
Gavin menatap wajah Anandita yang terlelap disampingnya setelah percintaan panas mereka beberapa saat lalu.
Setelah yakin Anandita sudah tidur Gavin turun dengan pelan dari ranjang dan berjalan menuju keluar dari kamar mereka,lalu kembali menutup pelan pintu kamar itu.
Gavin berjalan menuju ruang kerja sang ayah yang Gavin yakin ayahnya masih disana belum tidur saat ini.
Dengan pelan Gavin mengetuk pintu ruang kerja itu.
"Tok..tok..."
"Masuk!"jawab Bagaskara dari dalam ruangan.
Gavin berjalan masuk kedalam ruang kerja sang ayah.
Bagaskara menatap Gavin dengan pandangan sulit diartikan.
"Bagaimana khabar ayah?"tanya Gavin sambil duduk disofa ruang kerja sang ayah.
Bagaskara bangkit dari meja kerjanya dan berjalan menuju sofa tempat Gavin duduk.
"Baik,ada yang akan kamu bicarakan?"tanya Bagaskara menatap kearah Gavin.
"Iya,ayah pasti sudah mendengar apa yang diucapkan oleh dokter Rumi tentang keinginanku".
"Iya,apa kamu yakin ingin melakukannya?"tanya Bagaskara.
"Iya,karena ini sudah cukup".
"Maksudmu?"tanya Bagaskara bingung.
"Aku pernah seperti ini,Gavin kecil itu dulu pernah muncul dari dalam diriku tapi hanya sebentar lalu dia menghilang dengan bantuan psikiater yang aku temui",terang Gavin membuat Bagaskara terkejut.
"Ini bukan yang pertama kali kamu seperti ini?!"
"Iya,aku sudah lama tidak baik baik saja ayah,dan ini kurasa sudah puncaknya".
"Maksudmu?"ucap Bagaskara dengan suara terdengar parau,menahan perasaan sedihnya,seberat itukah ternyata trauma yang dialami oleh putranya ini
Melihat ekspresi sang ayah yang tampak merasa sangat bersalah Gavin menyentuh tangan Bagaskara.
"Jangan bersedih aku tidak papa sekarang"ucap Gavin.
Bagaskara menggenggam erat tangan Gavin dan membawa kedua tangan putranya itu kedepan wajah,dikecupnya lama tangan yang bahkan dulu selalu ditepisnya saat merengek minta untuk diperhatikan saat dia masih kecil.
"Maaf telah menjadi ayah yang buruk untukmu dimasa lalu".
Gavin merasakan telapak tangannya yang berada diwajah sang ayah basah oleh airmata Bagaskara.
"Aku sudah lama memaafkan ayah,itu bukan sepenuhnya salah ayah,aku sudah sadar ayah tidak pernah ingin menjadi orang tua yang buruk untukku tapi mungkin cara yang ayah lakukan yang tidak benar dan malah membuat kita berada dikondisi hubungan yang tidak sehat selama ini".
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan Gavin Bagaskara merasa ternyata dia harus lebih banyak belajar dari putranya yang seolah lebih dewasa dan bijak dari dirinya yang sudah berumur hampir setengah abad.
"Jadi apa kamu tetap akan melakukan pengobatan dengan metode hipnotis itu?"tanya Bagaskara setelah tenang.
"Iya,aku akan tetap melakukannya pasti ayah sudah mendengar penjelasan dari dokter Rumi bukan".
"Iya,lalu bagaimana dengan Anandita,apakah kamu sudah memberinya pengertian?"
"Sudah,karena itu aku menemui ayah sekarang".
"Maksudmu,bagaimana?"
"Ayah aku ingin mengatakan sejujurnya yang dokter Rumi katakan padaku tadi malam".
"Apakah dokter Rumi menyembunyikan sesuatu".
"Aku yang ingin mengatakannya secara langsung pada ayah".
"Katakan ada apa sebenarnya?".
"Dokter Rumi dan ahli hipnotis yang dikenalkan padaku olehnya bilang kemungkinanku untuk kembali menjadi diriku yang ini sangat kecil".
Bagaskara langsung terkejut mendengar itu,bahkan mungkin saat ini Gavin dapat melihat wajahnya yang pucat karena terkejut mendengar kenyataan itu.
"I..itu..bohongkan"ucapnya lemah menatap kearah Gavin.
Gavin menggeleng,"Itu benar karena aku juga bisa merasakannya".
"Aku semakin melupakan banyak hal dan waktu kesadaranku semakin sedikit,dari waktu Gavin kecil muncul".
Bagaskara menundukkan wajahnya tidak sanggup lagi menatap kearah sang putra yang seolah sedang mengucapkan salam perpisahan itu.
"Berapa persen?"tanya Bagaskara setelah mulai bisa menguasai hatinya.
"Tidak sampai sepuluh persen".
Mendengar itu Bagaskara langsung menyapukan telapak tangannya kewajah.
"Jadi kenapa dokter Rumi bilang kemungkinannya 50:50".
"Aku yang memintanya mengatakan itu pada Anandita,karena aku tau kalau dokter Rumi jujur Anandita tidak akan setuju dengan keputusanku".
"Kamu berbohong padanya apakah kamu pikir itu tidak akan beresiko untuk hubungan kalian kedepannya".
"Aku tau dia akan marah dan membenciku,tapi itu lebih baik dari pada dia menghabiskan sisa hidupnya untuk merawatku".
"Apa maksudmu?"tanya Bagaskara tidak mengerti apa keinginan Gavin.
"Kalau aku tidak sembuh tolong bantu aku untuk menceraikan Anandita".
__ADS_1
Seketika Bagaskara terloncat dari duduknya karena tidak menyangka Gavin membuat keputusan itu untuk rumah tangganya
"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan!?"tanya Bagaskara marah.
"Aku sadar dengan apa yang aku ucapkan".
"Dan kamu tau pasti Anandita tidak mau!".
"Ayah harus meyakinkannya untuk mau,menceraikan aku".
"Tapi kenapa?"tanya Bagaskara.
"Karena dia berhak punya kesempatan kedua untuk bahagia".
"Maksudmu?"
"Ayah pasti mengerti,kalau aku tidak melakukan itu Anandita selamanya akan terjebak untuk merawatku yang berubah menjadi anak kecil,yang tidak tau kapan akan sembuh,jadi kalau pengobatanku nanti gagal ayah harus segera mengurus perceraian kami".
"Apakah harus secepat itu?"
"Iya,karena semakin cepat dilakukan maka semakin banyak dia punya waktu untuk menyembuhkan lukanya".
"Bagaimana denganmu?"
"Aku tidak ingin apa apa,itu terserah ayah bagaimana akan merawatku".
"Jadi ini alasanmu ingin segera melakukan pengobatan dengan mengambil resiko besar".
"Iya,aku tidak ingin membuat dia menungguku terlalu lama,itu tidak adil untuknya,ayah pasti mengerti rasanya berada dalam hubungan rumah tangga tidak sehat".
"Iya,lalu bagaimana kalau dia hamil anakmu,apakah kamu tetap meminta ayah untuk menceraikan kalian".
"Itu tidak mungkin terjadi,tapi seandainya iya,ayah harus menceraikan kami bagaimana pun caranya".
"Tapi kenapa?,siapa tau dengan adanya anak diantara kalian bisa membuatmu kembali nanti".
"Itu masih belum pasti,tapi waktu sembilan bulan itu sangat lama untuk sebuah penantian tidak pasti, jadi aku tetap ingin dia meninggalkan aku,andai suatu saat aku sembuh aku akan tetap mengakui anakku tapi aku tidak akan memintanya kembali padaku".
"Apakah kamu yakin dengan semua keputusanmu ini".
"Iya,bagiku sekarang cara ini adalah jalan terakhir untuk kami bisa bersama atau berpisah".
Bagaskara menatap Gavin juga memandang lurus padanya,terbersit rasa kagum untuk semua yang diucapkan putranya itu padanya bahkan sebagai orang tua dia merasa malu karena tidak pernah berpikir sampai sejauh itu dalam hidupnya.
"Aku mengagumi sebagai seorang pria dan aku bangga padamu sebagai seorang ayah tapi aku juga merasa malu karena kamu bisa lebih baik dari aku sebagai seorang suami dulu,aku yakin Anandita akan mengerti dengan apa yang kamu putuskan ini".
"Trimakasih Ayah untuk semuanya maaf karena aku pernah membencimu sangat dalam hingga sekarang aku berada dititik ini".
"Mungkin awal kita memang tidak baik,tapi andai ada kesempatan kedua mari kita menjadi ayah dan anak yang seharusnya".
__ADS_1
Gavin mengangguk dan langsung berjalan kesisi ayahnya memeluk pria yang disebutnya ayah itu, Bagaskara mwmbalas pelukan Gavin dengan erat seolah itu pelukan terakhir mereka.