
Bagaskara terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Cinta dia merasa bingung apa yang harus dikatakannya sekarang.
"Katakan padaku mas apa cuma karena perbedaan usia kita saja jadi mas tidak ingin memberiku kesempatan".
"Itu juga salah satu alasannya",jawab Bagaskara pelan.
"Tapi banyak pasangan diluar sana yang perbedaan usianya melebihi kita juga bisa bahagia apa karena aku hanya gadis biasa jadi mas merasa malu,aku tidak secantik perempuan perempuan lain yang biasa mas temui diluar sana",ucap Cinta mulai emosi.
"Bukan, bukan karena itu tapi aku takut menyakitimu".
"Maksud mas?",tanya Cinta dengan mengerutkan keningnya.
"Aku bukan laki laki yang baik Cinta jangan memandang aku dari apa yang terlihat diluar,aku tidak ingin kamu nanti merasa kecewa setelah kamu memutuskan bersama denganku".
"Apa...apa...mas masih mencintai mantan istri mas yang dulu karena itu tidak ingin memberiku kesempatan",tanya Cinta dengan hati yang sedikit nyeri.
Bagaskara menghela nafas lalu menghembuskannya lagi.
"Ini memang bersangkutan dengan pernikahan yang pernah kualami dulu,aku pernah gagal dan aku terlalu takut kalau aku harus memulai lagi lalu gagal lagi,menjalani pernikahan itu sesuatu yang sangat berat untukku,apalagi kamu masih terlalu muda saat ini,apa kamu tidak ingin mencoba mengenal laki laki lain selain aku",ucap Bagaskara.
Mendengar itu Cinta langsung menggeleng.
"Aku nggak mau".
"Maksudmu?",tanya Bagaskara bingung.
"Aku nggak mau kita bercerai titik dan mulai sekarang aku benar benar akan menjadi istri mas,jadi jangan melarangku dan jangan mencoba berkata kita tidak mungkin lagi".
Mendengar apa yang diucapkan Cinta Bagaskara benar benar seperti mati kartu,sebenarnya dia bisa saja marah atau langsung bilang tidak tapi rasanya saat melihat wajah polos Cinta dia menjadi tidak tega.
"Baiklah",jawab Bagaskara pelan.
"Maksudnya?",tanya Cinta yang malah menjadi bingung.
"Iya lakukan seperti yang kau mau dan kuharap kamu tidak menyesalinya".
"Tapi...apa mas benar benar tidak menyukaiku?",tanya Cinta lagi.
"Aku tidak tau",jawab Bagaskara jujur.
"Maksudnya apa?".
"Sebaiknya kamu tidur sekarang,ini sudah malam",ucap Bagaskara.
Mendengar itu Cinta langsung menggeleng,membuat Bagaskara mengerutkan kening.
"Aku nggak mau tidur sekarang,sedangkan mas sendiri saja masih disini",ucap Cinta.
"Tapi besok kamu harus kuliah,bagaimana kalau kamu....".
__ADS_1
Tiba tiba Cinta menempelkan jari telunjuknya kebibir Bagaskara membuat Bagaskara langsung terdiam.
"Ingat mas aku ini istrimu mas bukan anak gadismu yang bisa kamu suruh seperti itu".
"Lalu bagaimana seharusnya aku menyuruhmu".
"Begini".
Tiba tiba Cinta mendekatkan wajahnya kearah Bagaskara dan langsung menempelkan bibirnya kebibir Bagaskara,Bagaskara yang tidak siap dengan apa yang dilakukan Cinta hanya terdiam.
Meskipun Cinta hanya menempelkan bibirnya tapi sudah cukup membuat Bagaskara syok dibuatnya.
"Selamat malam suamiku",ucap Cinta lalu bangkit dari sofa,meninggalkan Bagaskara yang masih terpaku diam ditempatnya.
Setelah mendengar suara pintu kamar Cinta tertutup, Bagaskara baru berani menghela nafasnya yang dari tadi seperti tertahan.
"Mungkin sebentar lagi aku akan jadi gila",gumamnya dengan menyentuh bibirnya yang baru saja dicium oleh Cinta.
Lama Bagaskara masih duduk diam ditempatnya semula sampai sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.
"Mas...".
Bagaskara hampir saja melemparkan ponsel yang berada ditangannya karena terlalu terkejut membaca pesan singkat dari Cinta.
Seketika Bagaskara langsung menoleh kearah pintu kamar Cinta seolah Cinta sedang tembus pandang menatapnya dari dalam kamar.
Setelah cukup lama terdiam akhirnya Bagaskara memutuskan masuk kedalam kamarnya.
Setelah berada didalam kamar Bagaskara kembali mengambil ponselnya lagi dan kembali memandangi pesan yang dikirim Cinta padanya beberapa menit yang lalu.
Akhirnya setelah lama berpikir, dia menjawab singkat pesan itu.
"Hemmm".
"Sudah masuk kamar belum?",balas Cinta cepat.
"Sudah kenapa?".
"Nggak ada cuma mau bilang met bobo ya mas,moga mimpi indah malam ini".
Bagaskara tersenyum membaca pesan itu.
"Hemm,kamu juga",tulis Bagaskara.
"Juga apa?",tulis Cinta.
Bagaskara melotot membaca pesan lanjutan dari Cinta,'Astaga masa iya aku harus bilang sama seperti dia tadi ',batin Bagaskara.
"Ya selamat tidur",tulisnya akhirnya.
__ADS_1
"Kok cuma itu,nggak ada manis manisnya sih mas".
Tanpa sadar Bagaskara menghela nafasnya membaca pesan dari Cinta itu.
'Apa ini karma',batin Bagaskara sambil meletakkan tangannya diatas dahi karena merasa sakit kepala dibuat Cinta.
Dari pada pusing mengetik akhirnya Bagaskara memilih mengirim pesan suara untuk Cinta sebagai balasan terakhir pesannya.
"Tidurlah sudah malam,kita lanjutkan besok lagi sekarang aku harus mengerjakan pekerjaanku yang belum selesai tadi",balas Bagaskara.
Bagaskara berpikir setelah dia mengatakan itu Cinta tidak akan membalasnya lagi dan akan langsung tidur seperti perintahnya,tapi ternyata salah tak lama sebuah pesan masuk lagi keponselnya.
"Mas mau lembur?,tulis Cinta.
"Hemm".
"Mau kubuatkan sesuatu nggak sebagai teman lembur".
Bagaskara diam setelah membaca pesan itu,dia ingin bilang tidak usah tapi sepertinya saat ini dia butuh secangkir kopi,untuk membuatnya tetap bisa waras.
"Buatkan aku secangkir kopi hitam,itu saja cukup".
"Siap mas".
"Antarkan sekitar setengah jam lagi kekamarku",pinta Bagaskara.
"Baik mas".
Setelah itu tidak ada lagi pesan yang dikirim Cinta keponselnya,membuat Bagaskara bisa menarik nafas lega.
Bagaskara duduk dimeja kerjanya masih diam belum melakukan apa apa otaknya seperti masih buntu karena memikirkan Cinta,sampai terdengar suara ketukan dipintu kamarnya yang diyakininya itu pasti Cinta yang mengantar kopi.
"Tok...tok...".
''Masuk!",jawab Bagaskara.
Bagaskara sengaja pura pura menyibukkan diri dengan memandang file yang ada didepannya itu.
"Kerjaan mas masih banyak?",tanya Cinta sambil terdengar langkahnya berjalan mendekat kearah Bagaskara.
"Hemm",jawab Bagaskara dengan sengaja tidak menatap kearah Cinta.
"Ini kopinya jangan tidur terlalu malam",ucap Cinta dengan berdiri disamping kursi Bagaskara sehingga Bagaskara dapat mencium aroma harum dari tubuhnya,membuat Bagaskara tanpa sadar langsung menoleh kearah Cinta dan mata Bagaskara seolah terhipnotis saat melihat Cinta berdiri didepannya dengan memakai baju tidur,meskipun bukan linggery tapi baju itu sangat pendek dan bagian depannya sangat rendah sampai Bagaskara dapat melihat belahan dadanya, untung saja dia masih memakai piyama lapisan luarnya kalau tidak..
Otak Bagaskara seolah langsung tumpul saat melihat penampilan Cinta saat ini dan tenggorokannya tiba tiba menjadi kering,dengan terburu buru dia mengambil cangkir yang baru diletakkan Cinta disampingnya dan langsung meminumnya sampai lupa kalau kopi itu masih sangat panas.
Saat cangkir itu menyentuh bibirnya Bagaskara terkejut dan langsung meletakkannya sembarangan, sehingga isinya tumpah dan hampir mengenai Cinta.
Secara reflek Bagaskara menarik tubuh Cinta mundur sampai terduduk tepat dipangkuannya.
__ADS_1