
Setelah Gavin mengatakan hal itu baru Anandita berani menatap kearahnya.
"Makasih mau memahamiku"ucap Anandita.
Gavin menggenggam tangan Anandita.
"Aku yang harusnya mengatakan itu,sejak aku mulai menyadari bahwa kamu mungkin hamil,jujur saja perasaanku saat itu campur aduk antara senang sedih terharu dan lebih dominan takut".jawab Gavin dengan membawa kedua tangan Anandita kewajahnya.
Anandita memandang Gavin tidak tau harus mengatakan apa saat mendengar semua yang dikatakan Gavin padanya.
"Aku benar benar pernah merasa takut Yank saat itu,maaf",ucap Gavin lirih.
Anandita membelai lembut wajah Gavin.
Aku juga sempat merasakan hal itu,saat pertama kali dokter mengatakan aku hamil,karena itu aku tidak langsung memberitahumu,bahkan sampai sekarang aku masih takut".
"Kenapa,Yank?"tanya Gavin menatap Anandita.
"Aku takut kamu akan ...akan berubah lagi kalau aku mengatakannya karena itu aku berbohong selama ini",jawab Anandita mulai terisak.
Melihat itu Gavin langsung merengkuh Anandita kedalam pelukannya.
"Pasti kamu sangat takut saat itu,seharusnya aku berada disampingmu sebagai suami,tapi aku tidak ada maaf yank,mulai sekarang aku akan berusaha selalu ada untukmu".
Anandita hanya mengangguk disela sela isaknya.
lama mereka berada ditepi jalan setelah Anandita tenang Gavin mulai melajukan lagi mobilnya menuju kearah rumah sakit.
"Kenapa kamu nggak periksa di dokter kandungan biasa aja sih Yank jadikan bisa sewaktu waktu datangnya nggak harus jam kerja seperti ini?"tanya Gavin.
"Aku belum memikirkannya saat itu,tapi setelah kamu tau aku rasa memang sebaiknya nanti aku periksanya kedokter kandungan biasa aja".
"Nanti kita tanya pada dokter yang sekarang bagaimana sebaiknya".
Anandita mengangguk setuju.
****
Sampai dirumah sakit .
Setelah Gavin memarkir mobilnya Anandita langsung mengajak Gavin menuju bagian obgium.
Karena sudah mulai siang jadi yang antri tidak terlalu banyak hanya ada beberapa orang ibu yang masih menunggu giliran dipanggil.
Anandita mengajak Gavin duduk dikursi menunggu dipanggil.
beberapa ibu yang berada ditempat itu menatap Anandita dan Gavin dengan pandangan heran,membuat Anandita gugup.
"Kenapa Yank?"tanya Gavin karena Anandita melepaskan tangannya yang digenggam Gavin.
"Nggak, aku hanya merasa kurang nyaman karena ada yang memperhatikan kita"bisik Anandita.
Mendengar itu Gavin melirik kebeberapa ibu yang memang melihat kearah mereka.
"Biarkan saja Yank, mungkin mereka sedang berpikir bahwa mereka sedang melihat dua ciptaan Tuhan yang paling sempurna"goda Gavin.
__ADS_1
"Tapi sepertinya bukan itu ,Vin".
"Lalu apa?"
"Penampilan kita,kamu tidak sadar bahwa kamu masih memakai seragam sekolah sekarang,lalu kita berada dimana sekarang".
"Memang kenapa ?"tanya Gavin dengan mengamati sekelilingnya.
"Mereka pasti akan menilai negatif tentang kita sekarang,"bisik Anandita.
"Maksudmu,Yank?".
"Mereka pasti berpikir kita pasangan yang hamil diluar nikah ,Vin".bisik Anandita.
Mendengar ucapan Anandita Gavin hanya diam tidak menjawab atau membantah ucapan Anandita,tapi dia kembali menggenggam tangan Anandita erat dan menolak melepaskannya meskipun Anandita berusaha menariknya.
"Biarkan saja aku hanya ingin menemani istriku periksa kandungan Yank",ucap gavin dengan cukup keras yang bisa didengar oleh semua orang yang duduk disana.
Dan mereka seketika langsung menoleh mendengar ucapan Gavin,tapi Gavin tetap tidak perduli.
Gavin mengajak Anandita masuk keruang praktek dokter kandungan setelah mendengar nama Anandita dipanggil.
Dokter kandungan mempersilahkan Anandita untuk duduk dikursi,sedangkan Gavin berdiri dibelakang Anandita,membuat sang dokter jadi bertanya, apalagi melihat Gavin masih memakai seragam sekolahnya lengkap.
"Ini?"dokter menunjuk kearah Gavin karena baru pertama kali melihat Gavin.
"Dia.."
"Saya suaminya",jawab Gavin yang membuat sang dokter memandang mereka secara bergantian.
"Maaf tapi dia benar suami saya,ayah dari sibeby,ada keadaan khusus yang membuat kami menikah sebelum suami saya menyelesaikan sekolahnya",terang Anandita menutup kemungkinan pertanyaan negatif yang mungkin dipikirkan oleh dokter kandungan itu.
"Maaf karena sempat ragu,"ucap dokter itu.
"Tidak papa,kami juga tidak memikirkan hal ini tadi waktu akan berkunjung kemari",jawab Anandita jujur.
"Iya,tampaknya kalian sangat bersemangat untuk melihat calon beby kalian hari ini,"ucap sang dokter.
Anandita mengangguk.
Lalu dokter mulai bertanya seputar keluhan yang dirasakan oleh Anandita sampai sekarang.
Anandita menjawab semua pertannyaan itu tanpa ada yang ditutupinya.
Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh dokter mempersilahkan mereka untuk pulang, tapi Gavin tiba tiba menghampiri sang dokter.
"Ada lagi yang ingin ditanyakan?"tanyanya menatap Gavin ramah.
"Apa boleh saya mengunjungi beby nanti malam dok?"tanya Gavin.
Mendengar itu wajah Anandita langsung merah karena malu,sedangkan dokter kandungan itu tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Gavin.
"Sepertinya tidak masalah kalau ingin berkunjung,tapi usahakan menyelesaikannya diluar saja karena ini masih masuk trimester pertama dikhawatirkan bisa membahayakan sibeby nanti.
Setelah selesai dokter menjawab pertanyaan Gavin,Anandita bermaksud menarik Gavin keluar, tapi Gavin menahan tangan Anandita.
__ADS_1
"Sebentar dok saya ingin bertanya satu lagi?"
"Silahkan".
"Tidak masalah bukan kalau saya sering mengunjungi beby kami?".
Dokter menganggukkan kepalanya,"selama mommynya oke tidak masalah kurasa",jawab dokter itu.
Setelah mendengar jawaban sang dokter Anandita langsung permisi dan mengajak Gavin keluar dari ruang praktek dokter.
Anandita mendorong Gavin sampai ditempat mobil mereka terparkir.
"Ayo pulang!"ajaknya sambil naik kedalam mobil.
Gavin menuruti apa yang diperintahkan Anandita dengan patuh.
Setelah mereka naik kedalam mobil dan mobil sudah mulai berjalan Gavin menoleh kearah Anandita,tapi Anandita langsung memalingkan wajahnya menghadap jendela.
"Ada apa Yank?"
"Jangan bertanya apapun aku tidak mau menjawabnya",ucap Anandita.
"Maksudmu?"
Anandita menatap kearah Gavin dengan tajam melihat itu Gavin menaikkan sebelah alisnya.
"Ada yang salah Yank?"tanya Gavin.
"Kamu yang salah,kenapa kamu menanyakan hal pribadi seperti itu kepada dokter!"jawab Anandita sewot.
"Ternyata itu masalahnya yang buat kamu jadi marah".
"Iya,aku malu tau",jawabnya.
"Kenapa harus malu aku harus menanyakan itu, karena aku sudah lama menahan diri tidak menyentuhmu dan itu sangat menyiksa Yank".
Anandita menatap Gavin.
"Jadi kamu sengaja nggak melakukan karena takut akan membahayakan beby kita?"tanya Anadita.
Gavin mengangguk.
"Lalu kamu pikir apa Yank?"tanya Gavin.
Anandita langsung memalingkan wajahnya karena malu,tapi Gavin bisa melihatnya jadi dengan satu tangannya yang bebas Gavin memutar pelan kepala Anandita.
"Apa Yank,jawab?"tanya Gavin pelan.
"Ku pikir kamu bosan denganku karena sekarang aku jadi gendut"jawab Anandita dengan wajah menunduk.
Mendengar itu tiba tiba Gavin langsung membelokkan mobilnya kesebuah hotel berbintang yang mereka lewati.
Melihat itu Anandita terkejut.
"Vin mau apa kita kesini?"tanyanya bingung.
__ADS_1
Gavin langsung melepas sabuk pengamannya dan mengajak Anandita untuk turun dari mobil.
"Ayo kita meneruskan yang tadi pagi sekarang ,aku sudah nggak sabar mau mengunjungi beby kita"bisiknya dengan menarik Anandita masuk kedalam hotel.