Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
69.Jalan Jalan di Pantai.


__ADS_3

Anandita menatap deretan bikini dirak dengan pusing,bagaimana dia akan memakai benda seperti itu di hadapan Gavin,dengan berpakaian lengkap aja Gavin selalu menerkamnya apalagi memakai bikini.


Anandita meletakkan kembali bikini yang sudah diambilnya tadi ketempatnya semula.


Dia bermaksud mengajak Gavin keluar dari toko itu,tapi belum sempat dia meletakkan bikini itu,tiba tiba Gavin menahan tangannya.


"Beli yang ini Yank cantik"ucap Gavin dari belakangnya.


"Hah!"seketika Anandita melihat bikini yang ada ditangannya,oh Tuhan,kenapa dia harus menyentuh benda terkutuk dengan model aneh ini,kalau dia memakai ini apa yang akan ditutupi.Anandita langsung memejamkan matanya untuk meredakan rasa sebalnya terhadap otak mesum Gavin.


"Ini....bagus,Vin!"Anandita sengaja menekan suaranya serendah mungkin untuk menahan jengkelnya.


"Iya,beli yang ini ya?"ucap Gavin dengan mata berbinar seolah akan dibelikan mainan,atau mungkin Gavin berpikir dirinya itu bahan eksperimennya.


Anandita menghela nafas berat sebelum menjawab Gavin.


"Iya,baiklah",jawab Anandita dengan pasrah.Dia tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa acara berenang mereka nanti.


Gavin menarik tangan Anandita menuju kasir,untuk membayar barang yang mereka beli itu.


Setelah itu mereka melanjutkan jalan jalan menyusuri sepanjang pantai yang mulai ramai dengan kedatangan turis karena memang sekarang masih suasana liburan.


"Kamu mau beli sesuatu Yank?"tawar Gavin saat melihat banyak orang berjual makanan kecil dipinggir jalan.


"Boleh kita beli eskrim disana!"Anandita mengajak Gavin untuk duduk di pinggir pelabuhan.


"Tunggu disini aku belikan Yank",perintah Gavin menyuruh Anandita menunggunya.


Anandita berdiri dipinggir pantai sambil menikmati pemandangan indah disana.


"Ini Yank",Gavin memberikan eskrim pada Anandita.


"Nggak ada rasa lain?"tanya Anandita.


"Kenapa,aku salah beli?".


"Nggak,hanya saja kenapa harus selalu strawbery!"gerutu Anandita.


"Ini yang paling enak aku suka...".Sebelum Gavin melanjutkan ucapannya Anandita langsung menatapnya tajam karena dia tau apa kelanjutan yang akan diucapkan oleh Gavin nanti.


"Kita duduk disana!"Anadita menunjuk pinggir trotoar pembatas pantai dengan jalan yang terlihat rindang dengan adanya pohon pohon yang ditanam didekatnya.


Mereka duduk sambil menikmati es krim mereka.


"Enakkan?"tanya Gavin.


"Hem!!"Anandita hanya bergumam karena sibuk memakan eskrim miliknya.

__ADS_1


"Vin,kenapa sih kamu suka aku pakai warna pink?"tanya Anandita tiba tiba karena sebenarnya pikiran itu,sudah lama ada diotak Anandita.


"Kenapa?,kan lucu,coba kamu lihat itu!"


Gavin menunjuk seorang anak perempuan kecil yang duduk dipasir dengan memakai bikini warna pink dan rambut diikat keatas.


Anandita menatap gadis kecil yang ditunjuk Gavin.


"Iya lucu"jawab Anandita dengan datar.


"Gavin yang mendengar nada bicara Anandita langsung menoleh.


"Kamu nggak suka anak kecil Yank?"tanya Gavin dengan menatap Anandita.


"Suka aku suka kok,kalau nggak suka nggak mungkin aku jadi guru"terang Anandita cepat berusaha menyembunyikan rasa sesak didadanya,karena nggak mungkin akan memilikinya dalam waktu dekat atau mungkin malah nggak akan punya,batin Anandita.


Gavin hanya diam tidak melanjutkan lagi pembahasan soal gadis kecil itu dengan Anandita,karena dia tidak ingin merusak suasana bulan madu mereka.


"Kita kembali?"Ajak Gavin sambil berdiri dari duduknya,lalu menarik Anandita untuk bangun.


"Iya"jawab Anandita dengan menerima uluran tangan Gavin untuk bangun.


Gavin mengayuh sepeda membawa mereka kembali keBungalow tempat mereka menginap.


Sampai diBungalow Anandita langsung masuk kedalam,hatinya masih sesak mengingat pembicaraan mereka tadi.


"Maaf"ucap Gavin yang dengan tiba tiba memeluk pinggangnya dari belakang.


"Untuk apa,Vin?"tanya Anandita tanpa membalikkan badannya.


"Kau pasti merasa tidak nyaman saat kita membicarakan soal anak tadi?"


"Nggak,aku hanya heran aja ternyata kamu yang terlihat cuek dan dingin dengan perempuan bisa manis saat bicara tentang anak kecil".


"Aku suka anak kecil,dulu aku pernah berharap punya seorang adik perempuan waktu kecil tapi ternyata itu tidak terwujud,karena hubungan pernikahan kedua orang tuaku yang terlihat harmonis diluar tapi sebenarnya sudah lama hancur"ucap Gavin dengan membenamkan wajahnya diceruk belakang leher Anandita.


"Kamu belum pernah cerita bagaimana sebenarnya hubungan kalian hingga kamu sangat marah pada ayah Bagas"tanya Anandita dengan membalikkan badannya menghadap Gavin.


"Bukan sesuatu yang menyenangkan,bahkan lebih tepatnya menyakitkan,kamu mungkin kehilangan kedua orang tuamu tapi paling tidak kamu merasakan rasanya disayangi dan dicintai sebagai seorang anak".Ucap Gavin beralih menyandarkan kedua tangannya dipinggir jendela dengan memandang laut lepas diluar Bungalow.


"Lalu kamu?"Anandita menatap Gavin dari samping.


Gavin menghela nafas kasar sebelum menjawabnya.


"Mungkin itu bukan sebuah keluarga aku tidak tau bagaimana menyebut hubungan kami dulu,hanya pernikahan mereka yang bisa membuktikan kami memang keluarga".


"Apakah separah itu ?"

__ADS_1


"Ya,tidak pernah ada namanya duduk bersama,ngobrol santai dikamus keluargaku saat bertemu, tanpa diwarnai pertengkaran adu mulut ,bahkan lemparan barang barang itu sudah makanan sehari hari yang aku lihat".


"Pasti itu saat yang berat",ucap Anandita sambil memeluk Gavin dari belakang.


"Iya,aku harus melihat bagaimana Bundaku selalu mencoba menyakiti dirinya setiap kali ayahku datang ke Apartemen atau mereka bertemu".


"Itukah alasanmu ingin menunda untuk punya anak?"


"Entahlah,disatu sisi hatiku ingin tapi disisi lain aku merasa takut kalau aku belum bisa jadi orang tua yang baik untuknya nanti,tapi bukan berarti aku tidak ingin Yank".


"Aku tau,toh pernikahan kita juga baru seumur jagung,jadi waktu kita masih panjang".


"Kau ingin ikut aku?"tanya gavin tiba tiba.


"Maksudmu?"Anandita tidak mengerti dengan arah pembicaraan Gavin.


"Ikut aku ke Itali nanti?"


Anandita langsung membelalakkan matanya terkejut.


"Kamu mau mengajakku untuk ikut kesana!"


"Iya,mau ya Tank?"


"Tapi..bagaimana kita tinggal disana,Vin?"


Anandita senang Gavin mengajaknya untuk ikut dia pergi keItalia nanti tapi keluar negeri dia sedikit takut,sesuatu yang tidak pernah bisa dibayangkannya.


"Jangan khawatirkan itu Yank,yang penting ikutlah denganku,jujur saja aku nggak sanggup lagi kalau harus berpisah dari kamu,sebulan kemaren sudah cukup membuatku hampir gila karena merindukanmu"ucap Gavin dengan memeluk tubuh Anandita.


"Iya aku juga merasakan hal yang sama,saat kamu tinggal."


"Jadi maukan Yank ikut,aku nanti?".


Anandita menganggukan kepala sebagai jawaban Pertanyaan Gavin.


"Makasih,Yank".Ucap gavin dengan mencium lembut puncak kepala Anandita.


Saat Gavin bermaksud mencium bibirnya,Anandita dengan cepat langsung mendorong tubuh Gavin.


"Kenapa?"


"Jangan sekarang nanti kita tidak jadi berenang kalau kamu menciumku!".


"Berenangkan nanti sore Yank,sekarang masih siang masih bisa satu ronde Yank".


Anandita langsung melotot kearah Gavin.

__ADS_1


"Menyebalkan!".


__ADS_2