Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
62.Bicara.


__ADS_3

Gavin hanya diam menatap wajah Anandita yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.


Disentuhnya lembut bibir Anandita yqng sedikit bengkak karena ciuman panas mereka barusan.


"Aku pasti akan sangat rindu kamu nanti Yank"ucap Gavin pelan dengan menelungkupkan wajahnya dipundak Anandita.


Anandita membelai lembut kepala Gavin tanpa mengatakan sepatah katapun menanggapi ucapan Gavin barusan.


Dadanya mulai terasa sesak,tapi dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan airmatanya yang hampir keluar.


Lama mereka hanya diam dalam posisi seperti itu,pelan pelan setelah dirasa ganjalan didadanya mulai berkurang Anandita mencoba berbicara senormal mungkin.


"Vin sebaiknya kita makan sekarang,nanti kalau sudah dingin sop ayamnya tidak akan enak".


Tapi Gavin tidak menjawab tetap masih dalam posisi tadi,bahkan sekarang,dia sudah merengkuh tubuh Anandita erat dalam pelukannya.


Anandita dapat merasakan nafas panas Gavin diselangka lehernya.


"Vin.."


Dengan pelan Anandita mencoba mengangkat kepala Gavin agar pandangan mereka bertemu.


Tapi,Gavin masih belum mau memindah kepalanya.


"Vin...,berhenti seperti ini kau berat!".


Perlahan Gavin mengangkat kepalanya dan menatap wajah Anandita dalam diam.


Anandita mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh wajah tampan Gavin dan membingkainya dengan kedua tangannya.


"ILove You"ucap Anandita dengan menatap wajah Gavin.


"Ilove YoToo,Yank"balas Gavin lalu mengambil kedua telapak tangan Anandita yang berada diwajahnya dan membawanya kebibirnya.


Dikecupnya lama kedua telapak tangan Anandita dengan mesra.


"Aku akan pergi besok siang kekota J,untuk ikut lomba selama satu bulan".ucap Gavin dengan menatap wajah Anandita.


Meskipun sudah tau tapi saat mendengarnya sendiri ternyata dada Anandita tetap sesak,sekuat apapun dia menahan air mata itu tetap keluar tanpa bisa dicegah.


Sebelum Gavin mengucapkan apapun Anandita langsung menghapus airmata yang mengalir dipipinya dengan punggung tangannya.


"I..ini..buk..bukan...Apa..apa..Hik,a..ku..aku..baik..baik saja..Vin..Hik.."


Anandita berusaha menghapus air matanya yang semakin deras mengalir dikedua pipinya kasar dengan punggung tangannya,dia tidak ingin Gavin berpikir bahwa dia tidak rela ditinggal pergi oleh Gavin besok.


Melihat itu Gavin langsung menggenggam kedua tangan Anandita yang dipakainya untuk menghapus airmatanya.

__ADS_1


Dengan pelan dihapusnya airmata Anandita dengan ujung jarinya.


"Aku sedih melihatmu seperti ini"ucap Gavin.


"A..aku baik..baik aja..Hik..!"


"Tapi aku juga bahagia karena kau berarti merasakan apa yang aku rasakan".


"Mak..makaudmu?"


"Ssst..!"Gavin menarik Anandita kedalam pelukannya,mendekapnya erat tanpa mengucapkan sepatah katapun,sampai dirasa isak Anandita reda baru Gavin melepas pelukannya.


"Ayo kita makan!"ajak Gavin menarik Anandita untuk duduk dikursi makan.


"Aku nggak lapar Vin!"Anandita mencoba menolak saat Gavin mendorongkan piring berisi nasi dan lauk kedepannya.


"Sini,buka mulutmu!"perintah Gavin dengan mengangsurkan sendok berisi nasi kedepan mulut Anandita menyuruhnya untuk makan.


Dengan terpaksa Anandita membuka mulutnya menuruti perintah Gavin setelah nasi dipiringnya habis baru Gavin berhenti menyuapinya.


"Bagaimana enakkan?"tanya Gavin.


Anandita hanya mengangguk,karena sebenarnya dia tadi benar benar lapar sampai Gavin mengatakan akan pergi membuat nafsu makannya hilang.


"Sekarang ayo kita bicara!"Gavin mengajak Anadita untuk berpindah keruang depan yang ada ruang tamu mungil disana.


Dengan patuh Anandita melingkarkan tangannya ketubuh Gavin.


"Kapan kau akan berangkat"tanya Anandita dengan membenamkan wajahnya kedada Gavin.


"Besok sore aku berangkat"jawab Gavin dengan menempelkan wajahnya dipuncak kepala Anandita.


"Kau akan sering menelponkukan?"tanya Anandita mendongakkan wajahnya menatap kearah Gavin.


"Aku tidak janji,tapi kalau ada waktu aku pasti akan menelponmu".ucap Gavin,dengan membelai wajah Anandita yang menatapnya dengan lembut.


"Aku pasti akan bosan selama kau tinggal nanti",ucap Anandita dengan mengerucutkan bibirnya membuat Gavin gemas,lalu mengecup bibir sang istri yang sedang mengerucut itu.


"Cup".


"Gavin!!,kebiasaan deh,aku lagi serius bicara!".


"Aku juga serius Yank,nanti selama sebulan disana aku nggak bisa nyentuh kamu itu berat banget tau Yank!"


"Kamu!,dasar otak mesum,tidak bisakah sebentar saja bicara serius?"ucap Anadita dengan menjauhkan tubuhnya dari Gavin.


Tapi belum sempat lepas Gavin sudah menarik tubuh Anandita untuk kembali menempel padanya.

__ADS_1


"Vin!!"


"Sini,besok aku sudah nggak bisa lagi meluk kamu kaya ini Yank".


"Tapikan nanti kalau pulang tetap bisa meluk lagi".


"Lama Yank,atau aku batalkan aja ya besok?"ucap Gavin yang langsung membuat mata Anandita membulat karena terkejut.


"Kamu!,"


"Yank pisah sama kamu itu berat banget tau,tapi kamu suruh dekat aku aja susah,kamu tega banget!"Gavin langsung memalingkan wajahnya membuat Anandita jadi merasa bersalah dibuatnya.


"Vin,bukan begitu maksudku,aku juga sangat berat menghadapi perpisahan besok tapi kau tidak pernah serius saat bicara kau hanya memikirkan yang lain dari tadi".terang Anandita.


"Kalau bicara kan bisa aja nanti ditelpon, tapi kalau mau peluk peluk kamu nggak bisa Yank selama disana".


"Jadi aku harus bagaimana?".


"Sini!"Gavin menarik Anandita masuk kedalam pelukannya.


"Jangan tolak aku Yank"ucap Gavin dengan menyerusukkan wajahnya keceruk leher Anandita dan mulai menyesap kulit leher mulus Anandita,sampai meninggalkan jejak keunguan.


"Vin..!"


"Sssst"Gavin menempelkan telunjuknya kebibir Anandita.


Anandita menatap Gavin yang menatap kearahnya dengan pandangan mulai berkabut dengan gairah.


"Yank aku ingin sekarang",ucap Gavin parau.


Anandita hanya mengangguk menjawab permintaan Gavin yang mengiginkan dirinya.


Melihat Anadita sudah memberinya lampu hijau Gavin tak menyia nyiakan itu.


Ditariknya tubuh Anandita untuk duduk diatas pangkuannya,lalu segera ditariknya tengkuk Anandita dan langsung membenamkan bibirnya kedalam mulut Anandita dengan ganas,menjelajah setiap inci bagian mulut Anandita tanpa meninggalkan celah sedikitpun membuat Anandita harus mendorong Gavin untuk bisa bernafas.


dengan nafas terengah engah Anandita menatap Gavin.


"Ilove you"ucapnya parau.


Mendengar apa yang diucapkan Anandita Gavin langsung mengangkat tubuh Anandita ala bridal style kedalam kamar diVila itu.


Sampai di kamar direbahkannya tubuh Anandita diatas ranjang,lalu Gavin mulai melepaskan seluruh pakaian yang melekat ditubuh mereka berdua,setelah itu Gavin kembali menciumi seluruh tubuh Anandita,wajah leher,dada dan bagian bagian sensitif lainnya,meninggalkan banyak jejak cintanya pada tubuh Anandita,seolah dia ingin memberi cap bahwa Anandita adalah miliknya.


******* dan erangan terdengar dari mereka berdua secara bergantian,yang sepertinya ingin meluapkan semua rasa yang mereka rasakan saat ini,setelah pergumulan panjang dengan satu hentakan akhirnya mereka berdua sama sama mencapai puncak bersama sama.


Dengan nafas terengah engah dan tubuh basah oleh keringat,Gavin menurunkan tubuhnya dari atas tubuh Anandita.

__ADS_1


"Makasih Yank"ucapnya lalu menarik tubuh polos Anandita masuk kedalam pelukannya untuk beristirahat.


__ADS_2