Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
168.Belajar Meminta Maaf Yang Benar.


__ADS_3

Bagaskara duduk dimeja kerjanya dengan pikiran tertuju pada Cinta.


Dia bingung bagaimana caranya agar Cinta tak lagi marah atau merajuk padanya seperti tadi malam.


Dia benar benar tidak paham soal ini ,padahal dia sudah sangat ingin menyalurkan hasratnya semalam tapi karena hal sepele Cinta malah ngomel dan menolaknya dwngan tegas sampai tadi pagi membuat kedua kepala benar benar sangat sakit sekarang dan dia tidak bisa berpikir untuk melakukan pekerjaannya hari ini otqnknya terus dipenuhi bayangan sexy Cinta yang memakai linggery tipis tadi malam.


"Ah sial!!", maki Bagaskara sebal karena keinginanya tidak terpenuhi.


Dengan kesal di pencetnya tombol intercom memanggil Willy untuk datang keruangannya.


"Willy datang kesini sekarang juga!",perintah Bagaskara.


Tidak sampai lima menit Willy sudah datang keruangannya.


"Anda menaggil saya tuan?",tanya Willy.


"Iya, tolong bantu aku untuk membuat Cinta tidak marah lagi padaku",perintah Bagaskara.


Mendengar perintah aneh itu Willy bingung.


"Anda bertengkar dengan Cinta tuan,kalau boleh tau apa masalahnya?",tanya Willy.


"Pengaman",jawab Bagaskara.


"Hah pengaman apa tuan?",tanya Willy tidak mengerti.


"Cinta marah karena aku tidak ingat membeli pengaman tadi malam dan saat aku bermaksud menelponmu untuk menyuruh membelikannya dia malah semakin marah dan menolak keinginanku yang sudah sangat ingin bercocok tanam tadi malam".


Mendengar itu terpaksa Willy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Emm,tuan biasanya kalau saya bertengkar dengan istri saya kami membicarakannya sambil berpelukan dan saya bertanya dengan pelan apa yang diinginkanya karena biasanya perempuan kalau kita memaksa dia akan semakin marah".


"Aku tidak memaksanya bahkan aku belum sempat menyentuhnya tapi dia sudah menolakku lebih dulu, membuat kedua kepalaku sakit",gerutu Bagaskara.


"Emm,itu maksud tuan dan Cinta dengan pengaman...".


"Masa kau tidak mengerti,apa kau tidak pernah menggunakan pengaman saat bercocok tanam dengan istrimu?'',tanya Bagaskara.


Secara reflek Willy menggeleng membuat Bagaskara langsung mengerutkan kening heran.


"Kenapa?",tanya Bagaskara.


"Karena kami ingin punya anak,jadi kami memutuskan tidak menggunakan alat kontrasepsi saat ini".

__ADS_1


Mendengar itu Bagaskara langsung diam dan tiba tiba menyuruh Willy keluar dari ruangannya membuat Willy bingung.


"Keluar apa kau tidak dengar",ucap Bagaskara.


Mendengar Bagaskara mengulangi lagi perintahnya Willy langsung keluar dari ruangan itu tanpa berani banyak bertanya lagi takut Bagaskara menjadi murka.


Setelah Willy keluar dari ruangannya Bagaskara kembali mencoba mengingat ngingat apa yang dikatakan Cinta tadi malam sampai dia marah.


'Jangan jangan maksud Cinta tidak usah memakai pengaman karena dia ingin segera hamil',gumam Bagaskara.


Tiba tiba saja Bagaskara jadi membayangkan bagaimana kalau Cinta Hamil anak mereka,'Pasti Cinta jadi sangat cantik nanti dan anak kami kira kira akan mirip siapa ya?',Bagaskara bergumam lagi.


Bukannya fokus bekerja,seharian itu Bagaskara malah sibuk membayangkan istrinya Cinta dan tidak sabar menunggu sore untuk segera pulang kerumah.


Karena tidak sanggup lagi ingin segera bertemu Cinta baru pukul 4 sore Bagaskara sudah siap untuk pulang kerumah membuat Willy melongo heran.


"Anda akan pulang tuan ?",tanyanya.


"Hemm,oh iya dimana toko bunga terbaik disini?",tanya Bagaskara sambil berjalan keluar dari kantornya.


Willy mengatakan nama toko bunga langganan mereka kepada Bagaskara.


"Apa anda ingin saya pesankan ?",tawar Willy.


"Aku sendiri saja yang membelikan untuk Cinta nanti",ucap Bagaskara.


Saat Willy bermaksud masuk kedalam mobil untuk mengantar pulang, Bagasakara langsung mencegahnya.


"Aku akan pulang sendiri, sebaiknya kau juga segera pulang temui istrimu katanya kalian ingin cepat punya anak jangan sampai nanti aku dan Cinta yang mendahului kalian punya anak".


Willy hanya diam tidak tau lagi harus bicara apa pada pria didepannya ini yang sedang dimabuk cinta.


Bagaskara mampir ketoko bunga yang disebutkan Willy dan membeli sebuket besar bunga untuk diberikannya pada Cinta, karena dia tadi sempat membaca dari internet bahwa perempuan suka kalau diberi bunga dan tidak akan marah lagi.


Sekitar 30 menit kemudian Bagaskara sudah sampai dirumahnya dia segera turun dari mobil dan langsung memanggil Cinta.


"Sayang...",panggil Bagaskara tapi tidak ada jawaban,terpaksa Bagaskara langsung masuk kedalam kamar dengan membawa buket bunga besar itu untuk Cinta.


Didalam kamar dilihatnya Cinta sedang tertidur diatas ranjang dengan tidak sabar Bagaskara langsung naik keatas ranjang dan memeluk istrinya itu membuat Cinta langsung terbangun.


"Mas!",Cinta langsung terbangun karena merasa ada yang memeluknya dari belakang.


"Kejutan!",ucap Bagaskara dengan memberikan buket bunga yang dibawanya kepada Cinta.

__ADS_1


Melihat itu Cinta langsung tersenyum manis kearah Bagaskara.


"Untukku?",tanya Cinta.


Bagaskara mengangguk.


"Siapa yang membelikannya?",tanya Cinta penasaran.


"Tentu saja aku sayang,aku memilihkan sendiri bunga ini untukmu kamu suka?",tanya Bagaskara.


Cinta mengangguk,"Makasih mas bunganya cantik sekali" ucap Cinta.


"Lebih dari itu dong sayang",pinta Bagaskara.


"Apanya tanya Cinta?",bingung.


"Ucapan terimakasihnya".


Cinta mengerutkan alisnya mencoba berpikir ucapan terimakasih apa yang diinginkan Bagaskara.


Cinta mendongak lalu mencium pipi Bagaskara sekilas,"Makasih mas",ucapnya lagi.


"Kurang, lagi sayang",pinta Bagaskara.


Mendengar itu,Cinta bermaksud menempelkan lagi bibirnya kepipi Bagaskara,tapi tiba tiba Bagaskara langsung memagut bibirnya dalam membuat Cinta terkejut.


Tapi protesnya sudah tertutup oleh ciuman dalam Bagaskara yang tidak mau berhenti sampai disitu saja.


"Engh",erang Cinta pelan yang langsung membuat hasrat Bagaskara tidak bisa ditahannya lagi.


Perlahan tapi pasti Bagaskara mulai membuai Cinta dengan ciuman ciuman panasnya hingga saat Bagaskara meminta lagi haknya sore itu Cinta hanya bisa mengangguk lemah dibawah kungkungan tubuh Bagaskara.


Setelah mendapat persetujuan dari Cinta Bagaskara tidak membuang waktu lagi dilepasnya semua pakaian yang menempel ditubuh Cinta juga miliknya, lalu dia mulai menciumi setiap inci tubuh Cinta yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih seharian ini karena selalu membayangkan ingin bercinta dengan sang istri.


Setelah puas menciumi seluruh bagian tubuh Cinta dengan banyak meninggalkan jejak jejak bersejarah disetiap tempat,Bagaskara mulai bersiap untuk memasukkan senjata pusakanya kemilik sang istri yang sudah sangat dirindukannya itu.


Perlahan tapi pasti Bagaskara mulai mendorong miliknya masuk meskipun diawal masih terasa sangat sulit untuk memasuki milik Cinta karena baru sekali dia berhasil memasukinya, setelah itu dipaksa libur oleh keadaan jadi milik sang istri masih terasa sangat sempit.


Bahkan Cinta sempat mendesis saat Bagaskara memaksakan miliknya untuk bisa menerobos masuk kedalam milik sang istri.


Setelah berhasil menerobos masuk dengan perlahan Bagaskara mulai menggerakkan tubuhnya diatas Cinta membuat Cinta mengerang karena merasakan sensasi luar biasa setiap Bagaskara bergerak didalam tubuhnya.


Cinta mengerang keras saat merasa milik Bagaskara mulai berkedut ingin memuntahkan laharnya dibarengi miliknya yang juga mengalir keluar bersama milik Bagaskara.

__ADS_1


__ADS_2