Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
156.Pembicaraan Ayah Dan Anak.


__ADS_3

Gavin langsung terdiam mendengar apa yang dikatakan Bagaskara barusan,ingin marah pada laki laki didepannya tapi dia adalah ayahnya,jadi sebisa mungkin Gavin mencoba menahan emosinya.


Sedangkan Bagaskara merasa sangat bersalah dan tidak nyaman karena harus mengatakan tentang hubungannya dan Cinta dengan cara seperti ini.


"Jadi apa rencana ayah sekarang?",tanya Gavin.


"Maksudmu apa".


"Aku dan Anandita berencana membawa Cello keLuar negeri sampai kuliahku selesai,lalu apa hubungan ayah dan Cinta akan berlanjut kalau tidak ada lagi Cello yang menjadi alasan kalian bersama nanti".


Bagaskara terdiam mendengar itu,dia tidak pernah memikirkan sampai sejauh itu soal hubungannya dan Cinta.


Dia hanya merasa nyaman saat berada didekat Cinta, tapi dia masih ragu apakah dia akan melanjutkan pernikahan ini atau tidak dalam hatinya dia masih merasa tidak tega kalau harus mengikat Cinta untuk menikah dengannya selamanya.


Tapi kalau harus berpisah dalam waktu dekat ini dia juga merasa sulit,meskipun beberapa waktu yang lalu itu untuk alasan menjaga Cello.


"Bagaimana ayah?",tanya Gavin memecah keheningan dimeja makan itu.


Bagaskara menyandarkan tubuhnya kekursi dan menghela nafas dengan berat.


"Entahlah",jawabnya pelan terdengar tidak tau apa yang harus dilakukannya.


Baru sekarang dia merasa tidak bisa mengambil suatu keputusan.


Gavin menatap ayahnya,dia bisa melihat bahwa saat ini ayahnya sedang tidak tau apa yang harus dilakukannya.


"Kenapa ayah terlihat bingung mengambil keputusan?".


"Banyak hal yang sudah pernah kualami aku mungkin pengusaha yang sukses, tapi kamu yang paling tau siapa aku soal menjalani pernikahan,aku bukan suami yang baik untuk bundamu dulu dan aku juga bukan ayah yang baik untukmu,apa itu bisa membuatku berani melangkah kedepan lagi untuk melanjutkan pernikahanku dengan Cinta".


"Apa ayah sudah mengajaknya bicara?".


"Maksudmu siapa?".


"Tentu saja istri kecil ayah lalu siapa apa ayah pikir aku bicara soal Cello",ucap Gavin.


"Sudah beberapa kali aku mengajaknya bicara dan mengatakan bahwa aku akan memberinya kebebasan".


"Lalu apa jawabannya jangan bilang dia tidak mau".

__ADS_1


Bagaskara langsung mengangguk"Dia memang tidak mau,dan jujur saja aku bingung harus seperti apa".


"Apa yang ayah bingungkan,mungkin saja ini kesempatan kedua ayah untuk belajar menjadi suami yang baik".


"Apa benar seperti itu,aku merasa ini terlalu berat aku takut akan menyakitinya nanti seperti aku membuat bundamu menderita dulu".


Kali ini Gavin harus menghela nafas sebelum mulai lagi berbicara pada laki laki didepannya yang disebutnya ayah itu,karena saat ini dia merasa pria itu tidak mirip ayahnya yang biasanya tegas dan keras kepala tapi lebih mirip anak muda yang sedang jatuh Cinta dan takut kehilangan perempuan yang dicintainya.


"Ayah...jangan jadikan kegagalan ayah sebagai patokan untuk ayah takut mencoba lagi, tapi coba ayah jadikan itu sebagai pelajaran agar dimasa depan ayah bisa menjadi suami yang baik untuk istri kecil ayah nanti",ucap Gavin pelan mencoba memberi pengertian kepada ayahnya.


Gavin juga ingin sang ayah hidup normal bahagia dengan menikah lagi meskipun dia tidak menyangka akan mendapat kejutan pernikahan seperti ini saat baru datang tadi.


Bagaskara terdiam mendengar apa yang dikatakan Gavin padanya.


Dia memang ayah Gavin, tapi untuk masalah rumah tangga dia sama sekali tidak mengerti.


Pernikahan pertamanya dengan bunda Gavin tidak berjalan baik dan sedikit banyak itu sangat mempengaruhi pemikirannya sekarang soal pernikahan, meskipun Gavin dan Anandita sudah memberikannya contoh bahwa tidak semua pernikahan akan berakhir buruk seperti pernikahannya dulu.


Tapi perbedaan usianya dan Cinta juga menjadi alasannya untuk bimbang dengan pernikahan ini.


Bagaskara menghela nafas.


"maksud ayah".


"Aku terlalu takut kalau sampai gagal lagi dalam pernikahan ini,bagaimana nanti dengan Cinta,bukankah seharusnya aku melepaskannya sekarang dari pada nanti setelah menyakitinya".


"Ayah tidak bisa memutuskan itu sekarang sebelum mencoba".


"Maksudmu?".


"Kalau nanti ayah gagal lagi mungkin itu memang sudah takdir, tapi coba ayah tanya pada hati ayah apakah saat ini itu yang ayah inginkan terjadi".


"Tapi akan kasihan untuk Cinta karena harus membuang waktunya bersamaku nanti".


Gavin benar benar sakit kepala berbicara dengan ayahnya sekarang tujuan dia bertanya agar ayahnya bisa berpikir tegas bukan malah bingung yang tidak jelas seperti ini.


"Jadi sebenarnya bagaimana perasaan ayah pada istri kecil ayah itu saat ini,apa ayah menyukainya dan ingin melanjutkan pernikahan ini atau ayah hanya bertahan demi dia bisa membantu ayah mengasuh Cello kemarin".


Bagaskara terdiam mendengar itu dan hanya bisa menghela nafas berat.

__ADS_1


"Ayah,apa ayah masih bingung dengan perasaan ayah".


"Ya,sebenarnya seperti itu".


"Kali ini ayah harus tegas dengan diri ayah sebelum ayah menyesal nanti setelah kehilangan dia".


Bagaskara hanya bisa diam mendengar ucapan Gavin,semua ini sangat berat baginya


dan jujur saja dia tidak tau harus bagaimana sekarang.


"Kapan kamu akan kembali lagi keluar negeri?",tanya Bagaskara.


"Mungkin minggu depan dan kami akan membawa Cello bersama kami".


"Secepat itu!",ucap Bagaskara merasa terkejut.


Gavin mengangguk," Kali ini aku kembali hanya untuk menjemput Cello,lalu aku akan kembali kesana sampai aku selesai kuliah nanti".


"Apa kau sudah yakin akan kuliah disana bukankah kau bilang hanya akan pergi selama tiga bulan untuk kursus, kenapa sekarang kau memutuskan kuliah disana dan baru kembali setelah lulus kuliah nanti".


Gavin menatap Bagaskara yang terlihat sedih


hubungan mereka memang sudah menjadi lebih baik dalam beberapa tahun terakhir ini,apa lagi sejak kehadiran Cello hubungannya dan ayahnya menjadi semakin baik,ayahnya berusaha menebus kesalahannya dulu pada Gavin dengan sangat perhatian pada Cello jadi hubungan mereka sangat dekat,Gavin tau pasti berat bagi ayahnya kalau harus berpisah dengan mereka dalam waktu selama itu.


"Aku dan Anandita sudah membicarakan masalah ini dan Anandita sudah setuju,kami pulang kali ini selain untuk membawa Cello juga untuk mengatakan ini pada ayah".


"Ini sangat berat bagiku,karena kalian tidak ada disini".


"Sebelum kami kembali kesini kami juga menghawatirkan itu,tapi setelah apa yang kulihat tadi sekarang aku tidak khawatir lagi tentang ayah".


"Maksudmu?".


"Kali ini aku bisa tenang pergi meninggalkan ayah, karena akan ada istri kecil ayah yang menemani ayah disini dan mungkin sebentar lagi aku akan dapat khabar baik dari ayah bahwa aku akan punya seorang adik kecil".


Bagaskara terdiam mendengar itu.


"Jadi sebelum kami pergi lagi sebaiknya ayah meresmikan pernikahan ayah dengan istri kecil ayah lagi".


"Untuk apa bukankah kami sudah menikah".

__ADS_1


"Untuk membuat penghulu ingat bahwa ayah dan istri kecil ayah sudah menikah,karena aku yakin penghulunya juga sudah lupa pernah menikahkan ayah dulu".


__ADS_2