
Gavin mengurungkan niatnya untuk masuk keruang pribadinya setelah Kafe tutup dan semua karyawan sudah pulang.
Karena Sudah terlalu malam,Gavin tidak ingin mengganggu tidur sang istri,jadi Gavin memutuskan kembali kedapur untuk mengecek barang barang disana, dia juga bermaksud untuk mencoba membuat satu menu masakan yang sudah dilatihnya selama beberapa hari ini dengan dibantu oleh Heru,tapi baru saja Gavin menyalakan kompor,Gavin dikejutkan oleh suara Anandita yang sudah berdiri dibelakangnya.
"Sampai kapan aku harus menunggu kamu selesai,Vin?!"tanya Anandita dari belakang punggung Gavin,yang membuat Gavin langsung membalikkan badannya karena terkejut.
"Kau belum tidur?"tanya Gavin,bingung.
"Belum,bukankah kau bilang aku harus menunggumu selesai bekerja,untuk melakukan itu.
"Hah,melakukan apa?"tanya Gavin bingung karena dia merasa tidak akan melakukan apa apa dengan Anandita.
"Kau lupa?, bukankah kau yang bilang kita akan ...."Anandita menggabungkan kedua tangannya membentuk paruh ayam.
Gavin langsung ingat,Heru tadi juga mengatakan itu padanya,seketika muka Gavin langsung bersemu merah saat mengerti artinya.
"An....,itu..."Gavin bingung bagaimana cara mengatakannya pada istrinya yang terlalu berterus terang itu.
"Ayo kita lakukan jadi aku tidak merasa berhutang lagi padamu"
Gavin menatap kearah Anandita,kadang dia binggung,bagaimana harus menghadapi istrinya itu,Anandita yang terlalu lugu atau dia yang tidak paham dengan jalan pikiran istrinya ini.
Gavin mendekati Anandita,yang masih berdiri didekat pintu dapur bermaksud untuk menjahili Anandita.
Selangkah,dua langkah,Gavin mendekat kearah Anandita,tapi setiap kali Gavin melangkah maju maka Anandita akan langsung memundurkan langkahnya.
Membuat Gavin,ingin tertawa melihat apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
"Kemari"ucap Gavin sambil merentangkan kedua tangannya menyuruh Anandita untuk masuk kedalam pelukannya.
Anandita hanya menatap bingung dengan permintaan Gavin.
"Ayo ....An..!"Gavin kembali mengulangi apa yang dia perintahkan pada Anandita.
Dengan langkah berat Anandita berjalan mendekat kearah Gavin.
Melihat Anandita,tidak segera menuruti ucapannya Gavin segera menarik tubuh Anandita yang sudah dekat padanya.
"Tunggu,Vin!"ucap Anandita sambil menahan dada Gavin agar tubuh mereka tidak menempel.
"Kenapa,bukannya kau bilang ingin segera melakukannya agar tidak punya hutang lagi padaku?"
"Iya,tapi kenapa ini tidak seperti apa yang aku bayangkan?!"
__ADS_1
"Memangnya seperti apa bayanganmu saat akan melakukannya?"
"Itu,kenapa kau tidak merayuku,sebelum kita melakukannya?"
"Ini aku sedang merayumu?"ucap Gavin.
"Kenapa cuma seperti itu,aku mau sesuatu yang lebih romantis dari berpelukan dan berciuman sebelum melakukannya karena itu sudah biasa ,Vin!"ucap Anandita dengan wajah cemberut,membuat Gavin tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan istrinya.
"Kau mau aku bagaimana?"tanya Gavin sambil menatap Anandita.
"Itu...,bagaimana kalau kita makan malam romantis dulu,setelah itu kita dansa,lalu.."
"Baik tapi aku tidak mau kamu pakai baju seperti ini"ucap Gavin sambil menunjuk baju yang dipakai oleh Anandita.
"Kenapa?,aku suka memakai baju seperti ini!"
"Ini kurang sexy"ucap Gavin membuat Anandita membelalakkan matanya.
"Maksudmu kau menyuruhku memakai baju seperti apa?"
"Aku mau mulai sekarang kau tidur pakai linggeri saja"ucap Gavin,sambil membalikkan wajahnya takut kalau dia tidak bisa menahan tertawanya dihadapan istrinya yang punya otak biji jagung ini.
Anandita bukan anak kecil jadi dia tau baju seperti apa yang dimaksud oleh Gavin itu.
"Bukannya aku tidak mau tapi aku hanya punya piyama jadi bagaimana?"ucap Anandita dengan tertunduk.
"Baiklah malam ini pengecualiannya,tapi mulai besok kau harus mulai memakainya,kalau tidak aku tidak akan merayumu sebelum kita melakukan malam pertama,tapi aku akan langsung saja melakukannya toh rasanya tetap sama saja!"
"Jangan!,ini pengalaman pertamaku aku ingin ini menjadi kenangan yang tidak bisa ku lupakan"ucap Anandita.
"Baiklah kalau begitu,karena kita sekarang punya misi untuk mempersiapkan malam pertama seperti yang kau inginkan sebaiknya kita pulang saja sekarang"ucap Gavin sambil menarik tangan Anandita keluar dari dapur Kafe.
"Pakai ini ucap Gavin sambil memberikan jaketnya untuk dipakai Anandita karena mereka akan pulang naik motor jadi Gavin tidak ingin istrinya kedinginan nanti.
"Makasih,"ucap Anandita sambil memasang jaket milik Gavin ketubuhnya.
Hanya butuh waktu sekitar setengah jam mereka sudah sampai di Apartemen.
"Ayo"Ajak Gavin membantu Anandita turun dari motornya.
"Kau biasanya pulang jam segini?"tanya Anandita sambil berjalan disamping Gavin.
"Tidak aku biasanya pulang subuh"ucap Gavin sambil menarik Anandita untuk masuk kedalam lift.
__ADS_1
"Apa yang kaulakukan?,bukankah Kafe hanya buka sampai jam 12 malam?!"tanya Anandita sambil menatap Gavin dengan curiga.
"Jangan berpikir yang aneh aneh,"ucap Gavin sambil menarik hidung Anandita dengan gemas.
"Siapa yang berpikir aneh aneh,aku hanya heran saja apa yang kau lakukan sendirian di Kafe sampai subuh"
"Rahasia"ucap Gavin sambil memencet tombol naik ke Apartemen mereka.
"Apa yang kau rahasiakan dariku?"tanya Anandita sambil mendekat kearah Gavin.
"Bukan apa apa,hanya mempersiapkan masa depanku setelah lulus SMA nanti"
"Apa cita citamu"tanya Anandita pada Gavin.
"Aku ingin belajar kuliner ke Italia,"ucap Gavin tanpa melihat ekspresi Anandita yang tiba tiba berubah mendengar hal itu.
"Kapan kau akan pergi?"tanya Anandita.
"Setelah aku lulus nanti,itu sekitar lima bulan lagi"
"Sepertinya kau sudah mempersiapkan semuanya"
"Iya,aku sudah lama ingin pergi kesana"
"Berapa lama kau akan ke Italia?"tanya Anandita dengan suara yang mulai berubah sendu.
"Program yang ingin aku ikuti itu sekitar tiga tahun"ucap Gavin.
"Jadi waktuku bersamamu hanya tersisa lima bulan lagi sebelum kita menjalani LDR"ucap Anandita sambil menghapus airmatanya dengan ujung lengan bajunya.
Melihat Anandita menangis hati Gavin seperti dicubit ada rasa sakit yang tak bisa di katakan .
"An..Maaf"ucap Gavin bermaksud menyentuh wajah Anandita,tapi Anandita segera memalingkan wajahnya.
"Aku tidak papa,jangan khawatir,itu sesuatu yang sudah lama kau rencanakan bukan?,jadi kau tidak perlu merasa bersalah padaku".
Gavin hanya diam tidak menanggapi apa yang diucapkan oleh Anandita,selama ini dia tidak memikirkan kemungkinan seperti ini yang bisa terjadi kalau dia mengatakannya pada Anandita ,karena hubungan mereka masih baru jadi dia belum tau pasti dengan perasaannya dan juga Anandita meskipun Gavin tidak pernah menganggap pernikahan mereka sebagai hal yang main main.
"Jadi mari kita buat kenangan sebanyak banyaknya sebelum kau pergi"ucap Anandita tiba tiba.
"maksudmu An?"tanya Gavin tidak mengerti.
"Kita akan mulai membuat kenangan indah selama lima bulan ini sampai nanti kau lulus sekolah dan berangkat belajar ke Italia"ucap Anandita sambil tersenyum memandang Gavin.
__ADS_1