Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
165. Perpisahan Yang Berat.


__ADS_3

Bagaskara dan Cinta kembali kerumah setelah melakukan bulan madu ala ala,mereka langsung menuju kerumah besar.


Sampai dirumah suasana rumah tampak meriah karena Gavin Anandita juga Cello datang berkunjung kerumah besar.


saat masuk mereka langsung disambut Cello yang terlihat sangat senang melihat Bagaskara dan Cinta datang.


"Opa, oma,peluk",pinta Cello sambil mengulurkan kedua tangannya minta untuk digendong oleh mereka.


Melihat itu Bagaskara langsung mengangkat tubuh Cello.


"Opa juga kangen sini",ucap Bagaskara langsung menggendong cucu semata wayangnya itu.


Cinta yang melihat itu hanya tersenyum senang karena dia juga merindukan Cello sama seperti Bagaskara.


"Ayah sama Bunda sudah sampai",ucap Anandita menemui mereka diruang tengah.


"Iya mana Gavin?",tanya Bagaskara.


"Dia sedang menyiapkan makan siang untuk kita",jawab Anandita.


Setelah itu mereka mengobrol ringan sambil menunggu Gavin selesai menyiapkan makan siang untuk mereka semua.


"Jadi ada apa kalian hari ini semua kesini jangan bilang untuk menyambut kami pulang?",tanya Bagaskara setelah mereka selesai menyantap makan siang bersama.


"Kami akan berangkat besok",ucap Gavin.


Bagaskara langsung terdiam mendengar itu membuat yang lain juga ikut diam hanya Cinta yang tiba tiba menggenggam tangan Bagaskara erat,dia tau pasti berat untuk Bagaskara saat ini.


"Kita sudah membahas ini sebelumnya ayah,",ucap Gavin mulai memecah kesunyian.


"Tapi tetap saja apa harus pergi begitu lama",jawab Bagaskara lirih.


"Itu hanya 3 tahun toh sekarang ayah sudah tidak sendiri lagi,jadi harusnya ayah lebih mengerti,aku sudah menunda niatku ini lama apa ayah bermaksud menundanya lagi".


"Aku mengerti keinginanmu tapi tetap saja ini terasa berat untukku, hubungan kita sudah membaik dan sekarang tiba tiba kau memutuskan untuk pindah keluar negeri bersama keluargamu,apa kau masih merasa dendam pada ayahmu ini dan sekarang ingin membalasnya!".


Bagaskara mulai emosi,membuat Cinta semakin erat menggenggam tangannya berusaha untuk menenangkannya.


"Mas sabar Gavin pasti punya alasannya sendiri".


"Alasan apa aku yakin dia masih menyimpan dendam padaku jadi mau memisahkan aku dengan Cello",gerutu Bagaskara.


"Aku tidak...".


"Py".Tiba tiba Anandita menyela ucapan Gavin karena dia tau kalau diteruskan masalah ini tidak akan selesai mereka bahas.

__ADS_1


Anandita tau bagaimana kerasnya sifat Bagaskara dan juga Gavin karena itu dia berusaha membuat Gavin diam sekarang.


Cinta yang melihat itu juga ikut menyela.


"Sebaiknya kami masuk kedalam dulu,kami baru sampai saat ini mas Bagas masih lelah jadi sebaiknya kita bicarakan lagi ini nanti".


Anandita dan Gavin langsung mengangguk paham sedangkan Bagaskara ingin protes dengan apa yang dikatakan Cinta karena dia masih ingin bicara lagi tentang ini.


"Mas!".


Cinta sengaja bicara dengan nada ditekan agar Bagaskara paham akan maksudnya.


Melihat ekspresi Cinta Bagaskara langsung diam dan mengikuti Cinta bangkit dari duduknya menuju kamar mereka.


Sampai dikamar Bagaskara langsung mengucapkan protesnya pada Cinta.


"Sayang kenapa sih kamu bilang aku lelah dan sebaiknya menunda membahas kepergian mereka apa kamu bermaksud tidak mendukungku".


"Mas...".Cinta sengaja memanggil Bagaskara dengan nada pelan tapi Bagaskara masih tidak mengerti dan masih berusaha untuk mengucapkan protesnya lagi pada Cinta.


"Mas!",panggil Cinta dengan nada lebih keras.


Mendengar itu secara otomatis Bagaskara langsung diam.


"Mas...mereka memang anak mas tapi mereka sudah dewasa apalagi Gavin dia seorang kepala tumah tangga dia berhak memutuskan apa yang akan dilakukan untuk keluarganya,mas sebagai orang tua harus mendukung keputusan Gavin".


"Tapi ini sangat berat sayang",gumam Bagaskara dengan memeluk Cinta erat.


" Aku tau mas,tapi mas harus tetap ikhlas,bayangkan kalau mas diposisi Gavin saat ini".


"Apa maksudmu aku harus menjadi anak seperti Gavin dan Gavin berubah menjadi ayah begitu".


Mendengar itu Cinta benar benar ingin memukul suaminya ini, pantas saja hubungannya selama ini tidak baik dengan anak dan keluarganya karena ternyata suaminya itu tidak punya perasaan peka.


"Bukan begitu mas".


"Lalu?",tanya Bagaskara tidak mengerti.


"Andaikan orang tuaku melarang mas untuk membawa aku ikut tinggal bersama dengan mas padahal kita sudah resmi menikah apakah mas Bagas akan menuruti apa yang dikatakan oleh orang tuaku".


"Tapi kamu kan sudah nggak punya orang tua sayang jadi kamu pasti ikut aku sekarang kalau tidak kamu mau ikut siapa?".


Mendengar itu Cinta Hanya bisa memejamkan matanya,'Sabar Cinta sabar,'batin Cinta.


"Bagaimana dengan Anandita,apa menurut mas sebaiknya Anandita menuruti orang tuanya atau Gavin",ucap Cinta.

__ADS_1


"Tapi orang tua Anandita juga sudah tidak ada jadi dia memang seharusnya ikut Gavin dan aku".


Mendengar itu rasanya Cinta ingin berteriak sekarang karena terlalu sebal dengan pemikiran Bagaskara.


"Pokoknya biarkan saja mereka pergi kalau memang mas masih perduli dengan kami semua",hardik Cinta sebal.


"Kok kamu jadi ikut ikut juga sih sayang,apa kamu juga ingin ikut mereka pergi begitu".


kali ini kesabaran Cinta sudah habis dengan gemas dicubitnya perut Bagaskara keras membuat Bagaskara meringis merasakan itu.


"Auw sayang apa yang kamu lakukan,kamu marah ya kenapa tiba tiba mencubitku".


"Iya aku marah karena mas itu nggak peka jadi orang".


"Nggak peka gimana?',tanya Bagaskara bingung.


"Ya nggak peka pokoknya sudah ah aku lelah mau istirahat saja aku lelah setelah perjalanan kita tadi",ucap Cinta dengan mendorong tubuh Bagaskara menjauh.


tapi Bagaskara langsung menahan tubuh Cinta agar tetap berada didalam pelukannya.


"Apa lagi mas?",tanya Cinta.


"Maaf karena menurutmu aku orang yang kurang peka tapi jujur saja ini sangat berat untukku,Gavin adalah satu satunya anakku dan mereka adalah orang terpentingku".


"Bagaimana denganku,apa mas tidak menganggap aku penting".


"Tentu saja kamu sangat penting sayang,karena kamu istriku dan kamu yang membuat hidupku menjadi penuh warna".


"Lalu apa keberadaanku tidak cukup untuk mengisi kekosongan kepergian mereka".


Bagaskara diam mendengar itu.


"Sekarang kita memang cuma berdua tapi kita tidak tau dalam beberapa bulan kedepan,siapa tau kita menjadi bertiga dan setelah itu akan jadi berempat dan seterusnya".


Bagaskara hanya mengerjapkan mata mendengar itu".


"Kamu ingin punya anak berapa sayang denganku?",tanya Bagaskara tiba tiba membuat Cinta terkejut karena pembicaran mereka kembali melenceng dari topik utama.


"Sebelas,sesuai jumlah tim sepak bola",jawab Cinta asal.


Mendengar itu Bagaskara langsung terbelalak.


"Kamu tidak lelah mengasuh anak sebanyak itu?",tanya Bagaskara.


Cinta langsung menggeleng,"Aku hanya akan melahirkan seterusnya mas yang harus turun tangan",ucap Cinta jahil.

__ADS_1


__ADS_2