Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
112.memberi Pengertian


__ADS_3

Anandita membolak balikan tubuhnya diatas ranjang besar yang ada didalam kamar,dirinya marah sebal kesal semua emosi berkumpul jadi satu,karena Gavin tidak mengerti tentang perasaannya sekarang.


Mungkin Gavin bisa bilang dia tidak akan tertarik pada Siska tapi melihat bagaimana Siska menatap Gavin kemarin, Anandita yakin Siska tertarik pada Gavin.


Tentu saja siapa yang tidak tertarik pada suaminya itu sudah tampan kaya baik dan masih banyak lagi kelebihan Gavin yang membuat Anadita sebenarnya selama ini merasa sangat beruntung menikah dengan Gavin.


Jadi wajar saja kalau dia marah dan cemburu pada Siska yang Anandita rasa sengaja ingin mengambil perhatian Gavin.


Apalagi dengan sikap Gavin yang tidak tegaan seperti tadi saat Anandita memintanya untuk memecat Siska membuat Anadita semakin khawatir.


Mungkin sekarang dia masih bisa ikut kekafe menemani Gavin, tapi beberapa bulan lagi saat perutnya sudah seperti balon besarnya bukan hanya tidak bisa menemani pergi kekafe ,bahkan Anadita mungkin juga tidak lagi cantik karena semua tubuhnya membengkak bisa saja Gavin tidak tertarik lagi padanya ,sekarang saja Gavin mulai dingin padanya hanya ucapannya saja yang manis dan mesra tapi perlakuannya sudah mulai berubah dia tidak semesum dulu lagi membuat Anadita semakin takut mengingat itu.


Anandita kembali membalikkan tubuhnya,sampai dia bosan berguling diatas ranjang besar itu,apalagi tiba tiba perutnya merasa lapar kalau ada Gavin disampingnya dia pasti sudah membangunkan Gavin dan dengan sigap Gavin akan menanyakan apa yang diinginkannya untuk dimakan.


Tidak perduli seberapa malam Gavin pasti akan berusaha mencarikannya makanan yang dinginkan Anandita.


Mengingat Gavin tadi diusirnya untuk pulang dan mungkin sekarang dia benar benar sudah pulang kerumah Anandita menjadi sedih,tanpa terasa airmatanya mengalir, sejak hamil dia memang lebih sensitif dan jadi sering menagis tanpa sebab.


Anandita sebenarnya tidak ingin keluar dari dalam kamar tapi karena perutnya kembali berbunyi minta diisi dengan terpaksa dia turun dari ranjang dan berjalan perlahan keluar dari kamar.


saat sampai diluar kamar suasana rumah besar terasa sangat sunyi apalagi bik Siti sudah mematikan sebagian lampu dirumah itu.


Karena takut membuat bik Siti yang tidur dibelakang akan terbangun Anandita sengaja tidak menghidupkan lampu saat kedapur tapi dia berjalan dengan memanfaatkan cahaya dari luar dan dari senter diponselnya.


Sampai didapur Anadita langsung menghampiri kulkas dan membukannya mencari sesuatu yang bisa langsung dimakan,tanpa perlu dimasak.


Tapi tampaknya bik Siti tidak mempunyai persediaan makanan dan cemilan seperti dirumah mereka yang kulkasnya penuh dengan buah dan cemilan,serta Gavin menyiapkan makanan yang hanya perlu dipanaskan didalam microwive sebentar sebelum bisa dimakan.


Membayangkan isi kulkasnya yang penuh dengan makanan kesukaannya tiba tiba Anandita merindukan rumah mereka sekarang,ingin rasanya dia menelpon Gavin dan menyuruhnya untuk menjemputnya pulang sekarang tapi dia gengsi.


Karena sibuk mencari makanan yang bisa langsung dimakan didalam kulkas tanpa sadar Anadita menyenggol botol air mineral yang berjajar dipintu kulkas sampai jatuh kelantai dan menimbulkan suara cukup keras.

__ADS_1


"Untung saja bik Siti tidur dikamar yang belakang, jadi tidak akan mendengar botol itu jatuh",batin Anandita.


Tapi dia baru bermaksud mengambil botol air mineral itu,tiba tiba dia terkejut saat melihat lampu dapur tiba tiba menyala dan melihat Gavin berdiri tidak jauh dari tempatnya dengan rambut acak acakan khas orang baru bangun tidur.


"Yank kamu sedang apa?".


Mendengar pertanyaan lembut Gavin seketika hati Anandita luluh.


"Aku lapar tapi dikulkas tidak ada sesuatu yang bisa langsung dimakan".


Mendengar itu Gavin mendekati Anandita.


"Duduklah akan kubuatkan sesuatu yang bisa cepat dimakan".


Mendengar itu Anandita mengangguk dan langsung senang.


Gavin memeriksa isi kulkas milik ayahnya itu,banyak terdapat ikan,daging dan berbagai sayur segar yang perlu waktu cukup lama sebelum bisa langsung dimakan, hanya ada telur bahan makanan yang cepat memasaknya,jadi dia mengambil beberapa butir telur dan akan membuatkan omelet saja untuk Anandita malam ini.


Gavin membawa piring piring itu kemeja makan dimana Anadita sudah tidak sabar.


"Ini",Gavin menyodorkan sepiring Omelet panas kedepan Anandita dan membuat wajah Anadita langsung tersenyum cerah melihat itu.


"Makasih banyak poppy",lalu mulai menyendok makanan dipiringnya.


"Enak?",tanya Gavin sambil ikut menyantap miliknya.


Karena mulutnya penuh Anandita cuma mengangguk untuk menjawab Gavin.


Mereka makan dalam diam setelah selesai makan Anandita mengambil piring milik Gavin dan mencucinya diwastafel,beserta alat masak yang di pakai Gavin tadi.


Tiba tiba Gavin memeluk tubuh Anandita dari belakang dan mencium belakang tengkuknya yang terbuka.

__ADS_1


"Vin hentikan aku sedang sibuk",Anandita berusaha mengusir Gavin untuk menyingkir dengan menggeliatkan tubuhnya.


"Yank udah ya marahnya",ucap Gavin.


Mendengar itu Anandita langsung membalikan tubuhnya tidak perduli dia belum selesai mencuci semua piring kotor diwastafel.


"Kenapa?,kamu sudah setuju dengan permintaanku tadi?",tanya Anandita.


Gavin mengangguk.


"Bohong kamu pasti cuma mau merayu aja supaya aku jangan marah lagi".


"Enggak Yank aku serius aku akan memecat Siska seperti keinginanmu tapi aku harus bicara dulu dengan ayah,besok".


"Kenapa?"tanya Anadita kembali cemberut.


"Bukan untuk menahan Siska aku bicara pada ayah tapi aku ingin meminta ayah untuk mencarikanku lagi orang yang akan membantuku mengurus pembukuan Kafe".


"Orang lain lagi,jadi apa artinya Siska pergi kalau ada penggantinya yang bisa saja lebih...",belum selesai Anandita mengomel Gavin sudah menutup mulutnya dengan telunjuk.


"Dengarkan dulu penjelasanku,aku butuh orang yang membantuku untuk mengurus pembukuan diKafe karena aku ingin punya waktu lebih banyak denganmu,jadi aku hanya akan datang keKafe sekali kali saja,sebelum anak kita lahir,jadi aku akan bicara dengan ayah dan menyuruh mencari seorang laki-laki yang bisa membantuku melakukan itu bagaimana menurutmu.


Mendengar itu Anandita hanya diam sambil mengamati lantai,merasa sedikit bersalah pada Gavin seharian ini karena marah marah tidak jelas.


"Yank jawab,kamu nggak marah lagikan kita baikan ya sekarang",ucap Gavin dengan mengangkat dagu Anandita agar menghadap padanya.


"Yank",Gavin mengulang memanggil Anandita bahkan sekarang lebih lembut untuk membujuk istrinya itu.


"Iya",jawab Anandita singkat tapi Gavin tidak puas hanya mendengar jawaban itu setelah seharian dibuat pusing dengan emosi Anandita.


"Yang jelas Yank menjawabnya",ucap Gavin dengan menumpukan kedua tangannya dipinggir wastafel dan wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Anandita yang mendongak kearahnya,hingga helaan nafas mereka terdengar jelas saat itu.

__ADS_1


Anandita harus membasahi bibirnya dengan lidah sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan Gavin padanya karena merasa tenggorokannya terasa kering dengan kedekatan itu.


__ADS_2