
Anandita menatap Gavin dari cermin meja rias dengan gugup.
Tapi baru saja Anandita bermaksud untuk menjawab pertanyaan Gavin tiba tiba pintu kamar mereka diketuk dari luar.
"Tok...tok..."
Gavin membalikkan badannya berjalan menuju pintu kamar untuk membukanya.
Setelah pintu terbuka terlihat bik Siti berdiri didepan pintu sambil memiringkan kepalanya mengintip kedalam kamar.
"Ada apa bik?"tanya Gavin.
"Bibik nggak mengganggukan?"tanyanya sambil mengintip kedalam kamar.
"Nggak ada apa?"
"Nanti aja mainnya sekarang sudah ditunggu Bapak untuk makan malam bareng",ucap nya.
Membuat Anandita yang mendengar ucapan bik Siti jadi malu.
"Iya kami akan turun sebentar lagi"jawab Gavin bermaksud untuk menutup kembali pintu kamar,tapi langaung ditahan oleh bik Siti.
"Tunggu!"Gavin terpaksa membatalkan niatnya untuk menutup pintu.
"Ada apa,bik?"
"Jangan lama lama kasian Bapak sudah nunggu dari tadi".
"Iya ini juga saya sama Anandita mau turun setelah ganti baju",jawab Gavin dengan setengah menggerutu.
"Yaudah kalau begitu bibik turun dulu".
"Hemm".jawab Gavin lalu langsung menutup pintu dan bersandar dibelakangnya dengan perasaan dongkol.
"Sudah pergi bik Sitinya", tanya Anandita yang baru keluar dari kamar mandi,karena tadi sewaktu Gavin sedang bicara ,dia langsung pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.
"Hemm"jawab Gavin dengan berjalan kearah ranjang dan langsung menjatuhkan tubuhnya disana.
"Apa kata bik Siti?"tanya Anandita sambil memasang baju gantinya.
"Kita disuruh turun untuk makan malam sekarang".
"Lalu kenapa kau tampak cemberut?"tanyanya karena melihat Gavin memasang wajah masam.
__ADS_1
"Nggak papa cepat pakai bajumu kita akan turun sekarang"perintah Gavin sambil memiringkan tubuhnya untuk menatap Anandita yang sedang berpakaian.
"Berhenti menatapku seperti itu,Vin!"ucap Anandita.
"Kenapa Yank,aku sudah beberapa hari ini nggak bisa ngeliat kamu".Ucap gavin.
"Alasan aja,ayo cepat keluar!"ajak Anandita sambil menarik tangan Gavin dari ranjang.
Tapi bukannya bangun,Gavin malah membuat Anandita jatuh menimpa tubuhnya.
"Vin lepas!!"ucap Anandita berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Gavin.
"Yank.."Gavin mencoba merayu Anandita dengan bicara lembut.
"Enggak sekarang,nanti bik Siti kembali lagi kemari menyuruh kita untuk turun"ucap Anandita yang membuat Gavin langsung melepaskan tubuh Anandita dari pelukannya.
"Cuma malam ini kita nginap disini besok pagi pagi sekali kita harus sudah kembali keApartemen!"ucap Gavin dengan cemberut.
"Kenapa bukannya besok hari minggu jadi kita bisa kembali siang atau sore kerumahnya".
"Nggak aku mau besok pagi pagi kita balik tidak bisa ditawar lagi,sekarang ayo turun!"Gavin berjalan mendului Anandita keluar dari kamar.
Anandita hanya menggelengkan kepala dengan heran,Dasar,gumamnya,lalu berjalan mengikuti Gavin keluar menuju ruang makan.
Diruang makan dilihatnya Ayah mertuanya sudah duduk di sana menunggu mereka untuk makan bersama.
"Duduk,ayo kita makan sekarang!"ajaknya pada Anandita tanpa menatap kearah Gavin.
Bik siti datang membawa hidangan untuk makan malam mereka,melihat itu Anandita kembali berdiri dan langsung mendatangi bik Siti didapur bermaksud untuk membantunya menyiapkan makan malam.
"Biar saja neng Dita bibik sudah biasa neng Dita duduk aja".
"Nggak papa bik,bibik pasti capek juga karena sehari ini repot".
"Nggak saya sudah biasa,setiap harikan emang seperti ini,untung saja malam ini repot tapi dimakan, biasanya sudah repot jangankan dimakan disentuh aja nggak untung bibik dirumah ini hanya pembantu kalau nyonya rumah bisa sudah lama kabur"
omelnya sambil meletakan hidangan diatas meja.
Semua orang termasuk Anandita hanya diam mendengar omelan bik Siti.
"Ayo neng Dita makan yang banyak jangan malu malu,malam ini kalian berdua butuh banyak tenaga karena itu harus makan,jangan seperti satu orang yang sok galak itu".
"Bik Siti kamu besok benar benar harus pergi kerumah sakit minta antar Dadang sana periksa berapa tekanan darahmu besok,jangan sampai terjadi apa apa nanti".ucap Bagaskara dengan nada menekan pada suaranya.
__ADS_1
"Iya pak anda juga".
"Maksudmu?"tanya Bagaskara dengan menatap kearah pembantunya itu.
"Nggak ada,semoga setelah neng Dita sama mas Gavin menikah ini anda juga segera menyusul mereka".
"Amiin",semua mata orang yang berada dimeja makan langsung menatap kearah Anandita.
"Hah,..aku cuma bercanda",ucap Anandita langsung menundukan wajahnya gugup.
"Berhenti bercanda cepat makan aku sudah ingin istirahat malam ini",hardik Bagaskara agar membuat mereka semua diam.
Acara makan malam keluarga pertama mereka akhirnya hanya dilakukan dengan saling diam,setelah drama pendek tadi.
Setelah selesai makan Anandita segera pamit untuk kembali kekamar dan hanya dijawab singkat oleh Bagaskara.
"Kau juga akan kembali kekamar sekarang?"ucapnya pada Gavin.
"Apa ayah masih ada yang ingin dibicarakan denganku?"tanya gavin masih duduk dikursinya sambil menatap kearah Bagaskara yang duduk berseberangan dengannya.
Ini pertama kalinya mereka bisa duduk satu meja tanpa ada adu urat atau adu argumentasi yang kemudian menyebabkan emosi Bagaskara naik.
Bagaskara menatap Gavin tajam berbagai perasaan campur aduk memenuhi pikirannya.
Bagaskara menghela nafas keras sebelum mulai bicara.
"Kau masih menyalahkan ayahmu ini tentang meninggalnya Bundamu?"tanya Bagaskara.
Dulu setiap topik itu dibahas Gavin pasti akan langsung marah dan berteriak padanya.
Gavin menatap pria didepannya yang juga menatap padanya.
"Tidak,aku berhenti menyalahkan ayah soal itu,aku sudah memaafkan ayah,tapi aku masih kecewa dengan keputusan ayah yang tidak pernah mau melepaskan bunda saat bunda masih hidup".
"Apa maksudmu?,aku melakukan itu karena aku tidak ingin kau hidup dalam keluarga broken home,tapi kau malah menyalahkan aku!"ucap Bagaskara dengan keras.
"aku tidak menginginkan keluarga utuh tapi tidak berasa keluarga,apakah ayah tidak sadar itu adalah kesalahan fatal yang pernah ayah buat tentang hidup kita,berhenti berpikir bahwa aku tidak akan bahagia meski kalian berpisah saat itu,karena itu tidak benar,andai saat itu kalian berdua berpisah mungkin hubungan kita tidak harus seburuk ini,meski pun aku sadar aku tidak bisa memaksa kalian untuk mengambil keputusan itu,tapi aku tetap sangat kecewa,kuharap ayah belajar dari kesalahan itu,jangan mencoba memperbaiki sesuatu yang tidak bisa diperbaiki,tapi gantilah dengan yang lain mungkin itu lebih baik,permisi ayah,selamat malam".
Bagaskara terdiam mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Gavin,dia tidak menyangka ternyata dia bisa membenarkan ucapan Gavin saat ini.
"Saya sudah bilang berkali kali pada Bapak dulu bahwa keputusan bapak itu pasti akan bapak sesali, sekarang saat Gavin yang mengatakannya baru bapak sadar"cerocos bik Siti yang diam diam mendengar pembicaraan mereka tadi.
"Jadi aku harus bagaimana bik,aku merasa telah menjadi ayah yang buruk sekarang".
__ADS_1
"Gampang coba bapak nikah lagi dan punya anak lagi,lalu berusaha menjadi ayah yang baik bagi anak bapak nanti".
Bersambung.....😍😍😍.