Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
62.Jalan Jalan Pagi.


__ADS_3

Anandita meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.


"Jangan Gerak Yank!"ucap Gavin dengan mengeratkan pelukannya ketubuh polos Anandita yang dibuatnya seolah guling.


"Vin..lepa..s..aku mau ketoilet".ucap Anandita mencoba melepaskan tangan Gavin dari tubuhnya.


"Nanti aja Yank.aku masih ngantuk".


"Iya,tapi aku udah nggak tahan,lepas dulu".


"kalau gitu aku titip deh"


"Hah,aku mau buang air kecil ngapain kamu titip?"tanya Anandita bingung.


"Aku juga mau buang air titip sekalian,bantu buangkan Yank!"


"Vin Jangan main main aku beneran mau ketoilet sekarang!"


"Aku juga sama,jadi titip buangkan sekalian"ucap Gavin.


"Vin...Aku.."belum selesai Anandita bicara, Gavin sudah membungkam mulut Anandita dengan ciuman panasnya,membuat Anandita hanya pasrah menerima cumbuan panas Gavin pagi itu.


Yank lagi ya"pinta Gavin menatap wajah Anandita yang berada dibawahnya.


Anandita hanya mengangguk menjawab permintaan Gavin.


Setelah mendapat lampu hijau Gavin semakin intens mencumbu Anandita sampai akhirnya mereka sama sama mengerang setelah mengakhiri pelepasan mereka secara bersama sama.


Dengan nafas terengah engah Gavin menurunkan tubuhnya dari tubuh Anandita.


"Makasih Yank,sudah mau aku titipi".


Mendengar ucapan Gavin Anandita langsung membulatkan matanya terkejut.


"Maksudmu mau titip tadi itu!"sentak Anandita.


Dengan wajah polos Gavin mengangguk pada Anandita.


"Kamu ...Ih..menyebalkan!"ucap Anandita bermaksud langsung bangun dari tempat tidur tapi tiba tiba tubuhnya kembali oleng karena terlalu lemas ,akibat gempuran Gavin tadi malam dan ditambah lagi yang baru saja selesai dilakukannya,membuat tubuh Anandita benar benar seperti tidak bertenaga.


Dengan sigap Gavin langsung menopang tubuh Anandita supaya tidak jatuh kebelakang.


"Sini aku bantu"ucap Gavin dengan sigap langsung mengangkat tubuh Anandita kekamar mandi,tanpa memperdulikan protes marah dari Anandita.


Gavin mendudukkan tubuh Anandita diatas toilet menyuruh Anandita menyelesaikan hajatnya yang tertunda tadi.


Sementara itu Gavin langsung mengguyur tubuhnya dibawah shower lebih dulu.

__ADS_1


"Mandi sendiri ya Yank,aku akan buatkan sarapan untuk kita,setelah itu ayo kita jalan jalan sebentar diluar sebelum pulang".


Mendengar itu Anandita langsung bersemangat kembali.


Setelah Gavin keluar dari kamar mandi Anandita langsung menguyur tubuhnya di shower dengan air hangat,karena udara pagi di daerah sekitar Vila itu terasa dingin.Saat keluar dari kamar mandi dilihatnya Gavin sudah menyiapkannya baju Ganti untuknya.


sebuah atasan kaos warna softpink dipadu dengan celana jeans,serta sebuah cardigan longgar warna dongker,telah disiapkan Gavin untuknya diatas ranjang.


Anandita tersenyum senang melihat itu,apalagi saat melihat baju warna pink yang dipilih Gavin untuk dipakainya,Dasar maniak pink,gumamnya dengan mengenakan baju itu.


Setelah itu Anandita memoles sedikit wajahnya dengan bedak dan memakai lipstik warna pink supaya terlihat lebih segar.


Selesai berpakaian Anandita menghampiri Gavin yang sedang menyiapkan sarapan didapur.


Gavin menoleh saat mendengar langkah kaki mendekat keDapur.


"Kamu sudah selesai Yank?,Ayo kita makan".Ajaknya saat melihat Anandita masuk kedapur.


Apa itu omelet?",tanya Anandita.


Gavin hanya mengangguk.


"Sini Mas Gavinku"Anandita menarik Gavin untuk duduk disampingnya."Hari ini aku yang akan menyuapi kamu makan", ucap Anandita dengan tersenyum kepada Gavin.


Dengan patuh Gavin menuruti keinginan Anandita yang ingin menyuapinya.


"Ini Mas Gavin suapan pertama datang",ucap Anandita dengan mendekatkan sendok kemulut Gavin,lalu terus sampai omelet dipiring Gavin hampir habis.


"kau juga harus makan,Yank",perintah Gavin.


"Aku akan makan setelah selesai menyuapi bayi besarku nanti"ucap Anandita dengan mencubit pipi Gavin gemas.


"Kau tidak ingin mencoba omeletnya?"


"nanti saja".


"Ayolah sedikit saja"rayu Gavin.


"Baiklah aku akan menyuap sedikit kemulutku"ucap Anandita.


"Biar aku saja!"cegah Gavin saat melihat Anandita bermaksud menyuap omelet dipiring dengan sendok ditangannya.


"Baiklah,ini sendoknya"Anandita memberikan sendok ditangannya kepada Gavin tapi Gavin menggelengkan kepalanya.


"Sini aku suapi supaya kau bisa benar benar merasakan nikmat omeletnya"ucap Gavin yang tiba tiba langsung mencium Anandita dengan mulut penuh omelet dan langsung memindahkan omelet dimulutnya kemulut Anandita.


Anandita langsung mendorong tubuh Gavin menjauh dengan mata melotot.

__ADS_1


"Vin...!"


"Bagaimana enakkan Yank?"tanya Gavin dengan ekspresi jahil,membuat Anandita langsung mencubit perut Gavin gemas.


"Auw Yank,sakit!"teriak Gavin karena Anandita mencubitnya dengan keras.


"Rasakan itu,siapa suruh suka sekali jahil jadi orang!"dengus Anandita lalu pergi meninggalkan Gavin keluar dari Vila.


"Yank tunggu!"teriak Gavin lalu berjalan cepat menyusul Anandita yang sudah lebih dulu keluar Vila.


Anandita berjalan cepat keluar Vila dijalan setapak yang mengarah keperkebunan teh yang mengelilingi Vila itu.


Gavin segera merangkul pundaknya setelah berhasil mengejar langkah Anandita.


"Disini udaranya masih segar bukan?"tanya Anandita tanpa menoleh kearah Gavin.


"Hemmm,ayo kita berlibur lagi setelah aku pulang dari lomba nanti".Ajak Gavin.


"Bukankah saat kamu pulang nanti,kamu sudah harus sekolah lagi?".


"Hanya untuk dua atau tiga hari kurasa tidak masalah,untuk mengganti waktu kita selama sebulan berpisah".


"Kita lihat saja nanti,kadang apa yang kita rencanakan berbeda jauh dengan kenyataannya"ucap Anandita sambil memandang jauh kehamparan perkebunan teh didepannya.


"Jangan pesimis Yank,kita memang hanya bisa berencana,tapi hidup yang baik adalah hidup yang direncanakan untuk hasil akhir itu kita hanya bisa berharap semoga sesuai dengan apa yang sudah berada didalam rencana kita".


"Jadi apakah rencanamu masih tetap seperti semula setelah ini?"


"Mungkin?"


"Maksudmu?"tanya Anandita bingung.


"Aku tidak mau bilang aku merasa berat berpisah denganmu untuk sebulan ini,jadi aku tidak bisa memastikan apakah aku akan melanjutkan rencanaku untuk pergi keluar negeri nanti jadi atau tidak,aku hanya yakin rencana Tuhan adalah yang terbaik,seperti kamu,menikah denganmu diluar rencanaku tapi ternyata Tuhan mengirimmu untukku disaat yang tidak terduga,jadi mari kita berencana dan biarkan Tuhan yang memutuskan mana yang terbaik dari semua rencana yang kita buat itu".


Anandita mengangguk mereka saling bertatap dalam diam,tidak ingin mengatakan apapun tapi hanya ingin merasakan perasaan mereka masing masing.


"Ayo kita berkeliling sebentar",ajakGavin dengan merangkul pundak Anandita mesra.


"Vin boleh aku bertanya?"


"Apa tanyakan saja".


"Bagaimana kalau aku hamil sebelum kamu pergi keluar negeri,apa kamu juga akan tetap meninggalkanku disini sendiri?"tanya Anandita menatap Gavin yang berjalan disebelahnya.


"Sebaiknya kita menunda dulu, rencana untuk punya anak sekarang".Anadita langsung tertunduk mendengar apa yang dikatakan Gavin.


"Bukan aku tidak mau,hanya aku rasa belum saatnya,kemaren saat kau sakit aku sempat berharap kau benar benar hamil, tapi saat kau bilang kau sudah menggunakan alat kontrasepsi aku memang sedikit kecewa,tapi kemudian aku sadar itu memang rencana awal kita bukan?,jadi sebaiknya kita lanjutkan dulu seperti semula,bagaimana?"

__ADS_1


"Baiklah,kalau kau sudah memutuskan seperti itu".


__ADS_2