Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
40.Salah Paham.


__ADS_3

Gavin menurunkan Anandita didepan parkiran Aparteman dan setelah langsung itu langsung memutar mobilnya pergi ke Kafe,tanpa bicara lagi dengan Anadita.


Gavin masih kecewa dengan apa yang dilakukan Anandita tadi padanya jadi memilih untuk langsung pergi ke Kafe.


Hari masih sore jadi Kafe memang belum buka,Gavin masuk lewat pintu belakang dan langsung menuju ruang pribadinya dan memasang tanda' don't Disturb' dipintu.


Semua karyawan tau kalau sudah ada tanda itu dipintu berarti tidak ada seorang pun yang berani mengetuk pintu itu.


Karena memang kebiasan Gavin,sejak dia ditinggal sendiri oleh Bundanya,saat ingin sendiri dan menenangkan diri maka dia mengurung diri didalam ruang pribadinya.


Gavin merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil meletakkan tanganya didahi.


Berusaha untuk memejamkan mata supaya emosinya reda.


Tiba tiba ponselnya bergetar ada pesan masuk dari Anandita.


"Vin kamu dimana?"


Gavin melihat pesan itu, kalau dulu saat dia marah nggak mungkin dia perduli saat ada yang menanyakan khabarnya tapi sekarang rasanya tidak tega melihat Anadita mengirim pesan tanpa membalasnya,takut nanti dia khawatir padanya.


Gavin langsung membalas pesan Anandita.


"DiKafe"jawab Gavin singkat.


"Vin Maaf untuk yang tadi,kamu marah ya?"


"Nggak cuma kecewa aja karena kamu nggak jujur dan sengaja pura pura nggak melihatku,juga kamu tau aku nggak suka kamu jalan dengan ayah tapi tetap kamu lakukan".


"Maaf,aku nggak akan ngulangi lagi lain kali,tapi aku nggak bisa nolak kalau ayahmu mengajak aku jalan".


"Kenapa?,apa kalian sudah lama kenal sebelum kamu menikah denganku".


"Iya,aku sudah lama kenal dengan Ayahmu,bahkan aku masuk kesekolahmu juga atas rekomendasi dari ayahmu".


Membaca pesan Anandita yang terakhir Gavin terkejut.


Untuk memastikan tidak salah baca Gavin mengulang membaca pesan itu lagi dan ternyata benar,jadi apa Anandita pernah punya hubungan dengan ayahnya dulu atau...'Ah sial!!'gerutu Gavin dengan kesal.


Niat awalnya yang hanya ingin menenangkan diri sebentar sekarang bukannya tenang malah tambah kesal dan pikiran pikiran buruk tiba tiba masuk diotaknya.

__ADS_1


Gavin bangkit dari ranjang dan langsung pergi kekamar mandi dengan pakaian lengkap dia langsung mengguyur tubuhnya dibawah shower berharap setelah ini pikiran buruknya tentang Anandita akan hilang.


Gavin menatap dirinya dicermin wastafel hanya diam tanpa bergerak sambil mencoba menata hati dan pikirannya.


Setelah merasa lebih baik Gavin langsung keluar dari dalam kamar mandi dan segera mengganti bajunya dengan baju kerja,lalu keluar dari ruangannya langsung menuju dapur.


Sampai disana sudah ada Mas Heru yang sedang sibuk menyiapkan bahan bahan yang akan dimasak nanti.


"Eh Bos,sudah lama datangnya?"tanyanya sambil melihat penampilan Gavin dengan rambut basahnya seperti habis mandi.


Gavin hanya mengangguk tanpa menjawab Pertannyaan Heru.


"Kamu baik baik saja Bos sepertinya sedang ada masalah?"


"Nggak papa Mas"jawab Gavin singkat.


"Serius bos,kalau bos punya masalah dan ingin cerita saya bisa mendengarkan".


"Nggak,aku baik baik aja kok,ayo kita mulai aja kerjanya".


Setelah mengatakan itu Gavin mulai menyibukkan dirinya sampai malam waktu Kafe akhirnya tutup.


"Nanti pulang aja dulu,aku harus menyelesaikan ini sebelum pulang".


"Kalau gitu saya tinggal ya Bos".


"Hemmm"Gavin hanya bergumam untuk menjawab Beni.


Setelah semua orang diKafe pulang,bukannya bisa mengerjakan menu yang akan dibuatnya tapi pikirannya kembali teringat kata kata,Anandita yang mengatakan sudah saling kenal dengan ayahnya sebelum mereka menikah membuat Gavin kembali kesal.


"Shiit!!!"makinya sambil melemparkan semua yang ada dihadapannya "Keparat!!,ternyata kamu menipuku bodohnya aku!!,Gavin kamu benar benar bodoh!!!


Gavin terduduk dilantai dapur dengan wajah telungkup dilututnya yang ditekuk.


Gavin menangis tergugu memikirkan kebodohannya telah mempercayai Anandita,dia pikir Anandita selama ini adalah gadis polos dan baik tapi ternyata sama seperti wanita lain diluar sana yang tidak pernah tulus padanya.


Setelah tangisnya reda Gavin bangkit dari lantai dan keluar dari dapur,lalu keruangannya untuk berganti baju yang ada dilemari setelah itu Gavin segera keluar dari Kafe,melajukan mobilnya menembus malam, menuju sebuah Club malam untuk menenangkan diri.


Saat pikirannya kalut seperti ini Gavin tidak mungkin pulang kerumah,walau dia sangat marah pada Anandita tapi dia tidak ingin sampai melakukan kekerasan pada wanita itu,jadi dia memilih pergi ke Tempat Club malam.

__ADS_1


Sampai disana Gavin langsung masuk,suara dentuman keras musik langsung terdengar saat Gavin baru saja melangkah masuk kedalam,telingannya terasa berdenging saat pertama kali masuk.


Gavin mengedarkan pandangannya kesekeliling tempat itu,sudah lama sekali dia tidak pernah menginjakkan kakinya ditempat seperti ini,dia lupa kapan terakhir kali dia kemari,tapi malam ini Gavin merasa tempat ini bisa membuatnya melupakan masalahnya.


Gavin duduk dimeja bar,dan langsung memesan minuman.


"Eh lo Vin!,lama nggak nonggol kemari"sapa Bartender yang memang mengenal Gavin baik karena dulu Gavin sering datang keClub.


"Sibuk gue bang,tolong minuman yang biasa",pinta Gavin pada bartender itu.


"Lo sama siapa kesini?"


"Sendiri aja,gue lagi pengen menenangkan diri,makanya kesini sendiri".


"Lo ada masalah lagi sama Bokap lo Vin."


"Hemmm"jawab Gavin sambil meminum minuman yang dipesannya dengan sekali teguk.


"Tambah lagi,Bang",pinta Gavin sambil mendorong gelasnya kearah Bartender itu.


"Lo yakin Vin mau minum lagi,gimana lo pulangnya nanti?"tanya bartender itu terdengar khawatir.


"Gue bisa aja,tambah lagi aja minumannya".


Dengan berat hati siBartender akhirnya menambah lagi minuman digelas Gavin,bukan hanya sekali tapi berkali kali Gavin meminta tambah minumannya sampai Gavin terlihat mulai mabuk,dan dia tetap ingin tambah minumannya lagi tapi Bartender itu menolaknya.


"Lo kalau minum lagi bakalan nggak bisa pulang,gimana lo."


"Gue memang nggak mau pulang karena gue nggak punya rumah".


"Maksud lo,rumah milik nyokap lo itu sudah lo jual".


"Ya bahkan harga diri gue juga udah gue jual pada perempuan sialan itu".


"Lo lagi patah hati ya Vin".


"Nggak,tapi gue lagi kecewa karena orang yang gue pikir perduli sama gue ternyata penipu,dia nipu gue nipu bokap gue,gue sakit hati kalau ingat itu,kenapa harus sama bokap gue sendiri gue bersaing,kurang apa coba gue baik sama dia,tapi ternyata itu tidak cukup dia tetap aja nggak suka gue pantes aja dia selalu nolak gue selama ini ternyata dia nggak suka gue",ucap Gavin sambil menelungkupkan wajahnya dimeja Bar.


Bartender itu hanya mendengarkan apa yang diucapkan Gavin tanpa menyela,saat dilihatnya Gavin sudah tidak bicara lagi,bartender itu lalu menghubungi seseorang diseberang telpon.

__ADS_1


"Halo Do jemputi Gavin dibar gue sekarang,dia sudah mabuk".


__ADS_2