Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
90.Perasaan Gavin.


__ADS_3

Gavin duduk diam sambil mengaduk aduk soto ayam didalam mangkoknya,pikirannya saat ini fokus memikirkan tentang perubahan sikap Anandita selama beberapa minggu belakangan ini, yang menurutnya memang sangat aneh kadang marah kadang sedih dan kadang bahagia,setiap Gavin bertanya dia selalu menjawab tidak apa apa membuat Gavin pusing dibuatnya.


Apalagi setelah mendengar apa yang dikatakan Aldo tadi membuatnya menjadi sedikit berpikir kearah itu,tapi....


Gavin langsung mendorong mangkuk yang berisi soto ayam didepannya menjauh dengan keras membuat Aldo langsung menatap kearahnya.


"Kenapa lo nggak jadi makan?"tanya Aldo karena melihat isi mangkuk Gavin masih utuh .


"Nggak gue mau pulang aja",ucap Gavin lalu bangkit dari kursinya.


"lo nggak nunggu bini lo pulangnya sekarang, dia kan belum pulang!"ucap Aldo yang membuat beberapa orang yang ada didalam kantin langsung menengok kearah mereka.


Tapi Gavin cuek saja tetap terus berjalan keluar kantin tanpa perduli pada orang yang memandangnya karena mendengar ucapan Aldo.


Gavin kekelas hanya mengambil tas lalu segera keluar lagi,sampai diluar kelas dia berpapasan dengan Aldo yang sepertinya terburu buru mengejarnya dengan wajah khawatir.


"Tunggu lo beneran mau pulang tanpa menunggu bu Dita dulu?"tanya Aldo.


"Dia masih lama, nanti gue balik lagi sekarang gue mau pergi ketempat dokter Rumi dulu",jawab Gavin.


"Ngapain lo kesana bukannya lo sudah sembuh,apa lo merasakan ada yang aneh lagi pada diri lo Vin?"tanya Aldo dengan wajah sangat khawatir.


Mendengar pertanyaan bernada khawatir dari Aldo Gavin terpaksa menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Aldo lalu menepuk bahunya pelan.


"Jangan khawatir gue udah baik baik aja berkat kalian semua makasih banyak udah perduli sama gue selama ini,tolong titip pesan buat Anandita tunggu sampai gue jemput kalau mau pulang".


Aldo hanya mengangguk membiarkan Gavin pergi dari hadapannya.


Setelah mengatakan itu Gavin pergi meninggalkan sekolah menuju ketempat praktek dokter Rumi.


Sampai disana dokter Rumi menyambutnya dengan tersenyum ramah.


"Bagaimana khabarmu sekarang Vin?"sapa dokter Rumi sambil mempersilahkan Gavin duduk.


"Baik dok",jawabnya.


"Lalu apakah ada sesuatu yang kurang nyaman atau kamu sedang dalam masalah jadi tiba tiba kamu datang kemari?"tanya dokter Rumi menatap kearah Gavin.


Gavin hanya menggeleng.


"Lalu?"tanya dokter Rumi lagi.


"Apa tidak papa seandainya saya punya anak?"tanya Gavin langsung pada dokter Rumi.


Mendengar pertanyaan Gavin dokter Rumi menatap kearah Gavin.


"Apa yang kamu khawatirkan?"tanyanya.

__ADS_1


"Apakah penyakitku tidak akan berdampak pada mental dan pertumbuhan anakku nanti?"tanya Gavin terdengar khawatir.


"Belum ada dalam sejarah bahwa sakit yang diakibatkan oleh trauma dari orang tua bisa membawa pengaruh pada tumbuh kembang anak mereka",jawab Dokter Rumi.


"Berarti tidak akan ada masalah kan dok?".


Dokter Rumi menggeleng" sejauh ini asal kamu tidak melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah orang tuamu lakukan untuk membuatmu trauma kurasa semuanya akan baik baik saja untuk mu dan keluargamu",terang dokter Rumi.


Mendengar apa yang dikatakan dokter Rumi perasaan Gavin menjadi tenang.


"Apakah ada khabar gembira tentang pernikahan kalian?"tanya dokter Rumi dengan tersenyum lembut pada Gavin.


"Semoga saja,karena saya belum memastikannya,"jawab Gavin.


"Pelan pelan saja dan semoga kalau benar ada khabar gembira aku ucapkan selamat untuk kalian",ucap Dokter Rumi lalu mengulurkan tangannya pada Gavin.


"Trimakasih banyak dok,kalau benar mungkin saya akan semakin sering menemui dokter".


"Kenapa apa itu mengganggu pikiranmu?"tanya dokter Rumi dengan mengerutkan keningnya.


"Bukan,saya hanya ingin menjadi orang tua yang baik untuk anak saya,karena itu saya tidak ingin, sampai saya punya masalah lagi."


Dokter Rumi tersenyum lembut pada,Gavin.


"Nikmati setiap prosesnya dan jangan kecewa kalau tidak sesuai harapan,terus berusaha menjadi lebih baik dengan komunikasi yang baik antara keluarga terutama pasangan hidupmu".


Mendengar pesan yang diucapkan dokter Rumi Gavin mengangguk.


Setelah itu Gavin langsung mengemudikan mobilnya kembali kesekolah untuk menjemput Anandita.


Sampai disekolah ternyata Anandita sudah menunggunya ditempat parkir yang sudah cukup sepi karena sudah banyak yang pulang.


Melihat itu Gavin langsung turun dari mobil dan langsung membukakan pintu mobil untuk sang istri.


"Maaf membuatmu menunggu lama Yank",ucap Gavin dengan membantu Anandita masuk kedalam mobil,setelah itu


lalu dia naik kekursi kemudi.


Gavin menatap Anandita yang tampak berkeringat menunggunya ,dengan pelan disapunya keringat didahi sang istri dengan tisu disampingnya.


"Tidak papa"ucap Anandita mengambil tisu dari tangan Gavin


"Biar aku saja"ucap Gavin menatap wajah Anandita lembut dan kembali menyapu keringat diwajah sang istri.


"Apa kata dokter Rumi tadi?"tanya Anandita dengan ekspresi khawatir.


Gavin menyentuhkan kembali tangannya kedahi Anandita yang berkerut.

__ADS_1


"Jangan khawatir semua baik baik saja sekarang",ucapnya dengan menatap wajah Anandita.


"Jadi tidak ada lagi masalah?"tanya Anandita.


Gavin menggeleng lalu melajukan mobilnya meninggalkan lingkungan sekolah.


"Mau jalan jalan?"tawar Gavin pada Anandita.


"Kemana?"tanya Anandita.


"Bukankah kamu bilang ingin membeli baju baru bagaimana kalau kita belanja sekarang?".


"Kubilang perlu tapi tidak harus sekarang",ucap Anandita.


"nggak masalah Yank,sekarang kita beli nanti kita beli lagi kalau sudah nggak muat lagi"ucap Gavin dengan mengambil tangan Anandita dan mengecupnya mesra.


Anadita hanya menatap apa yang dilakukan Gavin tanpa mengatakan apapun.


"Ilove you Yank",ucap Gavin tiba tiba dengan kembali mengecup tangan Anandita dan tersenyum lembut kearah sang istri.


Anandita hanya mengerjapkan matanya antara senang bingung heran melihat sikap Gavin sekarang.


Setelah berkendara selama lebih setengah jam akhirnya mereka sampai disebuah Mall besar yang ada dikota A.


Setelah memarkir mobilnya Gavin membantu Anandita turun dari mobil dengan pelan.


"Aku bisa sendiri karena merasa Gavin sedikit berlebihan memperlakukannya hari ini.


Tapi Gavin tidak menggubris protes Anandita dan tetap melakukannya.


Bahkan setelah turun dari mobil Gavin langsung menggandeng tangan Anandita erat.


Membuat Anandita sedikit risih dibuatnya.


"Vin bisa nggak kita biasa aja jalannya"protes Anandita karena melihat orang orang mulai memperhatikan mereka apalagi penampilan Gavin yang masih memakai seragam sekolah semakin menjadi pusat perhatian para siswa sekolah yang cukup banyak berada diMall hari itu.


"Kenapa Yank?"Tanya Gavin heran.


"Malu",jawab Anandita langsung berusaha melepaskan tangan Gavin yang menggenggamnya erat.


Melihat itu Gavin langsung mengerutkan dahinya.


"Sama siapa?"tanyanya pada Anandita.


"Mereka",Anandita menunjuk segerombolan murid SMA yang dari tadi memandang pada mereka dengan sinis.


Gavin langsung menengok kearah gerombolan murid yang ditunjuk Anandita dengan dagunya itu,tapi bukannya perduli setelah melihat itu, Gavin malah menarik Anandita dan memeluk bahu Anandita mesra.

__ADS_1


"Vin!"


"Biarkan saja atau kamu ingin aku menciummu disini sekarang",bisik Gavin pada Anandita.


__ADS_2