itu waktu masih pacaran sama istri saya,bahkan kami pernah ciuman dikolong meja supaya nggak ketahuan Mahasiswa yang lain waktu kuliah".
Anadita dan Gavin saling berpandangan mendengar cerita Heru.
"Tapi kami nggak sedang pacaran"ucap Gavin memberi tau Heru.
"Oooo,cuma hubungan suka sama suka,itu juga saya pernah malah semakin asyik, saya pernah dulu dengan teman kuliah saya juga dibelakang istri saya sekarang,melakukan seperti kalian bahkan lebih hanya tidak sampai masuk saja cuma semi".
Gavin dan Anandita kembali berpandangan bingung dengan yang dikatakan Heru.
"Mas kami nggak pacaran karena kami susah nikah"terang Gavin supaya Heru tidak semakin salah paham dengan hubungan mereka sekarang
__ADS_1
"Krompyang!!!"tiba tiba Heru menabrak tumpukan panci yang ada diatas kepalanya sampai jatuh semua kelantai.
"B..bos sebaiknya saya pulang, istri saya tadi sudah menelpon lagi"ucap Heru lalu keluar dari dalam dapur dengan terburu buru.
Gavin dan Anandita saling berpandangan dengan bingung.
"Sepertinya Mas Heru tetap salah
paham"ucap Anandita
"Biarkan saja,sebaiknya kita lanjutkan yang
tadi yok Yank"
Anandita langsung melotot kearah Gavin.
"Nggak aku capek, mau pulang
sekarang!"ucap Anadita lalu berjalan keluar meninggalkan dapur.
Melihat Anandita keluar Gvain segera mengikuti langkahnya dan setelah sejajar Gavin langsung mengalungkan tangannya kepundak sang istri,yang tingginya hanya sebatas pundaknya.
"Gavin berat ih!"
"Mas"ucap Gavin.
"Iya,Mas gavin sayang ini tangannya berat dipundakku"ucap Anandita.
"Nah gitu dong manggilnya kan enak didengar jadi tambah gumus aku,muah!"Gavin mencium pipi Anandita dengan gemas.
"Sudah!,nanti lama lama habis pipiku kamu cium terus"sungut Anandita sambil menyapukan tangannya kepipi yang baru saja dicium Gavin.
"Nggak akan habis paling tambah gembul seperti bagian lain yang biasa aku cium"
Anandita langsung melotot kearah Gavin.
"Yang mana?"
"Ini...dan yang dua ini tambah gembulkan"ucap Gavin sambil menunjuk bibir dan buah dada Anandita membuat Anandita semakin melotot melihat Gavin dengan santainya menyentuh dua benda pribadi ditubuhnya ,seolah itu barang miliknya.
"Gavin!!,kebiasaan banget!"ucap Anadita semakin sewot lalau berjalan mendahului Gavin keluar dari Kafe menuju mobil yang membuat Gavin hanya tertawa lebar melihat wajah Anadita yng marah.
"Tapi benarkan Yank?"ucap Gavin saat berhasil menyusul Anadita keparkiran.
"Apaan sih,malu maluin aja ngomong kaya gitu!"
"Benar nggak?"
"Tau ah!,cepat buka pintunya aku capek mau pulang"ucap Anandita.
"Jawab dulu iya apa nggak?"ucap Gavin sambil memepet tubuh Anandita kepintu mobil.
__ADS_1
"Iya benar,puaskan sudah,sekarang cepat buka pintunya aku capek".
"Siap Nyonya Bos sayang.."ucap Gavin sambil mencubit hidung sang istri.