
Akhirnya niat hati Anandita untuk cepat keluar gagal juga.Anandita menatap Gavin dengan wajah cemberut.
"Berhenti memasang wajah seperti itu"ucap Gavin dengan mencubit ujung hidung mancung sang istri.
"Ini gara gara kamu coba tadi kita mandi sendiri sendiri ,pasti nggak akan sampai sore seperti ini tetap didalam kamar belum keluar juga,bagaimana kalau bik Siti nanti bertanya macam macam "gerutu Anandita.
"Biarkan saja kalau bik Siti bertanya ,dia memang selalu seperti itu tapi sebenarnya dia baik".
"Kok kamu tau memangnya kamu sudah pernah bertemu bik Siti,bukankah kata ayah kamu nggak pernah kerumah ini sebelumnya.
"Aku memang nggak pernah kerumah ayah yang ini sebelumnya,karena ayah baru lima tahun pindah kesini,sejak hubungannya dan Bunda semakin memburuk dan akhirnya bunda memutuskan untuk tinggal sendiri diApartemen dan membawa aku bersamanya,sebelum itu kami tinggal bersama dan bik Siti sudah bekerja dengan kami sejak aku kecil jadi aku kenal dekat dengannya"Terang Gavin yang membuat Anadita hanya menganggukan kepalanya.
"Benar nggak papa kita baru keluar sekarang?"Anandita menatap Gavin dengan ragu.
"Nggak papa mereka akan lebih khawatir kalau kita nggak keluar sama sekali,ayo!"Gavin membawa Anandita keluar dari dalam kamar mereka menuju meja makan untuk mengajak Anandita makan sebelum mereka pulang.
Gavin menarikkan kursi untuk Anandita menyuruhnya untuk duduk dikursi.
Anandita duduk dikursi yang ditarik Gavin untuknya ,sambil mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang tampak sepi.
"Mana semua orang"tanya Anandita pada Gavin.
Sebelum Gavin menjawab,bik Siti yang baru keluar dari dapur membawakan makan siang yang terlambat untuk mereka menjawab lebih dulu.
"Bapak sudah dari tadi keluar,setelah makan siang karena menunggu Neng Dita dan Mas Gavin nggak turun turun",ucapnya dengan melirik kepada mereka berdua.
Membuat Anadita menundukan wajahnya merasa tidak nyaman dengan ucapan dari bik Siti,sementara Gavin dengan cueknya tidak memperdulikan ucapan bik Siti malah sudah mulai menyuap makanannya kedalam mulut.
"Ayah bilang mau kemana bik?"tanya Gavin sambil membantu Anadita mengambilkan makanan dimeja.
"Makan Yank!"ucapnya dengan mendekatkan piring Anandita yang segera disambut Anandita.
Bik Siti melihat interaksi manis itu dengan lega ternyata akan ada kebahagian dalam rumah ini setelah sekian lama batinnya.
__ADS_1
"Kemana Bik Ayah ?"ulang Gavin karena bik Siti tadi belum juga menjawabnya.
"Bapak bilang akan pergi keluar kota untuk beberapa hari,apakah Mas Gavin dan Mbak Dita masih akan menginap disini?".tanya bik Siti.
"Nggak, kami akan pulang setelah makan,salam aja untuk Ayah",ucap Gavin.
"Kenapa nggak menelpon aja langsung keponsel Bapak,bilang kalian akan pulang?"tannya bik Siti dengan menatap Gavin.
Tapi bukannya menjawab Gavin malah tetap melanjutkan makannya dalam diam.Anandita yang melihat itu merasa tidak nyaman jadi mewakili Gavin untuk menjawab pertanyaan bik siti.
"Nanti aku akan menelpon ayah untuk mengatakannya langsung"ucap Anandita.
"Baguslah paling tidak ada seseorang yang jadi penengah diantara dua batu ini setelah bertahun tahun,karena perempuan tua ini sudah terlalu lelah mencoba mendamaikan para orang orang keras kepala,semoga aja aku diberi umur panjang jadi bisa melihat kalian damai"gerutunya lalu pergi meninggalkan Gavin dan Anandita.
Setelah bik Siti tidak terlihat Anandita menatap Gavin bermaksud membuka mulutnya untuk bicara,tapi langsung dipotong oleh Gavin.
"Habiskan makananmu,lalu kita akan pulang,kutunggu dimobil"ucap Gavin lalu berdiri meninggalkan Anandita sendiri dimeja makan.
Setelah Gavin keluar Anandita bangkit dari kursinya dan berjalan kearah dapur mencari bik Siti yang ternyata sedang duduk merenung dikursi.
"bik Siti,kami akan pulang dulu,jangan terlalu memikirkan sikap Gavin saat bicara tentang ayahnya,dia sudah tidak marah pada ayah tapi dia masih butuh waktu untuk membiasakan dekat dengan ayah,mereka berdua butuh waktu karena selama ini mereka sudah terlalu jauh jaraknya,aku akan berusaha pelan pelan mengajaknya bicara,jangan bersedih lagi nanti kalau ada waktu aku akan datang mengunjungi bibik".
"Neng,Dita cepat cepat hamil jadi mereka akan lebih gampang untuk dekat nanti"ucap bik Siti yang membuat Anandita hanya tersenyum mendengar ucapannya.
"Aku permisi bik"ucap Anandita dengan berjalan meninggalkan perempuan tua itu sendirian,lalu berjalan keluar menemui Gavin yang sudah menunggunya didalam mobil sambil bermain dengan ponselnya.
Gavin menoleh saat mendengar Anandita masuk kedalam mobil.
"Ayo pulang"ajak Anandita dengan memasang sabuk pengamannya.
"Sudah?"ucap gavin dengan memandang sang istri,yang dijawab Anandita dengan anggukan.
Gavin menjalankan mobilnya keluar dari komplek perumahan tempat tinggal ayahnya.
__ADS_1
Gavin tidak langsung pulang kerumah tapi bemaksud mengajak Anandita untuk jalan jalan kebih dulu.
"Kita mau kemana?"tanya Anandita karena melihat mobil mereka tidak mengarah kejalan pulang.
"Kita jalan jalan sebentar karena hari masih sore"jawab Gavin.
Gavin mengajak Anadita kesebuah tempat wisata buatan yang menyuguhkan pemandangan danau buatan dengan beberapa wahana permainan.
"Kita kesini?"tanya Anadita terlihat senang.
"Hemm"jawab Gavin lalu turun lebih dulu dari mobil kemudian baru membuka pintu mobil Anandita.
"Ayo yank"Gavin mengulurkan tangannya mengajak Anadita turun dari mobil.
Anandita menerima uluran tangan Gavin dengan tersenyum manis.
"Makasih".
Gavin menggandeng tangan Anandita berjalan masuk kedalam area Danau buatan yang terlihat lumayan rame dengan anak muda seumuran Gavin yang juga menghabiskan waktu akhir pekan mereka dengan teman atau pasangan mereka,melihat itu Anadita berusaha melepaskan genggaman tangan Gavin.
"Kenapa?"tanya Gavin menatap kearah Anandita.
"Lepas malu,banyak anak seumuranmu disini dan mereka dengan pasangannya"terang Anandita dengan menundukkan wajahnya tidak berani menatap kearah Gavin.
Mendengar keterangan Anandita bukannya melepaskan Gavin malah memeluk pinggang Anandita dengan erat.
"Vin..!"Anandita menatap kearah Gavin bingung.
"Biarkan saja,mereka belum resmi seperti kita aja berani pegang pegangan tangan bahkan ada yang lebih,jadi kita yang sudah sah berarti nggak masalah".
"Tapi mereka seumuran sedangkan aku lebih tua dari mereka".
"Tapi kamu lebih cantik dari mereka dan yang penting aku cinta sama kamu"ucap gavin dengan mencium mesra tangan Anadita yang membuat pipi Anandita Langsung merona merah membuat Gavin semakin gemas ingin rasanya dia mencium pipi itu tapi ingat ini tempat umum, jadi dia hanya mencubit gemas pipi Anandita.
__ADS_1
"Sakit"Anadita meraba pipinya yang baru saja dicubit Gavin.
"Habisnya kamu nggemesin sih,dan hasil cubitanku jadi cantik dipipimu warnanya jadi pink aku suka nanti malam pakai yang warna itu ya Yank"bisik Gavin membuat Anadita langsung mencubit perut Gavin sebal.