Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
81.Jujur Pada Gavin.


__ADS_3

Gavin menatap wajah cantik Anandita,saat sedang terlelap dia terbangun saat mendengar bunyi dering ponsel milik Anandita.


Untuk apa Anandita memasang alarm tengah malam begini,pikirnya aneh.


Karena merasa tidak mengantuk lagi,jadi Gavin memutuskan untuk sedikit mencari angin dengan turun dari tempat tidur dan berjalan kearah balkon dikamarnya yang ada dirumah besar sang ayah.


Sepertinya ada yang dilupakannya tapi apa, dia merasa sedikit bingung karena merasa ada yang aneh pada dirinya tapi dia tidak tau apa itu,lama Gavin berdiri diam sambil memandang langit dari balkon kamar itu,dia menoleh saat mendengar suara pintu kamar mandi dibuka dari luar.


Gavin berjalan kembali menuju kamar tidur dan saat melihat kearah ranjang ternyata Anandita tidak berada lagi diatasnya.


Gavin berdiri diam menghadap kamar mandi menunggu Anandita untuk mengajaknya kembali tidur, dengan memeluk Anandita mungkin nanti dia akan bisa langsung tertidur,pikirnya.


Tapi saat Anandita keluar dari kamar mandi dengan ekspresi seperti sedang melihat hantu membuat Gavin heran,tapi dia mencoba tetap bersikap biasa,karena berpikir itu hanya perasaannya saja.


Tapi saat Anandita menariknya kesofa dan mulai berbicara dengan ekspresi sedih perasaan khawatir dan aneh yang dari tadi dirasakannya sedikit terjawab,sepertinya memang ada masalah yang sedang terjadi tapi dia tidak tau apa itu.


Gavin menunggu Anandita untuk mulai berbicara padanya tentang permasalahan yang sepertinya sangat berat sedang dihadapinya itu.


"Ada apa Yank?"tanya Gavin khawatir.


"Kamu sekarang tidak sedang baik baik saja,aku sangat takut Vin"ucap Anandita dengan air mata yang mulai mengalir dipipinya.


Mendengar apa yang diucapkan Anandita Gavin merasa bingung ada apa ini sebenarnya,tapi karena Anandita terlihat sangat sedih jadi Gavin menunda dulu rasa penasarannya dan langsung memilih menenangkan Anandita dulu.


Setelah Anandita mulai tenang Gavin kembali bertanya dengan pelan.


"Apa yang terjadi sebenarnya,Yank".


Anandita berusaha menguatkan hatinya untuk berkata jujur pada Gavin,digenggamnya erat tangan Gavin yang berada diwajahnya.


"Sesuatu terjadi,setelah peristiwa kamu bertengkar dengan Bima"ucap Anandita dengan semakin kuat menggenggam tangan Gavin yang dirasakannya menegang didalam genggamannya.


"Apakah dia masih mencoba mengganggumu lagi?!"tanya Gavin dengan rahang mengeras,mengingat kejadian hari itu.


Anandita langsung menggelengkan kepalanya.


"Masalah itu sudah diselesaikan oleh ayah saat itu juga".


"Lalu apa masalahnya?"tanya Gavin bingung.

__ADS_1


"Kamu"ucap Anandita sambil menatap Gavin dengan wajah kembali sendu.


"Aku?,kenapa dengan aku Yank?"tanya Gavin semakin bingung dan penasaran karena Anadita begitu sulit mengatakan apa yang ingin diberitahukannya pada Gavin.


Anandita menghela nafas sebelum mencoba mengatakan apa yang sedang terjadi pada Gavin saat ini.Sebenarnya dia takut Gavin tidak bisa menerima apa yang akan dikatakannya tapi seandainya disembunyikan Anadita tidak yakin akan jadi lebih baik juga untuk mereka, jadi dengan segala gejolak dan rasa takut akan reaksi Gavin, Anandita berusaha jujur.


"Vin kamu sakit"ucap Anandita pelan,sambil melihat bagaimana reaksi Gavin saat dia mengatakan itu.


Tapi Gavin hanya diam tidak menunjukan reaksi apapun tetap tenang menatap kearah Anandita.


"Vin kamu dengar apa yang kukatakan kan?"tanya Anandita khawatir.


"Apakah parah?"tanya Gavin menjawab Anandita pelan.


"Itu bukan sakit seperti pada umumnya"jawab Anandita.


"Aku tau"jawab Gavin dengan menghela nafasnya.


"Hah!, maksudmu kamu tau kamu sakit apa?"Anandita terkejut.


"Iya"jawab Gavin dengan memejamkan matanya.


"Tapi,bagaimanakamu tau sedangkan kamu tidak sadar?!"tanya Anandita menatap Gavin heran.


"Maksudmu kamu dulu pernah mengalami ini?"


"Iya"jawab Gavin.


"Lalu bagaimana kamu sembuh tanya Anandita penasaran.


"Sembuh dengan sendirinya tapi aku tidak yakin jadi aku pergi kepsikiater untuk memastikannya",jawab Gavin.


"Bukankah saat kamu sakit kamu tidak sadar jadi bagaimana kamu tau kalau kamu sakit?"tanya Anandita penasaran.


"Aku hanya merasa seperti melupakan sesuatu atau melewatkan sesuatu,aku tidak ingat,seperti sekarang ingatanku berhenti diwaktu aku menghajar Bima setelah itu aku melupakan semuanya,dan tiba tiba aku tersadar saat melihatmu tadi malam ,lalu tadi terjadi lagi aku juga meresakan hal itu,karena itu saat terbangun aku mencoba memikirkannya tapi agak sulit karena sepertinya jarak itu terlalu panjang"terang Gavin.


"Kamu sudah lebih dari satu bulan tidak sadar"jawab Anandita.


Mendengar itu Gavin terdiam,"ternyata sudah selama itu aku tidak bertemu denganmu pantas tadi malam aku merasa sangat merindukanmu lebih dari sebelum sebelumnya"ucap Gavin.

__ADS_1


Anandita hanya menatap Gavin mendengar ucapannya.


"Pasti aku sudah merepotkanmu dalam waktu selama itu"ucap Gavin mengangkat tanganya untuk menyentuh wajah Anandita.


Anandita menggelengkan kepalanya,"aku tidak papa"jawabnya.


"Jadi apakah kamu membawaku ke psikiater?"tanya Gavin.


Anandita langsung mengangguk,ternyata saat dibicarakan bersama masalah seberat apapun menjadi lebih ringan.


"kamu tidak masalahkan?"tanya Anandita.


Gavin mengelengkan kepalanya,"Aku tidak ingin menutupi padamu lagi kalau aku selama ini tidak baik baik saja Yank".


"Boleh aku bertanya apakah ini bersangkutan dengan hubungan yang buruk dengan kedua orang tuamu",tanya Anandita.


"Psikiater yang pernah kutemui mengatakan itu padaku dulu, tapi aku tidak tau untuk yang sekarang ini"jawab Gavin jujur.


"Jadi kamu tidak keberatan kalau sekarang kita kembali melakukan pengobatan dengan bantuan psikiaterkan Vin?"


"Ya,kalau memang itu bisa membuatku lebih baik,jadi apa yang harus kulakukan untuk sembuh kata psikiaternya".


Kemudian Anandita mulai menceritakan semua yang terjadi selama sebulan lebih ini dan apa yang dikatakan dokter Rumi padanya.


"Kita akan melakukannya seperti saran dokter Rumi"ucap Gavin.


Anandita mengangguk dengan wajah berbinar.


"Trimakasih Yank",ucap Gavin dengan mendekap Anandita dalam pelukannya.


"Jangan begitu,kita pasangan jadi sudah seharusnya kalau aku melakukan itu padamu"jawab Anandita.


Gavin hanya diam tidak menjawab lagi apa yang diucapkan oleh Anandita.


****


Setelah malam itu Gavin lebih sering muncul tapi hanya pada malam hari saat Gavin kecil sudah benar benar tertidur karena kelelahan,dan seperti saran dokter Rumi Anandita selalu merekam dan mencatat apa yang dilakukan Gavin dan diucapkan Gavin,lalu melaporkannya pada dokter Rumi secara berkala.


Jadi karena dokter Rumi dan Gavin tidak bisa bertemu secara langsung karena waktu Gavin sadar yang tidak pasti, mereka akhirnya melakukan pengobatan dan komunikasi lewat media elektronik baik secara langsung maupun dengan saling bertukar rekaman.

__ADS_1


Sudah hampir sebulan mereka melakukan itu,dan Anandita sudah mulai tau dengan ciri ciri saat Gavin dewasa dan Gavin kecil akan bertukar peran.


Seperti malam ini Anadita sedang menunggu Gavin untuk bertukar menjadi Gavin dewasa karena ada hal yang ingin disampaikan dokter Rumi pada Gavin melalui rekaman yang diberikannya pada Anandita.


__ADS_2