
Gavin melajukan mobilnya menuju Orange Kafe,hari masih sore tapi dia memutuskan pergi keOrange Kafe.
Karena merayu Anandita tidak juga luluh dari tadi akhirnya dia memilih pergi ,mungkin dengan berpisah beberapa jam Anandita akan menjadi lebih baik.
Gavin membuka pintu Kafe dan langsung menuju ruang pribadinya,dia bermaksud memeriksa pembukuan Kafe sebelum yang lain datang.
Karena terlalu serius Gavin sampai lupa waktu,dia terkejut saat mas Heru mengetuk pintu ruangannya.
"Tok...tok.."
"Masuk!",perintah Gavin.
"Bos..",panggil Heru.
mendegar panggilan dari Heru Gavin langsung mengangkat kepalanya kearah pintu.
"Ya Mas",sahut Gavin.
"Bos sendirian ke Kafe?",tanya Heru dengan melangkah masuk kedalam ruangan itu.
"Iya Anandita sedang nggak mau ikut",jawab Gavin.
"Tumben biasanya bos lebih baik nggak berangkat kalau Dita nya nggak ikut".
Gavin mengerutkan keningnya mendengar apa yang dikatakan Heru.
"Maaf bos nggak bermaksud apa apa",ucap Heru berusaha membetulkan ucapannya barusan.
Gavin mempersilakan Heru untuk duduk sebelum mulai berbicara.
"Aku sedang bingung Mas",ucap Gavin jujur.
"Bos ada masalah?",tanya Heru terdengar khawatir.
Gavin mengangguk"Aku rasa hubungan kami sedikit bermasalah",ucapnya dengan menyandarkan tubuh kekursinya.
Mendengar itu Heru langsung memasang wajah serius.
"Bos butuh teman curhat?",tawarnya pada Gavin.
__ADS_1
"Nggak papa ya,mas Heru emang mau mendengarkan keluh kesahku",tanya Gavin merasa tidak nyaman karena selama ini dia jarang terbuka pada orang.
Heru menggeleng,"Kalau bos ingin cerita saya mau mendengarkan mungkin saja setelah bos menceritakan masalah bos,perasaan bos menjadi lebih baik dan bos bisa berpikir lebih jernih dalam mengambil keputusan tentang masalah itu".
Gavin diam sebentar,masih sedikit bimbang untuk menceritakan masalahnya dengan Anandita akhir akhir ini,meskipun dia sudah mencoba menganggap mereka tidak sedang bermasalah tapi dia tau ada ganjalan dihatinya dengan semua perubahan sikap Anandita akhir akhir ini.
"Sebenarnya memang ada sedikit masalah apalagi semenjak Anandita hamil".
"Dita hamil bos?",tanya Heru.
Gavin mengangguk"sudah sekitar empat bulan",jawab Gavin.
"Selamat ya bos karena akan menjadi calon ayah".
"Makasih mas Heru,tapi itu masalahnya",ucap Gavin.
Mendengar itu Heru terlihat khawatir,"Apa kandungannya bermasalah bos?",tanya Heru.
Gavin langsung menggeleng.
"Lalu?".
"Sejak hamil sikap dan tingkah Anandita banyak berubah,itu membuatku menjadi pusing akhir akhir ini".
"Emang istri mas Heru dulu juga begitu waktu hamil?",tanya Gavin penasaran.
Heru langsung menggeleng"tapi juga tetap merepotkan,apa Anandita ingin yang Aneh aneh bos?",Heru balik bertanya.
Gavin ganti menggeleng,"Dia memang kadang muntah tapi kalau untuk minta macam macam nggak terlalu sih,cuma sikapnya benar benar membuatku harus mengelus dada".
"Maksudnya bos?".
"Setiap hari selalu marah marah tidak jelas,bahkan kemarin setelah pulang dari sekolah dia tiba tiba kembali marah sampai minta cerai segala padaku".
"Jangan jangan Siska pindah juga karena Dita yang minta bos",tanya Heru.
Gavin mengangguk,"Padahal aku sudah memberinya pengertian soal Siska tapi dia tetap bersikeras menyuruhku untuk memecat Siska,saat itu dia mengancamku dengan pergi kerumah ayah jadi aku terpaksa menuruti keinginannya".
"lalu sekarang apa masalahnya bos kenapa Dita bisa sampai minta cerai, hati hati bos jangan sampai bos mengikuti kemauannya kata cerai dari mulut istri memang nggak berarti, tapi kata cerai yang keluar dari mulut kita bisa langsung jatuh talak,bos".
__ADS_1
Gavin mendengarkan dengan serius ucapan Heru barusan karena jujur saja pengalamannya soal pernikahan masih sangat minim, dia harus banyak belajar dari orang lain hal hal baik dalam pernikahan.
Karena kalau dia ingin bertanya pada ayahnya juga tidak mungkin,jangankan menasehati pernikahan ayahnya saja dulu sangat buruk.
"Nggak sih mas aku nggak mengucapkan hal itu,karena aku juga nggak mau gagal seperti kedua orang tuaku,pengalaman berumah tangga bunda dan ayah membuatku ingin belajar bagaimana membina rumah tangga dengan baik,mungkin selain karena hormon kehamilannya Anadita ,kami memang masih harus lebih saling memahami karena pernikahan kami kan masih baru,selain itu pernikahan kami terjadi juga karena insiden, jadi seharusnya aku sadar pasti akan banyak kerikil sepanjang pernikahan kami".
"Bos anda dewasa sekali ya diusia semuda ini jujur saja aku salut bos,dulu waktu awal menikah kami lebih parah bos hampir setiap hari ribut,kalau nggak karena merasa terkekang dengan segala peraturan yang dibuat istriku,mulai dari masalah sepele seperti aku tidur nggak mandilah, aku nggak mau bantu nyapu lantailah atau nggak mencuci sendiri celana dalamku setelah mandi,pokoknya ada aja yang selalu membuat kami ribut saat itu dan yang paling parah bos tau apa masalahnya sampai istriku balik kerumah mertuaku?".
Gavin menggeleng mendengar itu.
"Karena aku nggak punya pekerjaan,saat itu aku baru di PHK dari hotel tempatku bekerja dan selama lebih sebulan aku nggak bekerja,kami makan hanya mengandalkan dari uang tabungan yang sedikit, lalu karena aku belum juga diterima bekerja istriku minta pada orang tuanya,tapi lama lama itu menjadi masalah dengan keluarganya yang lain ,karena ada yang mengatakan hal jelek tentang aku didepannya,lalu dia marah tapi tidak tau bagaimana cara melampiaskannya pada saudaranya yang menjelekkan kami,akhirnya dia hanya bisa ngomel ngomel tanpa henti padaku yang membuatku sampai pernah mengeluarkan kata sakti itu pertama kalinya".
Maksudnya kata sakti apa mas?",tanya Gavin tidak mengerti.
"Talak,aku sempat sekali mengucapkannya didepan istriku saat itu hingga istriku yang sama sama emosi saat itu memutuskan untuk pulang kerumah kedua orang tuanya,kami sempat berpisah selama satu bulan dan saat aku mulai bekerja dengan bunda bos aku menjemput pulang istriku dihadapan kedua orangtuanya lagi".
Mendengar cerita Heru Gavin hanya bisa menghela nafas.
"Sepertinya kami harus banyak belajar dari pengalaman hidup kalian berdua mas",jawab Gavin.
"Iya bos nggak ada salahnya kita saling berbagi pengalaman hidup,lalu kalau boleh tau bos apakah sekarang hubungan kalian sudah membaik".
Gavin langsung menggeleng.
"Kalian sudah bicara?".
Gavin mengangguk.
"Lalu kenapa kalian masih juga ribut?",tanya Heru bingung.
"Anandita bilang butuh waktu untuk sendiri selama beberapa hari jadi dia minta pulang kerumahnya yang dulu".
"Bos memberinya ijin?".
"Iya,aku mengantarkannya tadi,karena itu sekarang aku berada di Kafe,karena dia nggak membolehkan aku untuk ikut pulang kerumahnya,aku pusing mas".
Mendengar itu Heru jadi tidak tega.
"Bos apa anda mau mendengar saranku?".
__ADS_1
Gavin mengangguk karena tidak tau apa yang harus dilakukan lagi untuk menghadapi Anandita.
"Bolehkah besok istriku bertemu dengan Anandita siapa tau kalau bercerita dengan sesama perempuan pikiran dan perasaan Anandita menjadi lebih baik".